LINDUNGI ANAK DARI BAHAYA LGBT

Oleh : Amalia Sinta

SAYA shock saat kemarin membaca ramainya pemberitaan tentang terungkapnya pesta seks homoseksual oleh 141 pria di Kelapa Gading.

Oh dunia, kenapa makin liar saja?

Makin banyak berita miris yang mengkhawatirkan.

Fenomena homoseksual ini makin merebak, jumlahnya semakin banyak. Saya pernah gak sengaja melihat di mall, sekilas dua lelaki tampak mesra sedang duduk di cafe, tak canggung saling menggenggam tangan lalu suap-suapan.

Huft.. Di depan umum mereka udah gak canggung.

Mungkin kita bertanya-tanya,
Apakah homoseksual adalah bawaan lahir?
Saya mencoba mencari referensinya. Namun belum ada referensi medis yang menyatakannya.

Saya mengutip sebuah survei yang dilakukan oleh Pew Research Center AS tahun 2013:
"Orang menyadari dirinya homoseksual pada usia remaja antara 10 s/d 21 tahun."

Survei ini memberikan gambaran bahwa homoseksual bukan bawaan lahir, tapi terjadi karena pengaruh lingkungan.

Huft, baiklah..
Sebelum menyalahkan lingkungan dan pergaulan yang sudah semakin semrawut, coba kita tengok pola pengasuhan di rumah masing-masing.

Kalo kita coba runut, segala tingkah laku orang yang aneh-aneh itu biasanya bersumber dari pola pengasuhan yang keliru.

Maka, sudahkah anak kita mendapat pengasuhan yang baik, seimbang dari ayah ibunya?

Coba kita pikirkan bersama..

1. Peran Ayah Dalam Pengasuhan

Kebutuhan ekonomi yang selalu menuntut untuk dipenuhi, membuat para ayah fokus mencari nafkah. Tak jarang bekerja lembur. Namun sayangnya saat akhir pekan tiba, tak jua memegang anak.

Padahal ayah punya andil yang sangat besar dalam membentuk karakter anak-anaknya.

Anak lelaki itu perlu figur Anda, Pak. Agar tau bagaimana bersikap sebagai lelaki sejati. Mulai dari cara bicara, cara berjalan tegap, cara berpakaian, sampai cara berpikir mencari solusi, yang memang berbeda antara pria dan wanita.

Anak itu perlu pendampingan Anda, Pak. Agar penuh jiwanya akan kasih sayang. Sehingga tak perlu baginya untuk mengisi kekosongan dengan mencari figur lain di luar rumah.

Anak yang haus akan kasih sayang, akan tumbuh menjadi remaja yang rentan terjerumus dalam pergaulan yang salah.

Satu saja temannya ada yang homoseksual, anak anda akan mudah dirayu sedemikian rupa. Kaum LGBT ini sangat berlimpah perhatian dan kasih sayang lowh pak.

Gak mau kan anak Anda terjerat?

Maka puaskan jiwanya akan kasih sayang seorang ayah, hadirlah untuk mendengar cerita sehari-harinya.

Celoteh anak balita yang kini anda anggap tak penting, adalah pondasi untuk sebuah keterbukaan. Anggap semua yang ia ceritakan itu penting, tanggapi, maka keterbukaan antara anak dan ayah akan terjaga.

Bila suami telah meninggal dunia atau bercerai, figur lelaki bisa diganti kakek, om, pakde atau guru yang sering dijumpai anak.

2. Kasih sayang dan perhatian

Banyak orang tua yang beranggapan bahwa kebutuhan anak hanya soal makan, tempat tinggal dan pendidikan. Kalo itu udah terpenuhi, dianggap beres.

Padahal sisi emosional anak perlu juga dipenuhi, dengan kasih sayang dan perhatian.

Banyaklah bertanya tentang perasaan anak, kejadian apa saja yang dialami dan diskusikan solusi.

Ayah yang memposisikan diri sebagai "polisi" di rumah, yang hanya bertugas menghukum anak, untuk sementara terasa efektif untuk mengontrol perilaku anak.

Tapi dibalik itu semua, anak menyimpan amarah ke ayahnya, rasa tidak suka bertumpuk. Jadi jangan heran kalau nanti ia menjadi remaja pemberontak dan makin tak terkendali.

Si anak perempuan bisa jadi lesbian karena membenci sosok ayah secara berlebihan, apalagi jika ayah suka memukuli anak dan ibunya.

Si anak lelaki bisa jadi gay, karena tidak suka menjadi lelaki, takut menjadi sosok ayahnya, yang sangat ia benci.

Ayo ceriakan wajahmu ayah, hangatkan pelukanmu. Jika kau tetap dingin dan menjaga jarak, maka anakmu akan lari ke pelukan lelaki lain.

Ayo luangkan waktumu, Ibu. Meski fisikmu selalu berada di rumah, namun setiap saat sibuk mengurus dapur, maka anak akan kesepian.

Yang ia butuhkan adalah hadirmu untuk duduk bersama, terlibat dalam permainannya, membaca buku dan membahas isinya atau apa sajalah. Yang penting ia bisa mengajakmu tertawa bersama..

Oya penting juga bagi orang tua untuk menunjukkan bahwa cinta kasih antara laki laki dan perempuan itu indah. Seperti yang selama ini ditunjukkan dalam keseharian orang tua.

Jadi kurangi berantem dengan pasangan ya Bu, Pak. Kalopun berselisih, sebaiknya jangan di depan anak. Hubungan orang tua yang tidak harmonis, selalu bertengkar, akan membuat anak pesimis terhadap hubungan antar lawan jenis.

3. Ketika Anak Jatuh Cinta

Orang tua banyak yang bingung menghadapi anaknya yang bercerita bahwa ia sedang "jatuh cinta" ke lawan jenis. Apalagi kalo anak masih relatif kecil, usia SD pun sekarang bisa jatuh cinta hehe..

Pertama, yang perlu kita pahami adalah, bahwa jatuh cinta pada lawan jenis itu adalah fitrah.

Rasa suka dan tertarik pada lawan jenis itu wajar dalam perkembangan psikologi anak.

Nah tapi, bukan berarti trus anak kita dibiarin "pacaran" ya. Bahkan sebenarnya anak pun tak sepenuhnya paham arti pacaran.

Jadi biarkan anak terbuka dan bercerita tentang teman yang disukainya. Arahkan rasa suka itu hanya sebatas kagum. Gunakan semangat menggebu itu agar anak menjadi lebih rajin dan berprestasi di sekolah.

Jangan bereaksi berlebihan seperti memarahi anak habis-habisan, karena anak akan mengira bahwa perasaannya salah, lalu kapok menyukai lawan jenis. Sangat mungkin dia jadi beralih orientasi menjadi penyuka sesama jenis.

Ia melihat orangtuanya tidak keberatan ketika ia sangat akrab dengan teman sejenis. Sehingga makin lama makin malas berteman dengan lawan jenis, karena takut dimarahi.

Sebuah berita dari Tempo, benar-benar mengejutkan. Margonda telah dinyatakan Depok sebagai Zona Merah HIV. LSM Komunitas Aksi Kemanusiaan Indonesia (KAKI) Kota Depok, mengatakan selama Januari-Maret 2017, pihaknya menemukan 222 penderita Human Immunodeficiecy Virus (HIV) di Kota Depok. Dari jumlah tersebut, 140 diantaranya adalah gay. Mereka adalah kalangan yang paling berpotensi menyebarkan virus HIV, beberapa AIDS.

Banyaknya universitas yang berimbas banyaknya kos-kosan yang menjadi tempat 'aman' berkembangnya para gay, membuat angka penderita HIV makin meningkat.

Jadi jangan lengah, teman sesama jenis juga perlu diwaspadai. Bekali anak dengan kemampuan melindungi diri. Sedari kecil, ajarkan bahwa tubuhnya berharga. Ajarkan bagian mana yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain.

♧♧♧

Data lain lagi, dikutip dari sindonews.com, angka kekerasan terhadap anak yang dirilis Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sungguh sangat mencemaskan.

KPAI mencatat, dari kurun waktu 2010-2014 terdapat 21.869.797 kasus pelanggaran terhadap hak anak yang tersebar di 34 provinsi dan 179 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. 

Menurut data KPAI, sebanyak 42-58% adalah Kekerasan Seksual dan selebihnya merupakan kasus kekerasan fisik dan penelantaran anak.

Mari kita jaga anak sebaik-baiknya. Bila masih kecil, dampingi saat ia main di luar rumah. Sebentar aja lepas dari pengawasan orang tua, bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. Waspada terhadap semua orang di sekitar, karena pelaku biasanya orang yang tinggal berdekatan.

Sifat anak kecil yang polos, mudah dirayu dan lemah secara fisik, membuat para predator seksual mudah beraksi. Anak tak berdosa itu jadi korban sodomi. Sedihnya, sebagian besar korban akan tumbuh menjadi homoseksual ataupun biseksual. Inilah yang menjadi sebab angka LGBT semakin naik tiap tahunnya seperti yang dilansir KPAI.

Di tengah dunia yang semakin gila, mari bergandengan tangan memeluk anak dengan cinta.

Jadilah tempat mereka bersandar, terbuka bercerita. Menjadi sahabat yang paling dipercaya oleh anak kita.

Kurangi amarah, perbanyak pelukan.
Kurangi tuntutan, perbanyak pujian.

Mari terus berdoa agar anak-anak kita terhindar dari segala mara bahaya di luar sana..

Note :
Jika kita memiliki teman atau bahkan pasangan yang memiliki orientasi seks menyimpang, sebaiknya jangan dihina atau dimaki. Karena mereka akan menjauh dan tidak mau disembuhkan. Justru tunjukkan kepedulian agar mereka mau  disembuhkan. Terutama jika dalam diri mereka sendiri memang sudah ada keinginan untuk sembuh.
Untuk pendampingan, setau saya bisa meminta bantuan group Peduli Sahabat yang didirikan oleh mas Sinyo Egie.

Sumber:

Fb: Amaliah Sinta

Post a Comment

0 Comments