Mendidik Anak Lelaki Dengan Serius

Oleh: Nurliani

BISMILLAH, ingin sekali menulis ini sejak lama. Bagi ibu, diberikan amanah anak laki-laki tentu memiliki rasa dan kebahagiaan tersendiri. Terasa istimewa. Karena memiliki anak laki-laki akan senantiasa "dekat" dengan ibu.

Beberapa kisah pilu seorang istri, para ibu yang teramat sulit berbagi peran dalam rumah tangga bersama ayah, saat mengasuh dan mendidik anak, bukan lagi cerita novel belaka. Terlalu banyak fakta, cerita, hingga mungkin hadir disekitar kita.

Suami, ayah ikut bertanggung jawab dan mau berperan terhadap urusan RT, keluarga dan anak termasuk jarang, sedikit. Mungkin dulu demikian pola asuh anak laki-laki yang kini telah menjadi seorang pria dewasa dan berkeluarga itu.

Menjadi aneh, janggal, unik, bahkan terasa rendah diri, kalau ikut membantu urusan pekerjaan rumah semasa kecil. Jarang yang dilibatkan, kecuali jika keluarga itu tidak memiliki anak perempuan. Ternyata dampaknya sangat panjang dan ini berakibat ketika kelak anak laki-laki ini berkeluarga.

Cobalah tengok, tidak usah sampai menuntut terampil seperti perempuan. Cukup empati, bisa, memahami saja urusan rumah tangga teramat jarang. Bahkan menjadi kejadian langka.

Kini saatnya wahai ibu, buat gagasan dan pola pendidikan baru. Bahwa anak laki-laki mu, pun harus memahami dan bisa melakukan pekerjaan rumah tangga. Berikan mereka tanggung jawab. Latih anak laki-laki agar ikut berperan. Jangan jadikan ini sekedar sambilan. Karena karakter diperlukan pembiasaan.

Urusan rumah tangga itu banyak, bukan sekedar bisa memasak. Jadikan pekerjaan rumah tangga yang seabreg itu juga sebagai kemampuan dan ketrampilan yang dimilikinya. Agar anak-anak laki kita terbiasa dan mampu mengerjakannya. Takkan pernah kita tahu, nanti kemana dan dimana anak laki-laki ini terhempas, dibelahan bumi yang mana dalam mengemban cita dan tugas laksananya.

Abah Ihsan, guru kami pernah bilang saat pelatihannya. Anak laki-laki dan perempuan perlu di didik dan dilatih dengan beberapa tanggung jawab dan ketrampilan dasar rumah tangga yang sama. Karena saat mereka berkeluarga nanti, baik sebagai suami dan istri akan saling bekerja sama. Melengkapi. Walaupun tentu masing-masing memiliki kekhas-an tugas dan tanggung jawab khusus lainnya.

Kini saatnya wahai ibu, mendidik anak laki-laki untuk empati dan mampu berbahasa baik. Ini demi masa depannya kelak. Anak laki-laki akan menjadi pemimpin, suami dan ayah. Tugas mereka tidak mudah.

Bayangkan, kalau anak laki-laki yang kita didik dengan baik ini. Mampu empati dan asertif dalam bersikap dan berbicara. Tutur kata bahasanya halus terjaga. Tidak sekedar kata manis tanpa makna. Namun penuh wibawa sedemikian rupa.

Bayangkan, kalau anak laki-laki yang kita didik dengan serius ini. Tidak hanya piawai dalam urusan mencari nafkah, bisnis maupun pekerjaan. Tetapi mampu menghormati dan menjaga perasaan istri, hingga tak sembarang bicara serta berperilaku semena.

Bayangkan, kalau anak laki-laki yang didekat kita hari ini. Kita ajarkan cara berbicara yang baik dan benar. Lisannya dekat dengan perkataan sopan serta menjaga. Hingga tak sekedar mampu ia beretorika saat berkuasa. Dijaganya perasaan istri dengan jauh dari perkataan hina lagi nista.

Bayangkan, kalau anak laki-laki yang kita didik dengan gagah ini. Mampu memimpin negeri, begitu piawai serta profesional dalam urusan pekerjaan. Namun tetap terampil dan sigap saat mengerjakan urusan sepele dalam rumah tangganya. Membantu istri. Tanpa sungkan, dan rendah diri. Hingga menjadi teladan baik bagi anak-anaknya.

Bayangkan, kalau anak laki-laki yang kita didik hari ini. Berpegang teguh dalam urusan agama nya, mengikat diri dengan ilmu senantiasa. Menghindarkan diri dari berucap dan berlaku keras juga kasar. Hingga rasa khawatir, keluarga tercerabut berkah, bukan lagi menjadi isu utama.

Bayangkan, kalau anak laki-laki yang kita jaga hari ini. Tidak sekedar mampu menjaga diri dan kehormatan. Hingga sungkan berlaku dekat dengan kemaksiatan. Karena ia memahami, menyakiti hati istri seperti memberikan tangisan bagi ibu dan saudari perempuannya.

Sungguh ini banyak terjadi. Jika hari ini laki-laki ingin memimpin perusahaan, pemerintahan. Mereka harus dan mau ikut serta dalam pelatihan, training, belajar skill usaha, teknis menyangkut urusan pekerjaan, perihal kepemimpinan/management. Bahkan jika perlu belajar dengan berbiaya yang tidak murah, cukup mahal. Untuk agar piawai dalam urusan itu semua.

Namun, kebanyakan Laki-laki sedikit sekali yang mau belajar bagaimana berperan dan mencari tahu cara menjadi pemimpin baik serta shalih bagi keluarganya. Padahal tanggung jawab dalam keluarga itulah yang menjadi awal mula memberikan kebaikan dan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat.

Demikian pelik persoalan hari ini, cukuplah wahai ibu. Mendidik secara serius dan usaha paripurna anak-anak lelaki kita. Agar Allah berikan kesempatan gemilangnya generasi peradaban, karena ada campur tangan ibu yang berjibaku tiada kenal lelah. Kecuali hanya karena ingin mendapat ridha Allah. 

Semoga Allah berikan kekuatan para ibu, dalam mendidik anak laki-laki menjadi shalih seperti contoh nyata di Al quran, dalam dialog indah Nabi Ibrahim dan Ismail  :
(QS Ashaffat 37 : 102) "Wahai anakku, sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?"

Ismail menjawab, "wahai Ayahku, tunaikanlah apa yang telah (Allah) perintahkan kepadamu. InsyaAllah akan kau dapati aku termasuk orang-orang yang sabar."

Anak kita, takkan mungkin diperintahkan Allah sampai sejauh Ismail. Namun yakinlah, ketika ibu mendidik anak laki-laki dengan paripurna hanya mengharap keridhaan Allah. Tiada yang mustahil, kelak anak laki-laki yang shalih akan hadir dalam keluarga kita, insya Allah.

Nurliani
Ibu dari 1 anak laki-laki

Post a Comment

0 Comments