Merdeka adalah Meikarta

Oleh: Ummu Yazid

Meikarta itu merdeka untuk membuat kota baru. Juga merdeka untuk membuat masyarakat baru. Merdeka membuat segala fasilitas komplit teranyar. Merdeka menghias udara dengan gedung-gedung pencakar.
.
Kalau ingin tahu, berikut ini salinan profil Meikarta yang viral di sosial media. Namanya Kota Meikarta. Pemiliknya Lippo Group. Pembangunannya direncanakan mulai tahun 2014. Letaknya di Cikarang Selatan, Bekasi, Jawa Barat. Dilintasi jalur lintasan Kereta Api cepat Jakarta-Bandung. Luas wilayahnya adalah 2.200 Ha/22 juta ㎡. Fasilitasnya perumahan (400 ribu Unit). Kapasitas penghuni tetapnya mencapai 2 juta jiwa. Harga hunian di Meikarta minimal 400 juta/unit. Siap huninya dimulai tahun 2018. Harga tanah di Meikarta Rp. 12,5 juta/㎡. Gedung pencakar langit berjumlah 100 Unit.
.
Fasilitas Meikarta diantaranya 7 pusat perbelanjaan, rumah sakit Internasional, pusat keuangan Internasional, 10 hotel Internasional berbintang lima, Perpustakaan Nasional, opera theatre and art centre, 100 SD Internasional dan Sekolah Nasional plus, serta 50 SMP, SMA Nasional, dan Internasional.
.
Next... Merdeka itu juga bisa dimaknai bebas. Jadi, Meikarta itu bebas dibangun tanpa perlu repot mengurus perizinan dari Pemkab Bekasi, apalagi Pemprov Jabar. Pun bebas memperjualbelikan dengan iklan yang empuk dan membujuk. Bebas diisi oleh orang-orang kaya. Bebas juga dari kalangan ekonomi bawah, boro-boro gelandangan dan tuna wisma.
.
Meikarta itu sosialita. Hanya orang kaya yang bisa punya. Orang miskin ya bye-bye saja. Menghuni Meikarta, akan membuat kalangan elit (berharta) merdeka dari yang elit (ekonomi sulit), apalagi yang rumah tangga pailit.
.
Meikarta itu eksklusif. Jika konglomerat bermukim di sana, jelas efektif. Yang berlabel melarat, siap-siap saja untuk menjadi penonton pasif. See, kesenjangan sosial jelas makin masif.
.
Meikarta itu prestisius. Wajar, karena dibangun dengan sangat serius. Serius menampung warga ber-uang, bahkan yang dari negara seberang. Warga pribumi dalam negeri, tak bisa suka-suka datang.
.
Konon, Meikarta menggenapkan kesuksesan kereta cepat Jakarta-Bandung. Jadi, si pemodal bisa semakin untung. Namun beribu sayang, kelengkapan dan kecanggihan fasilitasnya tak disajikan bagi yang isi kantongnya buntung.
.
Lalu... Merdeka itu sudah mencapai angka tujuh puluh dua. Dari sisi usia, tentu saja negeri kita sudah tua. Meski tua, tua-nya adalah tua-tua keladi. Jadi, makin tua makin ter-neoliberalisasi.
.
Merdeka itu saat upacara Detik-detik Proklamasi di Istana. Istana penguasa apa istana boneka ya? Atau istana penguasa boneka? Entahlah. Yang pasti, penghuni istana antara ada dan tiada soal Meikarta. Meikarta sendiri kemudian ditengarai sebagai pengganti proyek reklamasi Teluk Jakarta yang terkendala. Terlebih, pasca sang penista Al-Quran kalah dalam Pilkada DKI Jakarta, dimana rakyat tersadar akan ide “Haram Pemimpin Kafir”. So, pembangunan Meikarta memang sudah full niat banget khas neoliberal yang membabi buta.
.
Sekali lagi pekikkan merdeka! Karena keberadaan Meikarta adalah secuil potret rakyat yang telah merdeka. Yang satu, merdeka membuat “negara dalam negara”. Yang satunya lagi, “merdeka” dari pengurusan yang merupakan wujud tanggung jawab penguasa. Nama lainnya, golongan rakyat yang kedua ini tidak sepenuh hati diurus negara. Minta fasilitas sedikit langsung disebut “rakyat manja”. Nasib si rakyat, makhluk yang hidup sebatang kara di negeri sendiri yang kaya. Sebaliknya diperas melalui pajak senantiasa.
.
Sementara pendiri dan pemilik Meikarta adalah salah satu dari 10 orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes 2016; yang usut punya usut, yang bersangkutan dikabarkan tak punya NPWP. Jadi ia punya a very big project, tapi tidak pernah bayar pajak, karena tak punya nomor wajib pajak, malah terkategori orang yang mendapat pengampunan pajak (tax amnesty). Bagaimana itu coba? Sesat pikir atau cacat logika?
.
Kalau begitu, apa kabar hari merdeka? Yap, merdeka adalah Meikarta.

Sumber:

Fb: Ummu Yazid

Post a Comment

0 Comments