Khadijah Binti Khuwailid : Wanita Pendamping Utama Seorang Nabi

RemajaIslamHebat.Com - Menjalani hidup itu tidak mudah. Ujian datang silih berganti dan setiap manusia akan menghadapi ujian-ujiannya masing-masing.  Namun ujian berat terkadang berkurang bebannya ketika ada orang-orang yang membantu untuk menopangnya. Ujian terbesar dihadapi oleh para nabi dan rasul. Setelah itu orang-orang salafush shalih yang memiliki keutamaan. Selanjutnya orang-orang yang beriman, mulai yang tinggi kadar keimanannya  hingga yang rendah.

Khadijah Binti Khuwailid ra, bagi Nabi Muhammad Saw, adalah sosok istri yang dikaruniakan oleh Allah SWT sebagai pendamping sejati seorang suami. Tidak hanya seorang suami, tetapi juga sebagai Nabi Besar bagi umat manusia di akhir zaman.  Ujian yang dihadapi seorang Rasul Allah tidaklah ringan. Namun Khadijah ra adalah teladan pendamping Nabi yang tak tersaingi kedudukannya.

Setiap tahun, Nabi Muhammad Saw selalu melewati Bulan Ramadhan dengan menyendiri di Gua Hira yang terletak sekitar beberapa mil dari pusat kota Mekkah. Hal ini beliau lakukan untuk menjauhi segala aktivitas negatif dan pembicaraan masyarakatnya yang bathil. Beliau tenggelam dalam suasana yang sepi dan tenang di puncak gunung yang menjulang,  berserah diri, menyucikan jiwa dan  menghadapkan segala perasaan hatinya kepada Allah, Rabb bagi semesta alam.

Saat menerima risalah kenabian, dengan turunnya lima ayat pertama (al Qur’an Surat Al Alaq 1-5),  sebagai suatu peristiwa yang menakjubkan dan sangat menggetarkan  bagi Nabi Muhammad Saw, maka beliau segera menemui Khadijah. Beliau bersandar kepada Khadijah yang menyambutnya dengan tenang dan penuh kasih sayang. 

Khadijah berkata, “Hai Abu Al Qasim, dimana Engkau berada? Sungguh aku telah mengutus orang-orangku untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah atas, kemudian pulang tanpa membawa hasil. “

Rasulullah Saw berkata, “Kemudian aku ceritakan kepada Khadijah, kejadian yang baru aku alami. Khadijah berkata, “Saudara misanku, bergembiralah, dan tegarlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tanganNya, sungguh aku berharap kiranya Engkau menjadi Nabi untuk umat ini.”

Sungguh Khadijah ra adalah pribadi yang penuh percaya diri. Kata-kata yang keluar secara spontan menunjukkan betapa Khadijah ra adalah pengokoh dan pendukung keyakinan serta kepercayaan diri seorang Nabi. 

Ia bukan seperti manusia biasa. Walaupun ia memang hanya manusia biasa. Sifat yang sangat jarang dimiliki seseorang, apalagi ia wanita dan istri. Tidak jarang justru para istri yang melunturkan kepercayaan diri suami.

Kata-kata yang sering muncul tertuju pada suami, misalnya seperti: “Kau tidak bisa memimpin orang banyak. Keluargamu sendiri saja kau kewalahan.” Atau perkataan seperti, “Kau bukan orang yang layak untuk memikul semua beban ini.”  Bisa jadi juga perkataan, “ Kalau kau saja ragu dengan kemampuanmu? Apalagi aku yang hanya istrimu.”   Perkataan-perkataan yang hanya semakin membuat suaminya rendah diri dan akhirnya kehilangan potensi diri. Alih-alih terbangun kepemimpinan dalam keluarga atau masyarakat, yang terjadi malah akan memperpuruk keadaan sang suami. 

Lihatlah apa yang dilakukan Khadijah. Ketika Rasulullah Saw pula ke rumah dengan perasaan berkecamuk tak menentu, Beliau meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Khadijah menyelimutinya, menenangkannya dan membiarkannya dalam keadaan seperti itu hingga tenang. Setelah itu, Rasulullah Saw berkata,” Khadijah, apa yang sebenarnya terjadi denganku?” Beliau pun menceritakan kejadian yang dialaminya di Gua Hira. Beiau menutup ceritanya dengan mengatakan, “Aku sangat ketakutan.”

Mendengar semua itu, Khadijah ra berkata dengan tenang, “Jangan khawatir. Berbahagialah, sesungguhnya Allah tidak akan mungkin menghinakanmu dengan kejadian itu. Selama ini engkau selalu menyambung silaturahmi, jujur dalam berbicara, meringankan bebab orang yang susah, membantu orang yang lemah, menghormati tamu dan mendukung setiap hal yang mengandung kebenaran.”
Inilah kata-kata Khadijah yang menjadi bukti kuat atas kesempurnaan kepribadiannya. 

Khadijah ra adalah wanita yang memiliki pandangan yang luas, jiwa yang tegar, hati yang tenang dan pemahaman yang mendalam. Setelah itu Khadijah ra membawa Rasulullah Saw menemui Waraqah bin Naufal, sepupunya. Penganut agama Nasrani yang taat saat itu sangat pandai membaca dan menulis dalam bahasa Ibrani. Bahkan ia sanggup mentranskrip Kitab Injil ke dalam Bahasa Ibrani. Saat itu Waraqah sudah lanjut usia dan matanya buta.

Setibanya di rumah Waraqah, Khadijah ra berkata, “Wahai sepupuku, dengarkanlah penuturan keponakanmu ini!” Waraqah berkata, “Wahai keponakanku, apa yang sebenarnya telah Engkau lihat?”

Rasulullah Saw menuturkan kejadian yang dialaminya di Gua Hira. Waraqah mendengarkan dengan seksama, lalu berkata, “Sesungguhnya yang datang kepadamu itu adalah malaikat yang pernah datang kepada Musa. Betapa bahagianya aku, seandainya aku masih muda dan gagah. Betapa bahagianya aku, seandainya aku masih hidup saat Engkau diusir oleh kaummu sendiri.”

Rasulullah Saw bertanya dengan terkejut, “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya!” Siapapun yang menerima sesuatu (wahyu) seperti yang diterima olehmu, pasti akan dimusuhi. Seandainya aku masih hidup ketika Engkau dimusuhi oleh mereka, aku pasti akan membelamu habis-habisan. Akan tetapi, tidak lama setelah pertemuan itu, Waraqah meninggal dunia, sementara wahyu terhenti untuk beberapa saat lamanya. (Muttafaq Alaih)

Ini adalah kehidupan baru penuh keutamaan yang menyongsong kehidupan Rasulullah Muhammad Saw. Sungguh besar urusan yang menantinya di hari yang akan datang. Sementara itu istrinya Khadijah ra menunjukkan sifat yang sangat mulia. Ia menenangkan Nabi Muhammad Saw di saat gelisah, memberinya kenyamanan saat lelah,  mengingatkan segala kebaikan yang selama ini dilakukannya, menegaskan kepadanya bahwa orang-orang baik sepertinya mustahil akan dihinakan oleh Allah dengan peristiwa semacam itu. Sebab, Allah telah menciptakannya sebagai orang yang memiliki sekian banyak kebaikan dan keutamaan, sehingga ia lebih pantas akan mendapatkan kemuliaan dan kebiakan.

Ketika Khadijah ra mendengar bahwa kaum Quraisy akan memusuhi dan mengusir Rasulullah Saw, padahal ia tahu betul bahwa Quraisy sangat keras adan kuat, Khadijah ra membulatkan tekad untuk tetap tegar dalam menghadapi badai rintangan yang akan menghadang. Khadijah ra siap menghadapi kondisi baru, yakni melawan hegemoni Quraisy.

Inilah contoh agung bagi setiap wanita mukmin. Mereka harus meneladani Ummul Mukminin Khadijah ra dalam kesanggupannya menghadapi rintangan dan penderitaan untuk mendukung perjuangan dakwah suaminya tercinta.

Sumber:

Fb: Lathifah Musa

Post a Comment

0 Comments