KETIKA KATA-KATA MENOREHKAN LUKA

Oleh: Amalia Sinta

Di sebuah grup MPASI

Tanya : Bun, anak saya umur 2 bulan nangis terus, ASI gak cukup. Jadi dikasih makan. Bagusnya pisang atau nasi ya?

Jawab :
"Eh eh eh, gak boleh laah. Mulai makan itu umur 6 bulan. Masa kaya gitu ajah gak tau sih?"

"Hapenya pinter, kok yang make gak pinter? Makanya, itu hape jangan buat selfie melulu, pake buat browsing tentang bayi mbak!"

Dan puluhan komen senada bermunculan dalam waktu singkat.

♧♧♧

Di sebuah arisan :

Ada yang bertanya :
"ASI saya kering nih buibu. Aduh gimana ya biar lancar. Terpaksa ini minum susu formula"

Jawab :
"Wah kalo saya sih dulu langsung lancar. Anak dua full ASI semua."

"ih kok minum sufor sih, bagusan ASI donk. Kurang usaha kali mamanya"

♧♧♧

Mak emak sayang,
Pernahkah coba membayangkan ada di posisi orang yang bertanya?

Esensi dari orang yang bertanya adalah Membutuhkan Jawaban yang Benar. Dan dia bertanya itu pasti karena Belum Tahu.

Lalu mengapa, kita yang lebih dulu tahu ilmunya, kita yang lebih dulu paham mana yang benar, malah memilih untuk membully?

Apa gunanya menjadi pintar kalau tak punya adab?
Apa gunanya paham ilmu mengasuh anak kalo gak mau berbagi?

Memberi tahu yang benar itu harus. Tapi memberi tahu dengan lembut tanpa menyakiti hati adalah wajib.

Saat kita menyindir atau bahkan membully, orang yang bertanya akan kesal, marah dan mundur teratur. Dia akan kapok bertanya dan membiarkan anaknya diasuh seadanya.

Maka disitulah, ada andil kita dalam kesalahan pengasuhan oleh ibu yang kurang pengalaman tersebut.

Pernahkah berpikir sejauh ini, Mak?

♧♧♧

Penyakit hati yang krusial di era medsos saat ini adalah merasa "paling".
Paling benar, paling hebat, paling keren, paling kuat.

Inilah yang membuat panas dunia per-emak-an, sampai muncul istilah Mom Wars.
Ngeri banget gak sih?

Seolah menjadi ibu adalah sebuah kompetisi. Harus tampil menjadi sosok yang terbaik, bahkan jika caranya adalah merendahkan ibu lain, akan tetap dilakukan.

Mak, menjadi ibu bukanlah sebuah perlombaan. Kita tidak sedang mengejar trophy juara.

Mengapa mempermasalahkan mereka yang melahirkan secara Sectio Caesarea hanya kerena kita bisa Pervaginam?

Ruang operasi bukanlah panggung sirkus. Itu bayi lucu keluar bukan simsalabim langsung nongol. Dijahit itu kulit perut, dan senut senut di bekas jahitannya luar biasa lowh saat efek bius hilang. Begitu kok tega bilang "bukan ibu sesungguhnya kalo belum lahiran normal" ??

Mengapa meributkan ASI vs Sufor, seolah sufor adalah racun?
Sudahkah kau mengedukASI para new mom yang sedang kebingungan itu?

Jika kau tidak memberi solusi cara agar proses menyusui lancar, lalu hanya bisa pamer ASI mu melimpah dan menuduh mereka kurang usaha, maka lebih baik diam.

Mengapa sibuk mengkritik ibu yang terkena baby blues dengan tudingan kurang iman dan manja?

Bersyukurlah kau mendapat support penuh dari suami dan orangtua, tidak seperti mereka yang terpaksa berjuang sendiri mempertahankan kewarasannya.

Mengapa mudah melabeli mereka malas memasak saat bayinya diselingi makan bubur instan?

Kau memang hebat bisa sempat menyiapkan homemade MPASI berbintang empat tiap hari. Tapi kau tak pernah tau, bagi mereka setiap detik adalah berharga. Berkejaran dengan waktu, untuk mencari rejeki penyambung hidup agar bisa makan esok hari.

Dan yang tak kunjung habis, saling tarik menarik klaim, mana yang terbaik, apakah menjadi ibu rumah tangga ataukah ibu bekerja.

Padahal apapun pilihannya, asal yang menjalani hepi dan bisa memenuhi kewajiban sebagai ibu dengan baik, ya kenapa orang lain yang pusing..

Sudahlah Bu
Jangan habiskan energimu untuk memberi komentar miring pada ibu lain.

Pakailah tenagamu yang berlebihan itu, untuk fokus mengurus anak-anakmu. Perbaiki yang kurang, sabar menghadapi segala tingkah polahnya.

Maka yakinlah,
Kau tak kan punya sisa energi untuk mengomentari hidup orang lain. Karena kata-kata yang telah terlontar tak kan bisa ditarik kembali. Pastikan yang terucap, bukanlah yang menorehkan luka mendalam.

Jangan ada lagi ibu dan bayi kritis karena ngotot melahirkan normal padahal ada komplikasi medis.

Jangan ada lagi ibu yang sedih setiap mengaduk sufor, sehingga ASI nya semakin macet tak berproduksi.

Jangan ada lagi ibu yang tertekan batinnya karena pilihan cara pengasuhan yang menurut versi Mom Wars itu "tidak ideal"

Setiap orang tua punya hak untuk memilih cara pengasuhan anak yang terbaik versi mereka, yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Apapun pilihannya, setiap ibu berhak bahagia. Sama sekali tidak mengurangi rasa cinta ibu pada anaknya, tidak menurunkan kemuliaannya sebagai ibu..

Sumber:

Fb: Amaliah Sinta

Post a Comment

0 Comments