Menerima Info dengan Proses Berpikir

RemajaIslamHebat.Com - Saya seringkali menerapkan metode ini kepada anak-anak, untuk menanamkan pola berpikir yang benar sejak kecil. Mengulang-ulang informasi sembari menghadirkan faktanya lalu mengajak mereka mengkaitkan info dengan fakta dengan cara berdialog. Namun baru kali ini saya menemukan sebuah proses talqiyan fikriyan sederhana yang ternyata telah menjadi pola berpikir benar pada seorang anak berusia 7 tahun lebih 9 bulan. Muhammad Mujahid Fisabilillah Leboe namanya. Kelas  2  Madrasah Ibtida’iyyah di sebuah Kampung bernama Sawah Tajur.

Suatu pagi ketika ia menemukan PRnya belum dikerjakan, serta merta ia pun meneliti soal-soalnya. Soal ditulisnya di buku tulis. Kemungkinan guru yang mendiktekannya. Sekilas, saya melihat  5 soal.
Ia bertanya, “Ummi apa artinya rendah hati.”
Saya yang juga sedang menyiapkan buku-buku, karena  jadwal pagi ini ke sebuah Sekolah Tahfizh, menjawab tanpa menoleh, “Tidak sombong.”  Biasanya kerendahan hati kan berdampingan dengan tidak sombong.
“Oh bukan itu maksudnya.” kata Muhammad.
“Jadi begini maksudnya, Rudi meminjam bola kepada Ali. Rudi membuat bola itu rusak. Dengan rendah hati Ali memaafkannya.” Demikian ia menjelaskan fakta pertanyaannya.

Saya lalu menoleh agak tercengang. Tidak ada penjelasan itu di bukunya. Di buku tulis hanya pertanyaan-pertanyaan saja. Mungkin gurunya telah menjelaskan di sekolah. Muhammad telah mampu menangkap maksud penjelasan gurunya.
Nah, saya telah menemukan contoh talqiyan fikriyan. Muhammad tahu, jawaban saya salah karena tidak sesuai faktanya. Kemudian ia mencari contoh fakta yang tepat untuk menunjukkan maksud pertanyaannya. 

Akhirnya saya mengatakan “Oh berarti itu yang dimaksud rendah hati adalah lapang dada, tidak merasa sempit atau berat melakukannya.”  Jawaban spontan sambil berusaha sedikit serius memikirkan faktanya. Barangkali itulah keterbatasan saya, tidak seperti Bapak Oleh Solihin yang menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian dengan langsung menelusuri KBBI online (Kamus Besar Bahasa Indonesia yang online di android).

Selanjutnya Muhammad terlihat cukup puas, dan menuliskan di jawabannya. Oh berarti dia setuju dengan jawaban saya karena sesuai dengan fakta yang dipahaminya. Luar biasa .

Saya memang baru menemukan fenomena talqiyan fikriyan pada seorang anak kecil yang setiap berpikir selalu melakukan proses berpikir yang benar. Ini sangat jarang terjadi. Yang kita temui, bahkan kebanyakan anak yang sudah SMA pun tidak melakukannya. Akhirnya ilmu-ilmu hanya diterima sebagai dogma saja. Inilah penyebab kemalasan berpikir pada generasi muda. Telah terjadi kesalahan dalam proses pendidikan di usia dini serta pendidikan dasar. Akhirnya kita pun kehilangan kemampuan seorang anak untuk menjadi mujtahid dan Ulama di usia dewasanya.
Wallaahu A’alamu bish showab.[]

Sumber:

Fb: Lathifah Musa

Post a Comment

0 Comments