MIMPI SANG PUTRI (II)

Oleh : Muhammad Akbar Ali

AKU menyeka keringat yang membahasah pada jidat kiri. Saat aku berjalan kaki,  50 meter minimal, maka siap-siap air keringat itu menyelinap, mengalir di wajah yang sedikit bertumbuh jerawat muda.  Maklum,  usia remaja selalu diwarnai penyakit unik ini. 

Kuletakkan sepatu kecil pada rak tersedia berdiri tegak bagian kanan depan mushola. Anak-anak  terlihat bercengkrama satu sama lain.  Sepertinya mereka sedang menceritakan sesuatu.  Aku menyela, menyapa dengan bergiliran.

Jumlahnya 4, dari keseluruhan terdapat 5. Ternyata hari ini adalah maryam yang tak hadir.  Afwan, maryam sedang berhalangan.

Ia harus pulang ke kampung,  sebab ayahnya meninggal dunia. Dia menitip pesan agar diizinkan dalam waktu seminggu,raiqah menyampaikan amanah. 

Innallillahi,  Wainnaillaihy Rajiun. Ini pembelajaran untuk kita semua. Mengingat kematian secara berkala. Agar dijauhkan dari cinta dunia. Dunia yang fana. Melalaikan. 

Mudah-mudahan maryam diberi ketabahan.  Selepas ini,  aku akan menelponya. Kembali pada kebiasaan.  Sebelum masuk pada materi baru, selalu mengevaluasi dalamnya pemahaman mereka. Mengukur penguasaan materi yang aku berikan minggu lalu.

Satu per satu menjawab dengan sempurna .  Sesuai dengan ilmu pemberian pekan kemarin. Namun ada satu yang membuatku kagum.  Dia adalah raiqa.

Raiqa memberi jawaban,  bukan hanya sebatas ilmu yang diajarkan,  tetapi ia menambahkanya dengan bacaan yang ia pelajari.  Raiqah adalah anak yang tekun.  Belajar dengan keras sampai menguasai yang tak dipahami adalah prinsipnya. Membaca, menulis dan diskusi produktif adalah hobinya.

Maka layak kecerdasan dan kekayaan wawasan ia miliki. Dan tidak mengherankan teman sejawatnya ia diberi julukan akhwat mustanir.  Artinya perempuan cerdas. 

Aku meletakan laptop diatas meja.  Lcd berada pada bagian kiri tembok. Tembok yang menjadk wadah pancaran sinar lcd.  Ini cara sederhana dan cepat ketimbang menyediakan papan untuk menahan sinar putih lcd.

Dalam waktu satu jam,  tidak terasa berlalu.  Pergi meninggalkan tanpa menyapa.  Aku menutupnya dengan seruan motivasi untuk memperkuat konsistensi iman. Agar mutiara isitiqomah selalu mengalir ditiap denyutan jantung hingga hari penjemputan nanti.

Saat kereta kencana datang seketika. Kesiapan untuknya, jiwa ini telah bersedia. Sesungguhnya aku teramat bangga kepada mereka.  Ini karena semangat mereka yang tak pernah tumpul berdakwah.

Intinya semua kegiatan mereka tidak pernah menyela. Dalam kesibukan apapun.  Kecuali benar-benar mendesak dan sangat penting,  semisal kedukaan yang dialami mariam. Selainya, mereka tidak tertinggal pula prestasi kuliah. IPK 4,0 merupakan kepunyaan mereka pada tiap semesternya.

Tak sampai disitu,  kegiatan lomba intra kampus hingga kompetensi nasional juga mereka taklukan.  Sangat membanggakan bukan. Selain raiqa dengan julukan akhwat mustanir,  3 lainya bernama azzahra, salsabila dan Fitri. 

Mereka bertiga belum sampai diberi julukan.  Mungkin belum saatnya. Mereka masih berada di bawah ketekunan Raiqah.  Tapi itu bukan hal penting untuk menjadi perhatian.

Amanah yang ditunaikan baik, pergerakan dakwah yang masif serta belajar yang kuat merupan janji dan arah gerakan.

Yaa,  Janji.  Janji kepada Tuhan atas kesempatan berada didunia. Itu petuah yang mereka ikrakan. Sebab mereka percaya, denganya akan diperolehnya status manusia terbaik. Tuhan sendiri memberi isyarat, Al-Imran 110.

Tidak terbuai pada apapun bentuk bisikan melayukan langkah, terlebih hal pada julukan tadi.  Itu hanya sebagai hiasan semata yang tidak lebih tinggi nilainya ketimbang amalan senyum kepada teman.

To be Continued...

*Penulis adalah Mahasiswa Agribisnis, Halu Oleo University.

Sumber:

Fb: Muhammad Akbar Ali

Post a Comment

0 Comments