MENYALAKAN API LITERASI

RemajaIslamHebat.Com - Orang bijak pernah bilang: jika kau ingin hatimu lapang, terang benderang dan jauh dari kesedihan, lakukanlah perjalanan, bersilaturahim lah. Temui lah orang-orang baru!

Hal ini yang akhir pekan lalu saya lakukan bersama istri dan anak-anak. Melakukan perjalanan sekaligus silaturahim.

Kali ini tujuannya adalah Gringsing. Salah satu kecamatan di Batang Jawa Tengah. Saya nganter istri tercinta menemui sahabatnya di dunia maya. Mereka sudah lama berteman, mungkin lebih dari 7 tahun, tapi baru kali ini bertemu.

Namanya tak asing lagi ditelinga saya, karena saking seringnya istri menyebut namanya dalam percakapan kami.

Saking penasaran, pernah saya ngulik percakapan mereka lewat sms. Isinya apalagi kalau bukan soal curhatan ibu-ibu...

Saya tidak ingin menceritakan sahabat istri saya ini, yang menurut saya luar biasa. Biar Dek Wulan ajah nanti yang cerita, kalau pas lagi selow.

Saya tertarik dengan suaminya sahabat  istri saya. Loh kok?

Tenang, saya masih pria sejati, bray... Saya tertarik dengan ketekunan dan idealismenya menyalakan api literasi di desa kecil, tempat mereka tinggal.

Saya memanggilnya mas Irkham, nama lengkapnya Agus M Irkham. Doi penulis dan pegiat literasi.

Di rumahnya yang sederhana di desa kecil ini, mas Irkham menyediakan buku bacaan, utamanya untuk anak-anak. Hanya ada satu rak buku anak yang tertempel di dinding, dan dua rak buku campuran. Koleksinya tidak bisa dibilang lengkap. Namun niatnya untuk menumbuhkan minat baca, layak diacungi jempol.

Buku masih menjadi barang langka dan berharga di desa ini. Buku, apalagi buku bacaan selain buku pelajaran sekolah, nyaris tak terbeli. Bukan hanya karena minat baca yang rendah, tapi juga karena rendahnya daya beli.

Setiap kali mas Irkham keluar kota, oleh-oleh yang dinantikan anak-anaknya dan teman-temannya adalah buku.

"Toko buku terdekat dari sini ada di Pasar Weleri," ujar mas Irkham. Jarak ke toko buku sekitar 10 kilometer, itu pun jangan dibayangkan seperti toko buku di Jakarta.

Perjuangannya menumbuhkan kegemaran membaca pada anak tidak hanya berhenti di situ. Ia bersama dengan istri, setiap Jumat melakukan kegiatan "reading aloud" di PAUD dekat rumahnya.

Ia dan istri bergantian membacakan buku cerita di depan anak-anak PAUD.

Kadang anak-anak PAUD tadi ketagihan, nangis minta diantar orang tuanya ke rumah mas Irkham, minta dibacakan cerita lagi, kadang membacakan cerita yang sama karena tidak ada lagi buku cerita yang baru.

Anak-anak ini haus akan cerita, haus akan buku, haus membaca, haus akan pengetahuan. Tidak semua orang tua mengerti dan peduli akan kebutuhan itu.

Dan mas Irkham bersama istri mengerti dan peduli akan kebutuhan itu. Ia melakukannya dengan jalan keikhlasan di tengah keterbatasan.

Saya yang selama ini mengaku dekat dengan dunia buku dan tulis menulis, tersentil dengan langkah yang ditempuh mas irkham dan istri. Tidak semua penulis punya jiwa sosial semacam itu (saya misalnya)

Tidak semua penulis mau repot-repot ngajar di PAUD desa, tanpa bayaran apalagi prestise (saya lagi contohnya)

Tidak semua penulis rela rumah mereka jadi rumah publik. Dimana anak-anak bebas keluar masuk. Padahal ngurus anak sendiri aja sudah mabuk (gimana kalo contohnya saya lagi? )

Inilah yang tak banyak ditemui: gabungan antara kecerdasan, kepedulian, dakwah dan keterbatasan. Mas irkham dan istri meramu semua itu dengan manis.

Untuk kawan-kawan yang ingin melestarikan kepedulian ini, monggo dipersilakan untuk menyalurkan koleksi bukunya yang sudah usang tidak terbaca. Meskipun saya yakin, mas Irkham tidak pernah mengharapkan bantuan.

Barangkali buku yang kita sumbangkan, bisa menjadi estafet amal jariyah. Kelak menerangi kubur dan menjadi teman dalam kesepian.[]

Penulis : Didik Darmanto

Sumber:

Fb: Didik Darmanto

Post a Comment

0 Comments