Komunikasi Aktivis Muslimah Kampus se-DIY (AKTIF)

RemajaIslamHebat.Com - Membangun Sinergitas Mahasiswa Muslimah yang Tergabung dalam Forum Komunikasi Aktivis Muslimah Kampus se-DIY, Melindungi Negara dari Ancaman Neoimperialisme

Ahad (30/7), puluhan aktivis dari kampus DIY yang tergabung dalam Forum Komunikasi Aktivis Muslimah Kampus se-DIY (AKTIF) mengadakan diskusi dengan tema “Membangun Sinergitas Mahasiswa Muslimah, Melindungi Negara dari Ancaman Neoimperialisme”. Diskusi ini diadakan karena para aktivis merasa prihatin terhadap kondisi bangsa yang genting akibat ancaman neoimperialisme. Bertempat di IEC UNY, Seka sebagai ketua forum membuka forum pada pukul 08.20-10.30 WIB. Diskusi ini diawali oleh penyampaian pendapat dari Ratna aktivia UAD. Dia menyampaikan bahwa Indonesia sekarang dicengkeram oleh neoimperialisme, misalnya dalam kasus PT Freeport di Papua, yang izinnya diperpanjang hingga 2031. Kemelimpahan SDA Indonesia yang menjadi surga bagi asing, akhirnya tidak bisa menjamin kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, utang Indonesia semakin menumpuk, bahkan mencapai lebih dari 30% APBN. Kondisi Indonesia saat ini begitu miris. Hal ini juga disepakati oleh Netty dari STEI HAMFARA.
Sri dari UGM bahkan  menyampaikan, penjajahan di Indonesia bukan hanya oleh asing tetapi juga aseng (Kapitalis Timur). Pemerintah sangat memuluskan masuknya investasi asing dan aseng ke Indonesia. Hal yang senada dipaparkan oleh  Yulia dari IMM UMY dan Indah dari Relief HAMFARA. Menurutnya aseng mudah menguasai SDA, bahkan hingga menguasai lahan untuk perkebunan sawit. Giatnya pembangunan infrastruktur yang digagas rezim ini dengan biaya investasi luar negeri atau utang, dinilai berbahaya karena menjadikan BUMN sebagai agunan, misalnya pada proyek kereta cepat Bandung-Jakarta. Mega dari LDF UII menyampaikan bahwa utang membengkak hingga 52% APBN. Inilah kondisi genting yang sesungguhnya bagi Indonesia. Selama 2,5 tahun rezim Jokowi-JK berkuasa, jumlah utang negara setara dengan 5 tahun rezim SBY. Utang membengkak, kesejahteraan rakyat tidak membaik signifikan, indeks gini pun semakin besar. Memang, dalam ekonomi liberal utang dijadikan sebagai tumpuan pemasukan APBN. Utang itu tidak gratis, diikuti dengan arahan kebijakan asing dan aseng terkait pembangunan ekonomi.

Menurut Rina dari STEI HAMFARA, pengaturan ekonomi Islam dapat menjamin kesejahteraan masyarakat, karena Islam menjadikan SDA sebagai milik rakyat yang dikelola oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.  Berbeda dengan asas ekonomi neoliberal yang menjadikan SDA bisa dimiliki siapa saja (pemilik modal). Egia dari UGM menyampaikan, adalah suatu hal yang ironi ketika solusi Islam yang disampaikan oleh aktivis, ulama bahkan ormasi Islam sebagai kritik terhadap kebijakan pemerintah, justru dibungkam. Misalnya pembubaran ormas HTI, kriminalisasi terhadap ulama, dan pemukulan terhadap aktivis KAMMI.  Seolah, upaya pembungkaman ini adalah upaya untuk memuluskan neoimperialisme. Nina aktivis STEI HAMFARA menilai rezim ini diktator. Dari forum ini disepakatilah poin-poin petisi, yakni:
Mendesak pemerintah untuk menolak intervensi asing dan menjual kekayaan negara.

Mendesak pemerintah untuk mencabut Perppu No. 2/2017 tentang pembubaran ormas dan menghentikan kriminalisasi terhadap aktivis dan ulama.

Mendesak pemerintah untuk mengganti sistem ekonomi neoliberalisme menjadi sistem ekonomi Islam.

Mendesak pemerintah untuk segara menjadikan Islam sebagai satu-satunya solusi atas  problematika bangsa.

Yogyakarta, 30 Juli 2017
Atasnama Forum Komunikasi
Aktivis Muslimah Kampus se-DIY

Sri Sekasaputri

Sumber:

Fanspage: Back to Muslim Identity

Post a Comment

0 Comments