Madu vs Racun Poligami

RemajaIslamHebat.Com - Tema poligami itu bak racun ya. Selalu bikin spaneng. Terus saja mewarnai sudut pro dan kontra di beranda-beranda. Saingan deh, sama tema vaksin yang selalu kontroversi. Dua tema yang bikin males saya komentari, atau saya jadikan tema buat menulis. Di antara jutaan kata yang telah tertorehkan, rasanya ini baru kedua kali saya nulis soal poligami. (Sekadar dorongan untuk menyampaikan gagasan saja. Namanya juga penulis, ya emang kerjaan saya nulis. Praktiknya sih belum hehe...).
.
Saya juga terinspirasi dari statusnya Psikolog Bunda Zulia Ilmawati. Ketika diminta menulis tema poligami, beliau mengatakan bahwa poligami itu tidak perlu dituliskan, dilombakan, dipamerkan, diperbincangkan, apalagi diperdebatkan. Cukup dinikmati, diresapi, dirasakan, dan dijalani saja. Biar menyehatkan seperti minum "madu." Mantap! Setuju sangat!
.
Lagipula, kalau saya amati dengan saksama, dalam tempo sesingkat-singkatnya; para pelaku poligami yang menuliskan suara hatinya, kebanyakan yang mengalami kekecewaan. Misalnya yang diambang perceraian. Yang proses poligaminya tidak terbuka, alias suami melakukannya sembunyi-sembunyi. Yang praktik poligaminya bermasalah alias tidak sesuai tuntunan syariah. Subjektif. Boleh jadi hanya minoritas.
.
Pastinya nggak mewakili pelakon lainnya. Sebab, masih banyak para poligami-er yang baik-baik saja. Buktinya, tetangga saya ada. Guru-guru saya, ada. Kakak kelas saya, ada. Adik kelas saya, ada. Relasi saya, ada. Mereka bisa dibilang silent majority kok. Dan, jarang menuliskan kisahnya. Diam-diam saja. Karena, keindahan dan kebahagiaannya barangkali tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Cukup diresapi bak madu. Apalagi, mereka juga bukan penulis seperti saya hehe... 
.
Aah, jadi malu. Sejujurnya, saya pernah menulis satu buku kecil tentang poligami. Cuma teori sih. Karena, saat menuliskan itu, saya belum pernah mengalami (eh, sekarang juga belum ding!). Saking malunya, saya nggak pakai nama sendiri. Nama pena. Itu nama yang cuma sekali pakai langsung buang hehehe... Judulnya: “Ukhti, Mengapa Enggan Berbagi?” terbitan Al-Azhar Press. Ada yang punya bukunya? Ada yang sudah mempraktikkannya?
.
Walau buku kecil, di situ saya kupas tuntas tentang poligami dari berbagai rujukan. Tapi, sekali lagi, cuma teori. Nyuplik sana sini. Maklum, masih culun pula dalam dunia tulis menulis. Apalagi minim pengalaman pribadi. Jadi nulisnya nggak benar-benar dari hati. Kalau nggak mewakili suara hati para muslimah, ya mohon dimaklumi.
.
Lah, kenapa nekat mengangkat tema debatable itu? Gara-garanya, saya disuruh menggantikan penulis yang sudah diiklankan bakal meluncurkan buku tentang poligami, tapi ternyata meleset dari rencana. Jadinya saya deh yang disuruh menggantikan. Ya sudah, sebisanya saja, wong belum pernah praktik.
.
Naskah lengkapnya masih ada, nih. Sedikit saya cuplikkan isinya, yang saya kutip juga dari tulisan orang. Mari kita renungkan sebuah dialog tentang poligami yang dituliskan oleh Al-Khimar, dikisahkan Abu Muhammad Jibril Abdur Rahman dalam bukunya Rijalun Sholihun.
.
Suatu ketika ada dua orang muslimah berdialog tentang masalah poligami. Seorang dari mereka adalah istri yang bersedia dimadu dan rekannya tidak bersedia dimadu, bahkan memandangnya sebagai sikap diskriminatif terhadap kaum wanita. Istri yang siap dimadu disingkat IP, sedangkan istri yang menolak disingkat ITP. Berikut petikannya:

ITP: ''Apapun alasannya, sampai saat ini aku belum siap dan tidak bersedia dimadu. Bagaimana pendapatmu tentang perkara ini?''
IP: ''Engkau termasuk orang jujur. Semua wanita termasuk aku sendiri pada mulanya seperti kamu juga. Tidak bersedia dimadu. Tetapi bukankah yang disebut Muslim atau Muslimah itu adalah orang yang menyerah bulat baik secara lahir maupun batin kepada Allah dan hukum-Nya, begitu juga kepada sunnah Nabi?''
.
ITP: ''Apakah berpoligami itu termasuk hukum Allah dan sunnah Rasulullah?''
IP: ''Maaf saudaraku, apakah kamu tidak pernah membaca firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 3? Maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu sukai dua, tiga atau empat. Dan jika kamu takut tidak dapat berlaku adil maka kawinilah seorang saja. Aksiomatis ayat ini, secara jelas memberi hak poligami kepada laki-laki, di mana seorang Muslimah shalihah tidak boleh mengingkarinya. Bagaimana hukumnya jika seorang Muslim menolak sebagian ayat Allah?''
.
ITP: ''Maafkan aku. Aku tak bermaksud membantah engkau. Persoalaannya, aku bukan menolak sebagian ayat Allah. Tetapi aku belum siap dan tidak rela dimadu. Bahkan aku berniat bilamana suamiku kawin lagi, aku akan minta dicerai saja.''
IP: ''Aku berharap engkau tidak marah padaku. Jika persoalan ini dikembalikan pada perasaan, tak seorang wanita pun yang rela dimadu, sekalipun ummul mukminin dan istri-istri para sahabat. Bukankah demikian?''
.
ITP: ''Ya. Lalu bagaimanakah seharusnya kita bersikap?''
IP: ''Kita bisa membuka Alquran. Allah berfirman, ''Dan tidak patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi wanita yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah tersesat, sesat yang nyata'' (QS Al-Ahzab: 33-36). Mari kita camkan pula sabda Nabi SAW, ''Tidak beriman seorang dari pada kamu sehingga hawa nafsunya tunduk (sesuai) dengan apa yang telah aku datang dengannya (sesuai dengan sunnahku)'' (HR Nawawi dalam Hadist Arba'in). Dua dalil di atas menerangkan tentang ciri-ciri mukmin haqqan yang tidak ada rasa berat di dalam hatinya untuk menerima hukum Allah dan Rasul-Nya, baik ia suka maupun tidak suka, dalam keadaan berat atau ringan.''
.
ITP: ''Jazaakillahu khairan atas penjelasan engkau. Adakah nasihat bagiku yang belum siap dimadu?''
IP: ''Siapkan diri untuk menerima Islam secara syumul (sempurna) dan kaffah (menyeluruh). Janganlah mengambil perkara dalam Islam yang disukai saja, sedang yang tidak disukai ditinggalkan. Boleh jadi perkara yang tidak kita sukai itu baik bagi kita, sedang yang kita sukai justru mendatangkan keburukan.''
.
Yup! Ajaran Islam itu bukan menu prasmanan, yang boleh dipilih yang dirasa enak saja, lalu ditinggalkan yang tidak disuka. Di bagian penutup buku ini, ada pesan juga bagi laki-laki yang berpoligami, ingatlah hadits Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang memiliki dua orang istri lalu ia condong pada salah satunya, maka ia akan datang pada hari kiamat sedangkan bahunya miring." (HR. Abu Daud (2/242). Jadi, buat lelaki, konsekuensi poligami itu juga gak mudah.
.
Begitulah. Sejatinya poligami itu syariat Islam untuk dipraktikkan, bukan sekadar teori, apalagi diperdebatkan. Pelakon poligami yang menemukan kebahagiaan dan ke-SAMAWA-an dalam kehidupan rumah tangganya, tidak membutuhkan pengakuan. Tidak usah kita paksa-paksa menceritakan. Biarkan jadi ranah hati saja.
.
Memang sih, sekarang sedang trend: pasangan nikah muda jadi pembicara di mana-mana tentang indahnya nikah muda. Memotivasi anak-anak muda untuk tidak pacaran dan memilih pernikahan. Contohnya pasangan Alvin-Larisa, Muzammil-Sonia, Nata Reza-Wardah, dll. Rame-ramelah pasangan-pasangan muda terinspirasi menghalalkan pasangan. Indahnyaa....
.
Nah, apa perlu membuat trend baru: para pelakon poligami jadi pembicara di mana-mana agar berbagi tentang indahnya berpoligami? Apa para muslimah sanggup menerima kenyataan akan terjadinya gelombang para suami, atau bahkan para istri, yang ingin menikmati poligami? Rasanya tidak perlu, bukan? Sebab, belum tentu mereka mau hehe...
.
So, kalau mau benar-benar tahu kehidupan poligami itu seperti apa, ya silakan praktik saja. Nggak usah debat kusir sepanjang masa. Apalagi cuma nyinyir di status, baca baperan pelakunya, menafsirkan raut muka para pelakonnya. Mana paham kita.
.
Yang jelas, poligami itu boleh. Kalau dipraktikkan dengan benar, syariat Islam itu pasti membawa maslahat. Jadi sekali lagi, yang setuju dan mau mempraktikkan silakan. Yang nggak mau, lebih baik diam. Karena, kalau terus diperdebatkan, cuma mengundang racun saja. Kalau dipraktikkan, insya Allah jadi madu. Yeah, lebih baik dimadu, daripada diracun keles, wkwkwkw...(*)
.
Bogor, 25 Agustus 2017

Sumber:

Fb: Asri Supatmiati

Post a Comment

0 Comments