MIMPI SANG PUTRI (III)

Oleh : Muhammad Akbar Ali

DARI luar Mushola terlihat kilauan matahari yang menyengat. Bak dalam suasana perang, dari pancaran sinarnya, perlahan ditangkis oleh dedaunan pohon-pohon yang berjejer dengan apik teratur.

Pohon itu seakan-akan memberi isyarat kepada kami, melalui udara segar yang diantarkan oleh angin melambai-lambai ke wajah dengan halus.  Sejuk. Sejuk  rasanya.

Sedang di bagian kanan sekitar 50 meter jaraknya, nampak puluhan mahasiswa sedang berjalan menuju mushola. Ada yang dua mahasiswa bercengkerama penuh ria sambil mengayunkan langkah, ada yang fokus berjalan sendiri tidak keluar sedikitpun suara atau gaya berbicara darinya dan terkesan sedang memikirkan sesuatu.

Mungkin tugas yang menumpuk dari dosen,  uang yang mulai menipis,  atau memikirkan umat yang semakin terpuruk.

Ini telah menjadi pemandangan rutin,  sesaat sebelum Sholat Dzuhur dimulai.

Adzan berkumandang.  Suara adzan yang merdu mengelilingi, beredar,  menghampiri tiap-tiap pelosok kelas perkuliahan. Menghentak setiap aktivitas yang ada,  dan seolah otomatis menghentikan aktivitas mereka beralih menuju mushola untuk berjamaah menunaikan ibadah bersama.

Aku selepas menutup kajian, mengajak mereka untuk merapikan, membersihkan ruang mushola. Agar mahasiswi ataupun ibu dosen yang datang beribadah, menemui kenyamanan dan ketenangan didalamnya. 

Suara iqomat terdengar, dengan volume sedikit pelan adzan dari awalnya. Adalah pertanda Sholat Dzuhur akan segera dimulai. 

Dengan penuh ketenangan, kami menunaikan Sholat bersama. Setelahnya, terlihat satu per satu ada yang meninggalkan mushola,  ada yang mengarah ke depan dan berhenti pada bagian teras, kemudian cerita bersama,  sedang lainya mengeluarkan Mushaf dari dalam tas lalu dibacanya dengan suara pelan.

Aku melaksanakan sholat Rawatib dua rakaat,  lalu berdoa. Doa yang lumayan panjang. Yang penuh rahasia misterius dengan aroma pengharapan besar masa depan, yang salah satu doa itu tak terukur oleh rasio akal.  Allah yang mengetahui.  Aku hanya berdoa dan yakin.

Kuraih handphone dari dalam tas mungil itu.  Kuarahkan kontrolnya pada nomor kontak. Hingga sampai pada nama Maryam.  Aku menelpon maryam.  Niatku untuk memberinya motivasi berupa nasehat agar ia tabah dan ikhlas atas kejadian yang menimpanya.

Maryam tidak mengangkatnya.  Aku mencoba kembali. Namun lagi-lagi tak ada respon darinya. Mungkin ia sedang meredahkan suasana. Atau handphone miliknya tak berada pada area dekat darinya.

Karena maryam pasti akan mengangkat telpon jika diketahuinya adalah aku yang memanggil. Aku menyahut atas pengalaman selama ini.

Aku menyimpan handphone.  Kuletakkan kembali pada tas doraemon kesayangan.  Ya.  Aku sengaja membeli tas bergambar doraemon.

Selain gemar menonton filmnya,  aku sangat tertarik pada kepribadian doraemon yang sangat visioner dan optimis serta banyak cara yang dimiliki saat berhadapan masalah.  Ada-ada saja solusi yang ia berikan melalui sakua ajaibnya.

Aku teringat salah satu kalimat bijaknya saat nobita dirudung kesedihan.  Ia berkata,  "Jangan terlalu larut dalam kesedihan,  karena itu hanya akan membuatmu semakin lemah".

To Be Continued

*Penulis adalah Mahasiswa  Agribisnis, Halu Oleo University.

Sumber:

Fb: Muhammad Akbar Ali

Post a Comment

0 Comments