Krisis Moral di Dunia Maya

Oleh: Kholda Naajiyah

BUNDA Elly Risman, boleh jadi tidak menyangka menjadi korban bullying di dunia maya. Psikolog yang sering mendampingi para korban bullying ini, menjadi bulan-bulanan di media sosial gara-gara cuitannya yang mengritik rencana kedatangan girlband asal Korea.
.
Sebenarnya kritik Bunda Elly normal saja. Bagaimana tidak mendidih, kumpulan cewek-cewek centil nan seksi itu konon diundang untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Walaupun pejabat terkait ngeles sana-sini, rencana mengundang girlband itu sendiri, apapun alasannya, adalah wacana yang tidak cerdas. Juga, tidak memiliki sense of moral crisis.
.
Apa mereka tidak memperhatikan betapa bertentangannya budaya girlband yang liberal dan hedonis itu dengan budaya Nusantara yang katanya diagung-agungkan? Apakah tidak bisa menilai bahwa akan lebih banyak mudhorotnya dibanding manfaatnya, –jika ada?
.
Sebagai psikolog yang telah lama dan cukup lelah menangani segunung kasus kebobrokan remaja, jelas protes Bunda Elly Risman sangat relevan. Layak didengar. Seorang ibu yang khawatir anak-anaknya tersihir pengaruh buruk girlband itu. 
.
Padahal jelas, girlband ini tidak Indonesia banget. Tidak mencerminkan nilai-nilai ketimuran yang menjunjung tinggi moral dan etika. Minimal dari pakaiannya saja yang serba minim. Bagaimana bisa dijadikan ikon untuk kawula muda di negeri muslim terbesar ini? Inilah kekhawatiran itu.
.
Sayangnya, budaya Korea sudah terlanjur "menjajah" negeri ini. Para pembela girlband itu marah luar biasa. Mereka mengeluarkan kata-kata kasar dan keji terhadap Bunda Elly. Sangat tidak mencerminkan sebagai warga Nusantara yang santun dan beretika. Moral telah sirna di sana. Sungguh mengerikan.
.
Memang, Bunda Elly mungkin khilaf terburu-buru menyebut girlband itu sebagai simbol seks dan pelacuran. Tetapi toh sudah minta maaf. Sebuah kebesaran hati sebagai seorang ibu. Tetapi, apakah anak-anak yang mencaci makinya itu membukakan pintu maaf? Tidak. Sekali meluncurkan kekejian, sulit menarik kembali.
.
MINUS ETIKA
.
Potret di atas memperlihatkan secara telanjang, betapa mirisnya mental dan moral anak-anak muda di negeri ini. Hanya karena membela girlband kesayangannya, mereka tega membully tokoh anutan masyarakat yang notabene ibu negeri ini. Entah karena di dunia maya yang begitu bebas tanpa aturan, mereka seenaknya saja melontarkan kekejian. Seolah tidak paham bahwa sependek apapun komentar kejinya berkonsekuensi dosa.
.
Yang disesalkan, para pembela girlband itu juga dari kalangan muslimah, bahkan ibu-ibu berkerudung. Apa mereka tidak tahu, bahwa Bunda Elly, jelas banyak berjasa dalam menyelamatkan anak-anak muda di luar sana yang menjadi korban kekejian gaya hidup modern. Mulai yang kena narkoba, bulyying, seks bebas hingga kekerasan seksual. Teori-teori parentingnya membantu jutaan kaum ibu agar memiliki pola asuh lebih baik. Maka kegundahan beliau layak didengar.
.
Bandingkan dengan girlband-girlband impor itu, apa jasanya untuk bangsa ini? Apa inspirasi kebaikannya untuk anak-anak muda? Bukankah justru mereka, sengaja atau tidak, turut menjadi faktor pemicu kerusakan moral? Anak-anak muda terbuai mimpi ketenaran dan hidup instan seperti idolanya. Terobsesi ketenaran dan keglamoran hidup ala idola. Mulai penampilan sampai pola pikir, akhirnya berubah.
.
Lihatlah, betapa anak-anak muda saat ini lebih terbuai dengan mimpi-mimpi ala selebriti. Generasi yang dibuai dengan hiburan dan dicandui dengan kesenangan duniawi. Anak-anak muda yang sangat antusias menyimak berita artis idolanya, dibanding buku pelajaran. Anak-anak muda yang lebih ikhlas mengeluarkan harta untuk menyedekahi idolanya, dibanding keropak masjid dekat rumah. Lebih senang menghadiri konser-konser musik daripada pengajian. Inikah generasi harapan?
.
WAKIL KAUM IBU
.
Di zaman milenial ini, mau tidak mau kita hidup di dua alam: dunia maya dan dunia nyata. Bahkan para Muslimah, termasuk ibu-ibu juga sangat eksis di dunia maya. Tidak ada yang salah. Bahkan banyak juga manfaatnya. Termasuk sarana menyampaikan pendapat seperti yang dilakukan Bunda Elly.
.
Jika ada beda pendapat, sah-sah saja. Sebab di dunia ini banyak kepala. Beda pula sudut pandang. Tetapi, alangkah baiknya jika meluruskan pendapat orang lain dengan cara yang santun dan bijak. Apalagi ini terhadap tokoh masyarakat yang notabene adalah ibunya kaum ibu. Memang, manusia ada khilafnya. Tetapi mengritik pedas dan kejam terhadap orangtua, sangat tidak etis.
.
Sebagai muslimah yang memakai kacamata Islam, selayaknya kita mendukung kritik yang disampaikan Bunda Elly. Tidak ada manfaat yang bisa dipetik dari kehadiran girlband itu, kecuali menyenangkan syahwat para fansnya, selain mendulang rupiah dari gemerlap panggungnya.
.
Apa yang disuarakan Bunda Elly, sejatinya mewakili isi hati kaum ibu. Keberanian beliau mengritik kita apresiasi. Kita berdiri di belakang beliau. Sebab dengan begini, akhirnya jadi perhatian berbagai pihak. Semoga saja berhasil menggagalkan kedatangan girlband tersebut. Juga, artis-artis impor sejenis lainnya. Kapan saja dan di mana saja di negeri tercinta ini.(*).

Sumber:

FB: Kholda Naajiyah

Post a Comment

0 Comments