KETIKA ANAK HILANG DALAM KERAMAIAN

Oleh: Amalia Sinta

KEMARIN, saya merasa menjadi ibu yang paling ceroboh sedunia. Bagaimana tidak, anak saya bisa lepas dari pandangan dan hilang dalam keramaian mall yang penuh sesak karena sedang Grand Opening.

Huft, menuliskan ini saja saya masih sesekali menahan nafas.

Ceritanya, kemarin kami ke kota sebelah untuk suatu keperluan. Gak sengaja lewat depan mall yang baru buka. Iseng pengen lihat dalamnya, kami pun masuk.

Pengunjung penuh. Kami hanya makan dan berputar satu kali lalu akan keluar. Saat akan turun eskalator, Tera mendahului saya. Badannya yang kecil bisa menerobos sela-sela orang yang berjubel, padahal sekedar akan turun eskalator. Dalam sekejap dia hilang. Dari belakang saya memanggil-manggil dan melihat-lihat, tapi tak tampak.

Saya turun eskalator, sementara papanya tetep di lantai 2 di area terakhir Tera terlihat, karena biasanya dia balik lagi. Saya berputar di lantai bawah, ga ada.

Meski deg-degan karena mall makin penuh, sebagian otak saya masih bisa berpikir. Segera saya mencari satpam. Segera minta tolong umumin anak hilang, lengkap dengan ciri-cirinya. Sehingga semua satpam akan membantu menyisir setiap lantai untuk mencari.

Setiap detik yang berlalu, rasanya lamaa sekali. Mata mencari ke sana sini, mulut teriak memanggil namanya. Tapi anak 4,5 tahun itu gak kelihatan di manapun

Lalu akhirnya suami menelepon, bilang Tera udah ketemu, ada di customer service. Legaaa banget rasanya. Segera saya menuju ke sana.

Saya kira akan melihat Tera menangis sesenggukan di pelukan papanya. Ternyata oh ternyata, dia lagi menari-nari dan ketawa-tawa. Papanya nyengir penuh arti ke saya.

Lah ni anak kok nyantai banget?

Saya berusaha hilangkan sisa raut panik di wajah. Kalo dulu, reaksi saya pasti akan memarahinya. Namun sekarang saya peluk dan ajak ngobrol pelan, tanya apa yang terjadi. Karena tak akan pernah bisa masuk sebuah nasihat yang dilontarkan berlandaskan amarah.

Jadi, ternyata dia menyadari terpisah dari saya. Lalu melihat om satpam yang berjaga di sebelah eskalator dan meminta ditemani turun mencari saya. Ternyata kami ga ada di lantai bawah. Jadi satpam mengantarkan Tera ke customer service dan mengumumkan telah ditemukan seorang anak.

Fiuh, saya lega.
Saya bersyukur sekali Tera bisa menguasai keadaan.

♧♧♧

Sekitar setahun yang lalu, Tera juga pernah hilang di mall dan di pasar. Kejadiannya hampir sama. Dia lari ke depan lalu hilang. Saya bukan lagi main hape atau memilih barang lowh. Tapi tetep ajah ga bisa mengikuti kecepatan anak itu menghilang.

Dan namanya balita, mana betah digandeng melulu kan. Rasa penasaran akan segala hal, membuatnya pengen mengeksplorasi semua sudut mall.

Nah sejak kejadian itu, saya menyadari bahwa saya harus mempersiapkan Tera untuk mampu menghadapi situasi seperti itu sendiri. Karena meski saya berusaha maksimal tidak lengah, peluang untuk terpisah masih mungkin terjadi, di mall, di pasar, stasiun, bandara, atau tempat ramai manapun yang rawan.

Maka sejak setaun yang lalu saya membuat semacam program pelatihan ketika anak terpisah atau percobaan penculikan (pernah saya tulis juga tahun lalu).

Dan kejadian kemaren itu ibarat ujian praktek dan bersyukur sekali Tera "lulus".

Ketenangan Tera dalam menghadapi situasi menandakan berhasilnya penerapan pelatihan itu. Dia gak nangis dan paham apa yang harus dilakukan saat terpisah di tempat umum.

Pelatihan ini juga bisa berguna untuk mencegah penculikan anak, seperti cerita percobaan penculikan di IKEA yang kemaren ramai beredar.

Nah ini saya share cara saya melatih Tera :

1. Menanamkan keberanian.

Saya sering menanamkan affirmasi positif pada Tera, bahwa dia anak pemberani.

Kalo terpisah dari mama, gak perlu nangis. Tetap tenang, dan segera cari om satpam / orang lain untuk membantu.

Note :
Saya gak pernah menakut-nakuti Tera dengan kalimat semacam ini :
"awas kalo kamu gak nurut, nanti diculik / kamu kok nakal, udah sana biar diculik ajah"

Ancaman semacam ini membuat anak takut terhadap penculik. Padahal justru kita harus menumbuhkan keberaniannya melawan jika sampai mengalami upaya penculikan.

Oya perlu juga membiasakan anak untuk minta izin kalau bergeser dari sisi ibunya.
Misal, ajari dia buat bilang :
"Mah, aku lihat2 ke sebelah situ yaa"

Biasanya anak betah berlama-lama di bagian mainan, jadi kalau hilang, kemungkinan besar dia masih di area sekitar situ.

2. Menghafal nomor telepon dan identitas.

Saya tulis nomor hape saya besar-besar di lemari baju. Setiap hari dia lihat dan sering saya tanya, "nomor hape mama berapa hayoo?"

Sekarang dia udah sangat hafal dan lancar. Saya bilang, minta tolong ke om satpam buat nelpon mama ya kalo kita terpisah. Tera sebutkan nomor mama ke om satpam. Makanya Tera harus hafal.

Identitas yang anak perlu hafal juga adalah nama dia dan orang tua serta alamat lengkap rumah.

3. Mengenali satpam / polisi / petugas stasiun.

Setiap masuk ke mall, saya tunjukkan ke Tera :

"Ini Om yang pakai seragam biru tua di dalam pintu mall, namanya om satpam. Tera cari om satpam dan minta tolong dia kalo kita terpisah. Kalo ga ada om satpam, bisa minta tolong siapa ajah, orang besar yang ada di deket Tera."

4. Tidak boleh menerima apapun dari orang yang gak dikenal.

Anak perlu memahami bahwa gak semua orang itu baik. Ada juga orang jahat (saya sedih sebenernya saat menjelaskan ini, berharap semua orang adalah baik seperti persepsi anak kecil). Maka anak harus bisa menolak pemberian orang yang membujuknya, terutama kalau ortunya ga ada.

Saya tegas mengajarkan bahwa tidak boleh menerima permen, kue, coklat, boneka atau mainana apapun dari orang lain yang tidak dia kenal.

Untuk itu, saya gak pelit-pelit amat membelikan jajan / mainan untuk anak asal gak berlebihan. Jadi dia gak gampang terbuai hanya karena diberi jajan sama orang asing.

5. Melawan bila dibawa paksa.

Saya tanamkan agar jangan mau diajak pergi sama orang. Kalau dia memaksa, Tera teriak yang keras ya :

"Tolooong, ini bukan papa/mamaku. Aku gak kenal. Toloong ak mau diculik."

Kalo orang itu menarik atau menggendong, gigit kuat-kuat tangan atau pundak si penculik, lalu lari kencang.

♧♧♧

Supaya anak paham, saya gak hanya kasih teorinya ajah. Saya juga bikin ROLE PLAY atau simulasi secara berkala untuk melatih Tera.

Di rumah, kami bermain peran. Saya, suami dan Tera. Ciptakan suasana Tera terpisah. Dia akan berlatih mencari satpam (yang diperankan papanya) dan kalimat apa yang akan diucapkan.
Kadang saya berperan jadi penculik yang menawarkan coklat, Tera berlatih menolak, mulai dari halus, sampai berlatih teriakan kencang saat dibawa paksa.

Iya, beneran teriak.

Kita seringnya nyuruh anak diam jangan berisik kan?

Nah ada kalanya anak perlu belajar buat teriak kenceng jika memang menghadapi penculikan.

♧♧♧

Saya percaya selalu ada hikmah dari setiap peristiwa yang tidak enak. Pengalaman ini mampu mencegah diri saya agar tidak hobi membully ibu lain yang sesekali lalai dalam menjaga anak.

Karena kenyataannya, meski sudah selalu dilihatin kemana langkahnya, bisa ajah anak tetiba hilang dari pandangan dalam sekejap mata.

Di customer service mall itu ternyata banyak ibu lain yang dengan panik dan sampai menangis, melaporkan anaknya yang hilang. Tapi saya gak akan melabeli seorang ibu yang sedang lalai itu, sebagai ibu yang ceroboh. Karena ibu tsb pasti gak sengaja. Karena setiap ibu pasti selalu ingin menjaga anaknya dengan baik.

Menjadi ibu sudah cukup berat. Tak perlu menambah beban ke sesama ibu dengan sindiran, nyinyir, apalagi penghakiman yang menyudutkan.

Forgive yourself for a mistake..
Bcoz no one is perfect..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments