KESEMPURNAAN

Oleh: Wulan Citra Dewi

SUATU ketika, aku pernah nonton sebuah film pendek motivasi islami.  Ceritanya ada akhwat bercadar sedang berjalan, anggun nan jelita. Tiba-tiba, suara seorang ikhwan mengusik gendang telinganya. Ya, tepat berada di belakang sang akhwat, si ikhwan tengah berdiri nan gagah. Kurang lebih, begini skenarionya...

”Ukhti, maukah kau menjadi penggenap separuh agamaku?” eeeaaaaaa.....

Si akhwat melirik sang ikhwan dengan ujung matanya yang sedikit terlihat dari balik cadar. Dengan tenang, si akhwat menjawab.

”Maaf, aku hanya mau dinikahi oleh seseorang yang akhlaknya seperti Muhammad Saw.!” tanpa menoleh, ia melanjutkan langkah anggunnya.

”Maaf Ukhti, emangnya akhlak kamu sudah sebagus Ibunda Khadijah?!”

JRENG!

Bagiku, pesan yang ada dalam film pendek tersebut JLEB banget. Eh tapi, jangan salah sangka dulu ya Guys. Kalian udah mesam-mesem aja nih kalau ngomongin soalan ikhwan-akhwat. Hihohihohiho

Di tulisan ini aku bukan mau bahas cinta-cintaan ya sist dan Bro. Bukan!
Aku punya sudut pandang yang berbeda dalam menginterpretasi film tersebut. Interpretasi itulah yang menginspirasi untuk segera menuliskannya. Mau tau tentang apa? Ayo, lats go, capcus!

Melihat film pendek tersebut, Aku kembali mengingat sebuah makna dari kesempurnaan. Bahwa tiada yang sempurna di atas muka bumi ini kecuali Ia yang telah Allah Swt. sempurnakan. Adalah Rasulullah Saw, satu-satunya manusia yang sempurna dan didaulat sebagai tauladan bagi umat manusia. Adapun maha sempurna di atas segalanya tentu kita tahu, Dialah Al Khaliq Walmudabbir. Rabb alam semesta, Allah Swt. Sedangkan kita, manusia yang tersisa ini? Kita adalah makhluk yang Allah Swt. tuntut untuk bertakwa padaNya, mentaati syariatNya. Meneladani kekasihNya, Rasulullah Saw. Hanya Allah Swt saja yang berhak menilai ’kesempurnaan’ seorang hamba. Tugas kita adalah optimal dalam mentaatiNya. Lagi-lagi, kita tidak bisa lepas dari kata ’KAFFAH’ :D . Yeah, bentuk keoptimalan dalam taat padaNya adalah dengan memahami dan mengamalkan syariatNya secara KAFFAH, Sist dan Bro! *Assseeekkkkk

Bertolak dari upaya untuk optimal dalam taat, perlu diingat kembali bahwa Allah Swt. tidak hanya menyeru kita untuk menunaikan rukun Islam semata. Jangan GR, ketika sudah membaca dua kalimat syahadat, melaksanakan shalat, berpuasa di bulan ramadhan, membayar zakat dan menunaikan ibadah haji tidak serta merta surga ada di depan mata. Please, bangun dan sadar dari hipnotis yang mengurungmu selama ini.

”Haiiii, Hallo! Kurang piknik nih si Mbak, jalan-jalannya kurang jauhhhh! Bukankah orang yang sudah membaca dua kalimat syahadat itu sudah mesti masuk surga tah mbk?! Sotoy ih si Mbak. Eta terangkanlah!”

Ada yang berpikir begitu? Pasti ada kan? Hayoooo ngaku aja..., gak bakalan kena bully kok. Bagi yang berpikir demikian, kamu gak salah. Jadi calm aja, woles  kalau bahasa kaula muda mah. Tapi, juga gak sepenuhnya benar. lah?!

Jadi gini, benar bahwa setiap yang bersyahadat itu akan dimasukkan ke dalam Surga dengan izin Allah Swt. Masalahnya, untuk masuk  Surga itu tidak bisa serta merta loh Guys. Kudu antri dulu. Eits, bukan antri masuk Surganya ya. Tapi antri untuk menjalani pemeriksaan dan intograsi, atau bahasa viralnya ”Pertanggung jawaban” gitu Bray! Nah, semua manusia, dari zaman Nabi Adam sampai umat Nabi Muhammad Saw kudu bin wajib melewati fase ini sebelum akhirnya diputuskan untuk menjadi penduduk Surga atau penduduk Neraka. Nah, tidak menutup kemungkinan bahwa manusia yang telah bersyahadat sekalipun akan merasakan jilatan Jahanam. Hal ini karena amal salehnya selama di dunia sangat sedikit, alias kebanyakan dosa ketimbang pahala. Suatu masa, jika Allah Swt. menghendaki, maka barulah orang tersebut akan diangkat dari Neraka dan di masukkan ke dalam Surga, karena syahadatnya.

”Terus apa masalahnya? endingnya happy  kok. Masuk surga juga kan, Mbak?!”

Ih, kamu ngegemesin deh. Pengen tak cubiiiittttt rasanya. Masalahnya, seringan-ringannya siksa di Neraka itu adalah ketika kaki manusia menyentuh terompa yang ada di neraka maka seketika itu otak manusia tersebut akan MENDIDIH dan MELELEH dibuatnya. Sanggup?!

*Krikk.... krikkkk..... kriiiikkkkkk.........

Ok, kembali ke fokus awal yah. Bahwa syariat Allah Swt. bukan sekedar rukun Islam. masih ingat dong, bahwa aturan dalam Islam itu menyeluruh. Setiap sudut kehidupan manusia, diatur sedemikian rupa olehNya. Jika kita mentaatiNya, pasti bahagia. Kalau mau coba-coba maksiat dengan mengingkari syariatNya, pasti sengsara. Begitulah fitrahnya. Gak percaya? Buktikan saja, gak usah banyak bicara! *Mulai Galak

Tidak cukup bagi manusia hanya menjadi seseorang yang baik saja. Halus lembut tutur katanya. Tidak pernah berdusta. Aurat tertutup sempurna. Bergaul dengan sesama tanpa pernah menggoreskan luka. Menebar senyum mempesona nan menyejukkan jiwa setiap berjumpa. Dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain. Intinya dia baik, titik.

Nah, yang begitu belumlah cukup dalam kaca mata Islam. Jika hanya demikian, bahkan sebelum Islam datang pun Rasulullah Saw. sudah dikenal kebaikan dan kejujurannya di seluruh jazirah Arab. Semua orang menyukai Beliau. Setiap perkataan Beliau selalu dibenarkan oleh semua orang. Pada saat itu, Beliau Saw. adalah orang baik yang semua orang menyanjungnya.

Kemudian datanglah Islam, turunlah seruan Allah Swt. agar Rasulullah Saw. menyeru umat manusia untuk menyembah Allah Swt. dan mentaatiNya. Kekasih Allah Swt. ini pun bergegas melaksanakan perintah nan agung dari yang Maha Agung. Beliau menyeru manusia untuk mengikuti perintah Allah Swt. Di mulai dari orang terdekatnya hingga meluas kepada siapa saja yang dijumpainya. Apa yang terjadi? Orang-orang yang semula menyukai dan menyanjung kebaikan yang lahir dari diri Raulullah Saw., seketika berbalik mencaci dan mendustakan perkataan Beliau. Bahkan ada yang mencoba mencelakai Beliau dan berniat membunuhnya. Kenapa demikian? Karena Rasulullah Saw. tidak lagi hanya sekedar menjadi orang yang baik. Namun, Rasulullah Saw. telah menyambut seruan Allah Swt. untuk menjadi hamba yang BAIK dan MEMBAIKKAN hamba-hamba yang lainnya. Ya, Rasullah Saw. melakukan aktivitas dakwah. Mendekap seruan Illahi untuk melaksanakan Amar Makruf Nahiy Mungkar. Hal inilah yang juga harus kita tauladani. Meski tertatih menahan perih, tak ada alasan bagi kita untuk berdalih. Enggan untuk meneladaninya, Murka Allah Swt. yang akan kita terima. Naudzubillah.

Catatan terpentingnya, sampaikanlah walau hanya satu ayat. Karena dakwah adalah kewajiban dari Allah Swt. plus telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw. maka kita sebagai hambaNya wajib untuk melaksanakan. Ya, tidak perlu menunggu sempurna untuk melangkah pada aktivitas dakwah. Karena kesempurnaan itu hanya milikNya. Perlu dipahami pula, bahwa mimbar dakwah itu tidak selalu di atas pentas. Dakwah juga tidak melulu harus ada peserta yang ramai, duduk penuh khusyu’ dalam forum-forum kita. Masyaallah, mimbarnya dakwah itu berada di setiap langkah kita, di setiap tempat di mana kita berada. Di sekolah, di kampus, di kantor, di rumah sakit, di pasar, di kedai, di manapun selagi di sana ada lawan bicara kita. Meskipun hanya satu orang saja.

Selain kewajiban, dakwah juga merupakan wujud cinta, kasih, dan sayang pada sesama. Peduli, itulah ajaran Islam. Bukan sok ikut campur urusan orang, tapi untuk merangkul sesama menuju surgaNya. Masak sih gak mau di ajak bersama menuju Surga?!  Begitulah ajaran Islam, menjamin kebahagiaan dan kedamaian tidak hanya di dunia tapi juga hingga akhirat. Dengan saling nasehat menasehati, maka peluang kejahatan akan terkendali bahkan bisa dibasmi. Hemmmmm indahnya... ☺

Berbeda dengan masa sekulerisme kini, jauh dari kata peduli. Manusia saat ini disetting untuk serba privasi. Individualis, oportunitis, dan matrealis. Life stylenya, yang penting ”Gue!”, semau ”Gue!”. Jadilah generasi digital, tapi gagal revolusi mental. Aktivitasnya ngublek di dunia maya, gak ngerti dengan problematika nyata yang melanda. Tetangga sebelah gak kenal. Ada yang maksiat di depan mata, ”Bodo amat!”. Sumber daya alam dan lapangan kerja dikangkangi Asing dan Aseng, ”Emang Gue pikirin!”. *Ngenes!

Kalaupun ada yang soleh dan soleha, kebanyakan baru untuk dirinya saja. Ogah berkonflik. Dalihnya ”kita harus menjaga perasaan orang...”. GUBRAK!

Aduhhh... maaf ya Guys, jadi curcol. Mau gimana lagi, hayati lelah. Butuh sandaran untuk meluapkan segala rasa. Eaaakkkk.....

Intinya, seorang Muslim laki-laki maupun perempuan memiliki kewajiban yang sama untuk menebar ‘cinta’ berupa dakwah. Amar Makruf Nahiy Mungkar. Dalilnya banyak, salah satunya dalam QS. At-Taubah:71, yang artinya sebagai berikut:

”Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”

Penutup dari tulisan ini, izinkan Aku mengutip nasehat dari Al-Imam Hasan Al-Bashri Rahimahullah yang begitu indah sebagai muhasabah diri sendiri dan antuna yang membaca tulisan ini, Insyaallah.

”Sesungguhnya Aku sedang menasehati kalian. Bukan berarti aku orang terbaik diantara kalian. Bukan pula yang paling soleh diantara kalian. Sungguh, aku pun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Seandainya seseorang itu hanya dapat menyampaikan dakwah apabila ia telah sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla....”

Semoga, kita termasuk orang-orang yang bersegera menyambut seruan Allah Swt. tanpa tembang pilih. Tugas kita adalah mentaati segala perintahNya. Dakwah, adalah salah satu dari sekian banyak syariatNya. Menjadi wajib bagi kita untuk menyampaikan segala keindahan ajaran Islam meski hanya satu ayat saja.

”Lah aku loh, gak tau apa-apa untuk disampaikan......, aku kudu piye? Hiks!”

GAMPANG, Yuk ngaji Islam secara Kaffah!  

Sekian!

Post a Comment

0 Comments