Ketika Viewers bersikap Sinis

RemajaIslamHebat.Com - Bermain sosmed itu mengajarkan pada saya untuk lebih simpati dan empati, bahkan lebih memikirkan dan mempedulikan respon sikap para pembaca atau yang sekedar berstatus sebagai viewers.
Maksud hati membagi nasehat, tapi tak sedikit yang di hatinya masih tersimpan kedengkian ketika melihat kalimat petuah sampai didepannya, spontan ia lewati atau bahkan langsung diblokir oleh hatinya, dilakukan penilaian sepintas bahwa orang tersebut terlalu pamer dan sombong. Padahal tak ada letak riya'nya, toh yang disampaikan hanyalah kalimat Tuhan yang hanya diteruskan saja di sosial media. Lalu, kesombongan macam apa yang mereka maksud itu?
Berbeda pula ketika kita menuturkan sesuatu berupa pesan yang kontra dan refleks ditolak oleh akalnya, mereka langsung saja menganggap bahwa penulisnya itu terlalu latah, gegabah, tak hati-hati, asal ceplas-ceplos. Padahal tak ada seharusnya yang ia benci dari tetangganya di sosmed, karna pesan tersurat itu hanyalah sebuah rangkaian frasa yang boleh dimaknai ataupun tidak, ya sah-sah saja. Tak perlu terlalu melihat segala sesuatu didepan matamu itu sebagai kebodohan semua isinya.

Saya contohkan tentang apa yang saya alami hari ini, rasanya saya bahagia sekali di hari ini. Setelah minggu ke-3, anak dengan hiperaktif yang saya tangani akhirnya bisa mengancing baju dengan media baju bayi tanpa bantuan. Bagi anak seperti mereka, aktivitas itu tentu amat sangat tak mudah untuk dilakukan, bahkan harus kalem sampai pada kancing terakhir. Yah, walaupun terpaksa akhirnya saya harus menyambinya dengan bernyanyi selama ia menyelesaikan instruksi tersebut. Tapi, saat tiba di kancing terakhir dan semua tuntas ia kerjakan tanpa saya bantu sedikitpun, ah rasanya senang sekali. Anak itu bisa duduk tenang, diam dan bersabar tanpa mengeluh, bahkan tidak ribut atau berlarian kesana kemari, tiga biji kancing yang berukuran kecil-kecil itu bisa dengan sempurna dituntaskannya. Bahagia dong, Alhamdulillaah di pekan ke-3 akhirnya dia bisa melakukannya tanpa saya bantu. Bayangkan, 2 pekan dia harus belajar mengancing tiga buah kancing di satu baju, dan pada pekan ke-3 lah ia benar-benar bisa mandiri, untuk satu hal itu. Terlebih, dilakukan oleh anak dengan tingkat hiperaktif yang cukup tinggi. Bagi saya, tentu sangat menyenangkan ketika melihatnya mampu dan berhasil melakukan itu.

Kenapa saya ceritakan peristiwa yang 'mungkin tidak penting' itu bagi beberapa orang? Tapi, bagi saya justru itu sangat penting. Karna saya telah melihat progress, anak yang saya pegang akhirnya berkembang dari awalnya selalu saya bantu untuk memasang kancing, akhirnya sempurna dia selesaikan sendiri tanpa dibantu siapapun.

Nah! Dari cerita kecil nan mungil ini, saya sebenarnya ingin membuka pandangan temen-temen, bahwa kita tak boleh sekalipun memberikan penilaian pada setiap orang satu dua hari saja. Bahkan, kamu butuh waktu selamanya untuk mengenali orang-orang terdekatmu. Saya pun butuh setiap hari untuk mengenali diri saya sendiri. Begitu juga ketika kita bersosmed, Anda tidak bisa menilai seseorang hanya dalam 1 atau 2 detik saja dari apa yang di-share, di posting atau di-like olehnya. Be positive lah, biasakan mengamati dan menganalisa, tidak langsung men'judge.' Inilah yang saya pelajari di psikologi, kita tidak bisa mendiagnosa manusia seperti dukun atau paranormal yang dengan menerawang saja sudah tahu luar dalamnya. Tidak begitu. Kami juga diajari untuk berproses, bahkan alurnya sangat panjang untuk sampai pada suatu deskripsi yang bisa diperhitungkan validitas dan realibilitasnya.

Maka, dalam bersosmed.. kita tidak perlu terlalu sinis pada mereka yang senang membagi apapun. Ketahuilah, dia juga sesungguhnya sedang belajar mengenali dirinya setiap saat. Sampai ditemuinya nanti sesuatu yang baik dan positif, yang akan ia aplikasikan ke dunia nyatanya sebagai bentuk komitmen dalam bersikap dan bertutur.

Sebagai viewers, tugasmu itu membersihkan dulu kacamata yang kau pakai. Jernihkan kacamatanya, sehingga kau tidak akan melihat kebaikan sebagai kebodohan atau melihat keburukan itu sebagai kelurusan. Pasang kacamata yang tidak kotor, agar penglihatanmu menjadi objektif terhadap subjek sebagai tukang tulis atau tukang bagi di lingkungan sosmed ini.

Biarkan mereka bersosmed, toh tak ada larangan menabur kebaikan. Nikmati saja apa yang mau kau nikmati, jangan nikmati sesuatu yang enggan kau nikmati. Bijaklah, tapi jangan sinis. Berbagilah dan jangan disembunyikan, karna kami juga memerlukan ilmu itu dibagi agar kita bisa sama-sama menikmatinya bersama. Bukankah berbagi itu indah?

Sumber:

FB: Baiq Suci Dwi Anggraini

Post a Comment

0 Comments