MATINYA NURANI MASSA

Oleh: Kholda Naajiyah

SITI Zubaidah (25), mungkin tak menyangka terpaksa menjanda di usia muda. Ia juga pasti tak bermimpi, anak pertamanya yang masih balita dan janin di kandungannya, bakal yatim seketika. Terlebih membayangkan ditinggal suaminya, Muhammad Al Zahra (Zoya) dengan cara tak wajar. Mati dihajar massa, dikepruk kepalanya, ditelanjangi dan dipanggang hidup-hidup disaksikan puluhan warga.
.
Meski rintihan penyangkalan disampaikan berulang-ulang, massa dengan segenap kemarahan telah kehabisan rasa belas kasihan. Apalagi sebagian menyulut kegeraman di balik ungkapan "mana ada maling yang ngaku." Seolah lengkap sudah alasan menghukumnya rame-rame secara sewenang-wenang. Astaghfirullah. Ini negara apa? Negeri muslim atau hutan rimba?
.
Miris. Nyawa telah melayang, sebelum ada kesempatan bagi korban untuk memberi penjelasan. Membela diri dari segala tuduhan, benarkah telah terjadi pencurian, seperti yang kemudian buru-buru dilaporkan pada polisi. Seolah mencari jalan sah, bahwa Zoya berhak diadili karena benar-benar mencuri. Sungguh ia telah dijatuhkan dan kemudian ditimpa tangga. Sudahlah hilang nyawa, hilang pula nama baik karena dicap pencuri.
.
Entah bagaimana Zubaidah mampu menjawab pertanyaan anaknya, ke mana ayahnya yang selama ini rajin mengajaknya salat berjamaah. Sementara ia dibunuh di hadapan  musala.
.
PESIMIS DAN PENGECUT
.
Perilaku main hakim sendiri yang akhir-akhir ini marak terjadi, mulai persekusi hingga pengeroyokan (lynching), adalah potret lemahnya penegakan hukum di negeri ini. Masyarakat terlanjur pesimis dengan hiruk pikuk penegakan hukum yang tidak mempan mengatasi segala persoalan. Baik masalah perdata maupun pidana, hukum terasa tidak berdaya.
.
Masyarakat enggan mempercayakan pemecahan kasusnya pada aparat, melainkan lebih suka menyelesaikan sendiri dengan tangan mereka. Walaupun penyelesaiannya dengan cara ngawur dan melanggar hukum itu sendiri. Walaupun beraninya dilakukan rame-rame, tak mungkin jika sendiri.
.
Meminjam Jati Diri Jawa Pos edisi 8 Agustus 2017, sikap seperti ini adalah sifat pengecut. Berani main hakim sendiri pada rakyat kecil, tapi mengkerut di hadapan penjahat besar.
.
Lihatlah, massa begitu tega bila berhadapan dengan maling kelas teri. Jambret, maling ayam dan kini terduga "maling" amplifier. Tentu saja mereka bisa salah sasaran, karena menjatuhkan vonis tanpa ada proses pengadilan. Tanpa ada pembelaan dari korban.
.
Sementara terhadap penjahat kelas kakap, tidak ada yang berani mengusik. Apalagi jika penjahat itu berdasi. Bahkan untuk sekadar menyebut mereka penjahat pun grogi.
.
Ya, belum pernah ada kasus pengeroyokan terhadap para koruptor, misalnya. Apalagi jika koruptornya dari kalangan politikus parpol ternama. Atau mantan pejabat teras. Para pendukung setianya masih tetap cium tangan, menggelar karpet merah penghormatan. Mereka adalah penjahat yang disegani.
.
Padahal kejahatan mereka jelas nyata dan membawa efek kerusakan pada kehidupan bernegara. Mencuri uang yang dikumpulkan dari  keringat rakyat. Mempermalukan nama bangsa di mata dunia internasional.
.
Tentu, ini bukan bermaksud mendorong massa agar "adil" dalam main hakim sendiri. Agar rame-rame mengeroyok para koruptor. Karena, sebesar apapun kesalahan manusia, tak ada alasan bagi massa untuk menegakkan hukum rimba.
.
Sekadar menggambarkan, betapa timpang penegakan hukum, baik yang ditegakkan di jalanan maupun di ruang pengadilan. Pomeo bahwa hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas selalu menemukan kebenaran. Inilah yang melenyapkan kepercayaan masyarakat pada sistem hukum saat ini.
.
HILANGNYA IMAN
.
Tragedi amplifier Bekasi, juga merupakan potret miris hilangnya naluri kemanusiaan. Siapapun pelakunya, juga yang menyaksikan, pasti terselip kekejian di dadanya. Sifat yang tidak ada dalam kamus Islam. Padahal pelakunya dipastikan beragama Islam. Walaupun apa yang dilakukan atas dasar membela kepentingan musala. Demi mempertahankan aksesorinya.
.
Tampaknya telah hilang sikap  husnudzon di kalangan umat Muslim, tersebab lemahnya iman. Sebaliknya, bercokol sikap su'udhon berlebihan, tersebab lemahnya kondisi keamanan lingkungan.  Masih ingat, beberapa waktu lalu, kita juga dientakkan oleh kasus-kasus penganiayaan dan pengeroyokan terhadap orang-orang tertentu --bahkan orang gila-- hanya karena curiga mereka adalah penculik?
.
Waktu itu beberapa nyawa juga berjatuhan. Padahal terbukti mereka bukan penculik, berdasar pengakuan keluarga korban, kerabat dan tetangga yang terpercaya. Mereka adalah orang baik-baik. Juga, dari data aparat di mana tidak ada laporan kehilangan anak di wilayah dimaksud.
.
Peristiwa demi peristiwa tersebut  menunjukkan makin lemahnya rasa belas kasih di antara sesama. Matinya hati nurani kemanusiaan di tubuh massa. Di benak mereka, telah bercokol kuat suatu pemahaman bahwa materi lebih berharga dibanding sebuah nyawa.
.
Harga ampiplier --seandainya pun benar itu dicuri-- jelas jauh di bawah harga nyawa seorang manusia. Padahal, tidak ada hukuman mati bagi pencuri dalam kamus hukum manapun. Tanpa bermaksud membela "pencuri" (dalam kadar tertentu), mereka masih diberi hak untuk bertobat.
.
Dalam Islam, cukup potong tangan jika memang mencuri karena sengaja dengan memenuhi nisob. Sementara dalam kasus Zoya, dia bahkan belum terbukti sama sekali sebagai pencuri, tetapi langsung dihukum mati. Pun, dengan cara keji.
.
Padahal ajaran Islam menegaskan,  hancurnya dunia lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang Muslim. Artinya, dosa membunuh seorang Muslim, lebih besar dibanding hancurnya dunia. Membunuh Muslim tanpa alasan adalah dosa besar. Seharusnya seorang Muslim, lebih mengutamakan keselamatan nyawa manusia, dibanding sekadar menyelamatkan asesoris musala.
.
Ini bukan berarti kita mendukung pencurian. Tapi, ajaran Islam mengajarkan akhlak mulia. Dalam kasus tragedi amflifier ini, korban bukanlah sosok yang membahayakan. Saat kejadian, ia bahkan usai salat. Tidak ada ancaman pada pengurus musala, misalnya. Tidak ada senjata tajam. Maka seharusnya bisa ditangkap baik-baik dan diserahkan pada yang berwajib.
.
Maka sekali lagi, kasus ini telah membangunkan kita. Berulangkali kasus sejenis terjadi --dan ini yang paling keji-- tetapi kita seakan tidak sadar juga. Bahwa ada yang salah di dunia ini. Ada yang salah dalam otak manusia saat ini. Ada yang salah dalam penegakan hukum. Ada yang salah dalam mengurus masyarakat, kenapa lahir perilaku bar-bar. Kesalahan yang bukan sekadar oknum satu-dua, tapi melanda massa. Kesalahan sistematis.
.
Ada yang salah dalam mendidik masyarakat, sehingga mereka kehilangan sensitivitas kemanusiaan. Ada yang hilang dalam proses memahamkan masyarakat dengan nilai-nilai Isam yang bermartabat. Ini karena masyarakat lebih terbina dengan sekulerisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Pembinaan sistematis melalui penerapannya di seluruh aspek kehidupan. Mau tidak mau, rela tidak rela, umat hidup dalam peradaban sekuler yang membentuk habitat materialitis dan individualis.
.
Akibatnya, agama menjadi kian jauh dari dada umat Islam. Lahirlah pribadi-pribadi keji di sana-sini. Tentu saja ini tak bisa dibiarkan. Kebrutalan massa akibat sistem hidup sekuler ini harus segera dihentikan. Harus segera diberangus secara sistematis. Melalui penggantian sistem sekuler dengan sistem Islam.
.
ADILNYA PERADABAN ISLAM
.
Saat ini, kemudhorotan demi kemudhorotan terus terjadi akibat diabaikannya hukum-hukum Allah SWT. Semua gara-gara manusia di seluruh dunia menghamba pada aturan hidup sekuler buatan manusia.
.
Aturan hidup ini tidak memberi ruang sedikitpun untuk menerapkan ajaran-ajaran Islam yang agung. Sebuah tatanan berperikemanusiaan yang akan menjamin kehidupan manusia yang bermartabat, bahagia di dunia maupun akhirat.
.
Di masa kejayaan peradaban Islam, tentu saja, belum pernah ada kasus pengeroyokan terhadap pelaku kejahatan. Apalagi sampai membakar manusia yang tidak bersalah. Hukum ditegakkan dengan tegas dan adil. Tidak pandang bulu, maling kelas teri atau kelas kakap. Tak ayal jika angka kriminalitas minim ditemukan.
.
Sungguh, sudah saatnya masyarakat hidup dalam wadah habitat Islam yang jelas-jelas menjanjikan kebaikan, keberkahan dan keadilan. Islam turun sekali-kali bukan untuk menyusahkan hidup manusia. Aturan Islam diberikan Allah SWT untun menuntun manusia pada kebaikan. Mustahil aturan Sang Pencipta membawa kemudaratan. Sebaliknya, hanya kemaslahatan saja konsekuensinya. Sayang, kebanyakan manusia lebih dulu phobia sebelum memberi kesempatan kepada Islam untuk mengurus dunia.(*)
.

Sumber:

Fb: Kholda Naajiyah

Post a Comment

0 Comments