MEMPERKOKOH UKHUWAH

Oleh: Lathief Abdallah

PERSAUDARAAN dan persatuan Isam yang dikenal dengan ukhwah Islamiyah, yaitu persaudaraan dan persatuan yang dilandasi keimanan dan keislaman.  Orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya satu sama lainnya adalah saudara. Persaudaraan dan persatuan di atas darah, ras, suku, bangsa dan bahasa. Persaudaraan dan persatuan di atas kepentingan apapun. karena itu Allah Swt menyebutkan,َ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Qs. al-Hujurat (49):18)

Fakta menunjukkan di tengah masyarakat ada ikatan persaudaraan dan persatuan yang wujud karena darah dan nasab, suku dan bangsa. Jika mereka beriman maka semua diikat dengan persaudaraan lebih tinggi derajatnya yaitu ukhwah islamiyah.

Orang beriman akan memandang saudara terhadap yang lainnya walau berbeda rupa, bahasa, suku, bangsa dan budaya. Mereka saling mencintai dan mengasihi, saling membela dan melindungi, saling bantu dan saling  menolong.

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Dalam sejarah awal Islam, persaudaraan dan persatuan antara Muhajirin dan Anshar, bangsa Makah dan Madinah. Walau beda suku dan latarbelakang tapi mereka bersatu saling bahu membahu atas dasar keimanan, padahal semasa jahiliyah diantara suku mereka ada permusuhan berpuluh-puluh tahun.

Tidak layak sesama saudara saling menzdalami, saling khianati, saling menjatuhkan dan saling menganiaya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:ُ

“Jangan kalian saling hasad, jangan saling melakukan najasy, jangan kalian saling membenci, jangan kalian saling membelakangi, jangan sebagian kalian membeli barang yang telah dibeli orang lain, dan jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim bagi lainnya, karenanya jangan dia menzhaliminya, jangan menghinanya, jangan berdusta kepadanya, dan jangan merendahkannya. Ketakwaan itu di sini -beliau menunjuk ke dadanya dan beliau mengucapkannya 3 kali-. Cukuplah seorang muslim dikatakan jelek akhlaknya jika dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim diharamkan mengganggu darah, harta, dan kehormatan muslim lainnya.” (HR. Muslim)

Persaudaraan dan persatuan dengan dasar keimanan inilah yang memperkokoh persatuan umat.
Pengalaman yang sangat fenomenal dikenal dengan Aksi Bela Islam 212. Saat itu kaum muslimin Indonesia berkumpul di Monas Jakarta. Lebih dari 7 juta kaum muslimin dari berbagai forum, ormas, madzhab, dari berbagai penjuru Indonesia bersatu padu menuntut hukuman bagi penista al-Qur'an.

Sungguh benar yel-yel yang mengatakan" bersatu kita teguh bercerai kita runtuh, Islam bersatu tak bisa dikalahkan ".

Rasulullah Saw bersabda,

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Muslim)

Bila kita dalami, ada beberapa faktor yang memperkokoh  persaudaraan dan persatuan umat Islam.

Faktor pertama; Keimanan. Kaum muslimin meyakini Tuhan yang Satu, Allah SWT. Meyakini pedoman Kitab suci yang satu, al-Qur'an.  Meyakini suri tauladan yang satu, Nabi Muhammad Saw. Dan memiliki kiblat yang satu, Baetullah. Karena itulah potensi umat bersaudara dan bersatu jauh lebih kuat dari pada perpecahan.

Faktor kedua; Syariat. Untuk mengikat beragam manusia memerlukan aturan yang sama yang bebas dari intervesi kepentingan manusia sendiri. Syariat Islam bersumber dari Allah SWT yang menciptakan seluruh manusia . Tentu syariat yang diturunkannya sesuai dengan fithrah manusia. Dengan aturan syariat inilah persaudaraan dan persatuan umat Islam sangat kokoh.

Faktor ketiga; Kepemimpinan. Persaudaraan dan persatuan tidak mungkin kuat tanpa adanya kepemimpinan. Demikian aturan hidup apapun tak akan wujud bila tidak ada pemimpin yang menerapkannya. Di samping itu pemimpin dapat mengambil keputusan jika terjadi perselisihan. Para ulama menyebut 'Amrul Imama yarfa'ul khilaf', keputusan pimpinan dapat menghilangkan perselisihan.

Faktor di atas mesti wujud ditengah umat. Bila tidak, Maka persatuan dan persaudaraan itu masih dambaan dan harapan.

Realita saat ini umat terpecah berdasar suku, bangsa dan negara. Terbelah berdasarkan madzhab, golongan dan partai. Tercerai berdasarkan kepentingan politik dan kekuasaan. Sehingga tidak aneh bila terjadi perbedaan dan pertentangan. Bahkan permusuhan dan peperangan di tengah umat sering terjadi. disamping adanya provokasi dan konfirasi yang sengaja dibuat oleh kalangan yang memusuhi umat. Lebih dari itu, Sistem sekularisme yang menjauhkan syariat dalam kehidupan umat, tentu menjadi faktor dominan yang menjadikan umat tidak lagi merasa satu tubuh di antara mereka.

Dengan demikian, membangun kesadaran persaudaraan dan persatuan atas dasar keimanan sakaligus memperjuangkan faktor pengokoh persaudaraan dan persatuan umat yakni tegaknya syariat dan kepimipinan, terus digelorakan. Karena dengan inilah umat kembali meraih indahnya persatuan dan persaudaraan.

Subhanallah.[]

Post a Comment

0 Comments