MENATA ULANG PARADIGMA PENDIDIKAN TINGGI

Oleh: drg.Nurus Sa'adah

PENDIDIKAN tinggi kembali diuji untuk menghasilkan sosok-sosok intelektual sholih dan menjadi problem solver permasalahan  rakyat dan bangsa. Tidak berlebihan memang, karena sudah sewajarnya tingkat pendidikan elit ini menjadi harapan, sebuah tempat yang tidak bisa dinikmati semua anak bangsa dengan mudah.

Wajah suram kualitas pengenyam pendidikan tinggi masih tak kunjung sirna. Dari masalah pengguna narkoba ternyata pelajar dan mahasiswa tercatat menjadi pengguna tertinggi. Kota pelajar DI Yogyakarta tercatat menempati rangking pertama pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa sebesar 2,6% dari 3,6 juta penduduk. Menyusul kemudian Jakarta, Riau, Surabaya dan Bandung. (https://news.okezone.com/read/2017/07/06/510/1730472/pelajar-dan-mahasiswa-dominasi-pengguna-narkoba-tertinggi-nasional ). Pergaulan bebas, prostitusi ayam kampus dan aborsi dengan pelaku mahasiswa menggejala di setiap kota. Tak hanya itu tak sedikit pula kasus mahasiswa yang mati sia-sia karena bunuh diri dengan berbagai motif, seperti depresi skripsi, patah hati, maupun beban perkuliahan dan keuangan. 

Harapan munculnya sosok pemuda calon intelektual sholih dan visioner secara massal nampaknya masih jauh dari angan. Inilah sedikit potret suramnya kualitas calon intelektual bangsa, jumlah yang tidak bisa dibilang sedikit karena tidak terjadi pada satu dua orang namun menggejala. 

Pendidikan sekuler : penyebab minim taqwa

Langkanya ketaqwaan adalah satu hal yang wajar terjadi di alam sekuler, yaitu sebuah sistem  yang mengharuskan dipisahkannya agama dalam kehidupan. Agama hanya boleh hadir di ruang-ruang privat ritual semata.

Secara sistematis pendidikan bernafas sekuler menjadikan penanaman aqidah yang akan melahirkan intelektual taqwa tidak menjadi prioritas utama sejak pendidikan dasar. Di bangku perkuliahan pun kita hanya menemukan pelajaran agama pada semester awal dan semester akhir saja. Belum lagi arah pendidikan sekuler menjadikan pendidikan miskin visi, yang hanya mengukur keberhasilan dari angka-angka IPK dan market oriented, yaitu seberapa banyak lulusan PT yang memiliki masa tunggu terpendek dan cepat diterima di pasar kerja. PT pun didorong untuk menjadi Enterpreneurial campuss secara serius oleh menristedikti (http://www.dikti.go.id/strategi-perguruan-tinggi-mewujudkan-entrepreneurial-campus/ .

Karakter intelektual yang terdepan dalam amar ma'ruf nahi munkar hampir sirna karena kesibukan tugas-tugas maupun berbagai persyaratan untuk mengejar rangking world class university. Penelitian-penelitian kehilangan arah dari tujuan utamanya dari menyelesaikan problem rakyat, menjadi tidak lebih dari sekedar memenuhi syarat kelulusan, mengikuti event lomba, atau kebutuhan industri. Mahasiswa tak lagi cerdas politik, karena dirasa bukan ranahnya dan sudah berat memikirkan urusannya. Demikian pula menristekdikti meghimbau agar mahasiswa tidak berpolitik. Padahal politik adalah aktivitas mulia yang dicontohkan rasulullah yang bermakna mengurusi semua urusan umat (riayatus su un al ummah).

Mirisnya mahasiswa yang masih memegang teguh idealisme dan senantiasa kritis terhadap kedzaliman yang menimpa rakyat dibungkam. Sebagaimana yang terjadi pada kawan-kawan mahasiswa bem UNSRI dan UNNES beberapa waktu lalu yang dilaporkan ke polisi atas tuduhan ujaran kebencian setelah menggugat biaya  UKT. Demikian pula yang menimpa kawan-kawan BEM SI yang berulang kali melakukan aksi menagih janji-janji presiden dan meminta untuk bertemu presiden, namun yang didapatkan adalah bogem mentah dan pembubaran paksa oleh aparat. Ditemui presiden sesuai permintaan pun tidak.

Ada apa dengan negeri ini? Apakah mahasiswa akan dimandulkan dari sikap kritisnya?  Karakter calon intelektual seperti apa yang ingin dihasilkan negeri ini? Mau tidak mau  sekulerisme tidak boleh lagi menjadi pijakan pendidikan tinggi kita hari ini jika benar-benar ingin menghapuskan kondisi suram dan carut marut ini selamanya.

Islam mencetak intelektual unggul sepanjang masa.

Ketika sekulerisme telah gagal dalam mencetak mahasiswa berkualitas unggul dan hanya bermental sukses materi semata, maka islam hadir dengan paradigma pendidikan tinggi yang jauh lebih mulia.
Tujuan pendidikan tinggi yang berpijak pada sistem islam adalah menghasilkan pemuda yang berkepribadian (memiliki pola pikir dan pola sikap) islam serta menguasai ilmu-ilmu kehidupan. Aqidah menjadi landasan dasar yang diajarkan sejak dini hingga pendidikan tinggi sehingga ketaqwaan menjadi terjaga disamping suasana taqwa yang tumbuh dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Tidak ada kapitalisasi pendidikan sehingga kuliah bukan satu barang mahal yang harus merogoh kocek dalam, karena rasulullah telah menegaskan dalam hadits nya bahwa menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban. Tentu menunaikan kewajiban tidak boleh mendapatkan kesulitan.

Maka menuntut ilmu dan berkarya untuk bangsa bisa fokus semata hanya karena Allah, bukan ingin balik modal.
Motivasi amal jariyah menjadi mindset yang terinstal dalam setiap karya agar problem masyarakat dan negara bisa terselesaikan disamping dukungan penuh negara dalam merealisasikan karya. Lihatlah output intelektual di masa Khilafah yang menjadikan islam sebagai pijakan. Peradaban modern telah berutang  budi pada ulama-ulama seperti Al Khawarizmi penemu angka 0 -yang dengan temuannya ini maka berkembanglah berbagai cabang ilmu-, Abu Qasim Az Zahrawi bapak bedah penemu alat-alat medis, Ibnu Rusyd ahli kedokteran, Maryam Al Asturlabi ahli astrologi penemu astrolube cikal bakal kompas, Ibnu Al Haytam penemu teori optik -dasar dari pengembangan alat-alat optik modern masa kini-, dll. Sungguh luar biasa karya mereka dan tidak pernah menarik biaya sedikitpun ketika kita menggunakan dan mengembangkan penemuan itu. Mereka pun bukan hanya ahli dalam satu bidang, namun berbagai bidang (polymath). Semakin berilmu semakin bertaqwa, itulah intelektual mulia yang tidak pernah lupa pula pada kewajiban dakwah di tengah-tengah masyarakat. Terdepan dalam amar ma'ruf nahi munkar, peduli dengan umat, atas dorongan iman.

Tentu ini semua membutuhkan dukungan dua pilar utama utk mewujudkannya, yaitu sistem politik dan sistem ekonomi islam. Sistem politik islam menggariskan imam (penguasa) sebagai raa'in (pelayan) dan junnah (pelindung) rakyat. Sedangkan sistem ekonomi islam mewujudkan kemandirian dan kekuatan ekonomi negara tanpa perlu menjadikan pendidikan tinggi  alat komersialisasi.

Demikianlah islam hadir sebagai jawaban atas problem pendidikan tinggi hari ini dan mampu menghasilkan pemuda berkualitas unggul secara massal. Sungguh Islam adalah rahmat, bukan ancaman. Maka mari perjuangkan! []

Post a Comment

0 Comments