KAMU KOK NGEYEL BANGET SIH, DEK?!

Oleh : Amalia Sinta

SIAPA yang anaknya ngeyelan alias suka membantah??
*sayaaa ✋ angkat tangan paling tinggi..

Emak stress,, segala hal dibantah anak. Dibilangin halus gak nurut, diteriakin malah teriak balik! wkwkwk.. runyam deh!

Setelah mengalami badai bantah-membantah dengan anak, saya berkontemplasi untuk mencari solusinya.

Trus dapet apa hasilnya?

Nah siapa tau cocok juga buat para emak lainnya,, ini saya tulisin yaa..

Tapi tips ini hanya bisa dipraktekkan saat perut kenyang lowh. Kalo laper kan kita gampang esmosi yak hihi..

Nah ini dia caranya :

1. Mengubah mindset / pola pikir tentang anak yang suka membantah.

Stigma yang melekat kuat di masyarakat kita, bahwa anak yang baik adalah anak yang selalu nurut pada orangtuanya. Kita pun jadi berusaha sangat keras membuat anak selalu menurut.

Kalo dipikir-pikir, emang enak sih ya. Emaknya bilang A, anak ikut A. Emaknya nyuruh soal B, anak kerjain B.

Tapi tau gak sih moms, anak yang suka membantah itu artinya anak yang berani berpendapat dan punya pendirian kuat lowh. Dan yang begini termasuk tipe pemimpin.

Iyaa, anak kita calon Boss Besar. Mana ada Boss yang gampang disuruh-suruh orang lain kan?

Nah kudunya kita hepi kalo punya tipe anak yang begini. Tinggal PR nya adalah, mengarahkan keras kepalanya agar didasari argumentasi yang benar, tanpa teriakan, dan kita bersedia menurunkan Ego sebagai orang tua.

Karena soal Ego ini membuat kita jadi baper. Kalo anak membantah, kita langsung merasa anak gak hormat, merasa gak dihargai sebagai orangtua, merasa kalo anak kurang ajar.

STOP !!

Semua pemikiran itu terlalu berlebihan. Anak kita gak gitu kok. Dia hanya sedang melewati fase pengembangan pola pikir, konsep diri, kemandirian, dan eksistensi diri.

Menurut Erik Erikson, tokoh psikososial asal Jerman; suka membantah memang termasuk fase perkembangan anak.

Anak kita dibekali otak oleh Penciptanya. Maka dia bisa berpikir. Jadi biarkan dia mengungkapkan pemikirannya sendiri.

Dan ketika pendapatnya berbeda dengan pendapat orangtuanya, ya itu gpp, wajar kan? Selama bukan hal prinsipil atau berbahaya, bebaskan dia bereksplorasi dalam berpikir dan bertindak.

2. NEGOSIASI

Cara terbaik menghadapi moment membantahnya anak adalah dengan negosiasi.

Ini artinya kita memberi kesempatan anak mengungkapkan keinginannya, lalu kita ungkapkan apa yang kita inginkan dengan jelas dan rinci. Cari jalan keluar, jalan tengah yang disepakati bersama.

Gak harus orangtua yang selalu menang. Ntar jadinya tetep otoriter. Biarkan anak menang sesekali, untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Supaya terbangun rasa percaya diri bahwa dia bisa menang dengan beragumentasi yang baik, bukan dengan rengekan dan tangisan kencang.

Bila negosiasi berjalan lancar, anak pun mudah diajak kerjasama. Dia akan bersedia melakukan apa yang kita minta karena 'paham' alasan logisnya.

Sedangkan kalau kita memaksa anak untuk selalu nurut, anak akan terpaksa melakukan perintah kita. Alasannya cuma satu : takut dimarahi. Dan dia gak paham alasannya. Dia gak melalui proses berpikir kritis.

Anak yang begini akan jadi penakut dalam pergaulannya. Gak punya inisiatif dalam berpikir. Gak kreatif dalam mencari solusi saat menghadapi suatu masalah. Karena gak terbiasa mengungkapkan pemikiran, gak terbiasa menganalisa, mana yang salah, mana yang benar.

Kalau ada temannya yang mengancam, dia akan menurut saja. Logikanya tidak terlatih. Akhirnya jadi korban empuk bullying di sekolah atau di tempat main.

Nah kalau kita sekarang merasa kesulitan bernegosiasi dengan anak, jangan-jangan kita dulu adalah anak yang -harus selalu wajib patuh nurut- atas semua perkataan orangtua kita.

Apakah saat kecil, kita tidak pernah diberi kesempatan memberikan pendapat?
Ketika ingin menyampaikan suatu maksud, langsung disela, dipotong tanpa didengarkan oleh orangtua kita dulu.

Apakah saat kecil kita jadi korban bully di sekolah karena tidak terbiasa menolak perintah?
Tidak bisa berbuat apa-apa meski suara hati berteriak menolak!

Gimana rasanya, gak enak kan?

Maka mari kita putus mata rantai pengasuhan macam ini sekarang..

Negosiasi itu butuh waktu lebih lama?
Iya, pasti.

Tapi lebih menghemat energi daripada teriak marah. Emak dan anak pun jadi lebih hepi.

Negosiasi dilakukan dengan kepala dingin, intonasi suara datar. Instropeksi diri sendiri bila kita gak bisa melakukannya. Bisa saja anak membantah karena meniru kebiasaan kita, misal bantah-membantah dengan teriakan saat berkomunikasi dengan suami.

Untuk mempermudah negosiasi dengan anak, saya biasanya menyediakan 2 pilihan.

Misal :

- Kakak mau mandi dulu atau sarapan dulu?

- Kakak mau main di playground atau taman? Nanti kalau waktu mainnya habis, kita pulang gak pake nangis ya.

- Kakak diingatkan untuk makan atau mandi saat udah hampir tiba waktunya. Biasanya dia akan nego untuk lebih lama menyelesaikan apa yang sedang dia lakukan, bermain ataupun nonton TV. Maka saya beri kelonggaran selama sekian menit. Lalu ingatkan lagi jika sudah selesai. Jika dia tidak memenuhi kesepakatan, terapkan konsekuensi.

3. Buat KESEPAKATAN lalu TEGAS tegakkan KONSEKUENSI

Anak dengan tipe pemimpin itu suka dengan aturan. Maka buatlah kesepakatan bersama. Tentang apa saja aturan di rumah dan apa konsekuensinya kalo dilanggar. Saya gak pake hukuman fisik. Cukup dengan konsisten menerapkan konsekuensi saja.

Ini beberapa contoh kesepakatan dan konsekuensi yang saya terapkan. Usia anak saya 4th 3bln. Penerapan bisa berbeda, tergantung usia dan tingkat pemahaman anak ya.

- Anak ga mau makan siang (atau melempar2, membuang2 makanannya), maka dia gak akan dapet jatah cemilan di sore hari. Gak dikasih makanan ringan apapun ya. Jadi biar ajah nahan lapar. Malah akan lebih lahap di jam makan besar selanjutnya.

- Anak ga mau mandi, maka dia gak akan dapat jatah main di luar rumah.

- Anak mandi terlalu lama (lebih dari 30 menit), maka akan mengurangi jatah waktu nonton TV nya.

- Anak gak mau gosok gigi, maka dia gak akan dapat jatah jus/susu/kue/coklatnya hari itu (tergantung mana yang lagi tersedia).

- Anak sengaja ataupun tidak sengaja mengotori lantai, maka dia bertanggung jawab membersihkannya.

- Anak melebihi jatah waktu nonton TV, saya ingatkan untuk matikan TV. Kalau ga mau, saya yang matikan dan remote akan disimpan hingga esok hari. Lusa baru dapat jatah nonton lagi.

Ini membantu sekali agar saya gak marah-marah melulu. Pastikan anak terlibat dan setuju dalam menyusun aturan ini. Jadi dia paham bakal gimana kalo melanggar.

Saya termasuk tegas dalam menerapkan konsekuensi. Tutup telinga saat anak merengek ataupun menangis keras. Jelaskan lagi aturannya. Bila dia tetap menangis, biarkan saja. Nanti setelah mereda, kita peluk dan jelaskan ulang.

Jangan lupa memuji secukupnya jika anak mematuhi kesepakatan negosiasi. Beri pelukan dan ciuman sebagai bentuk penghargaan terhadapnya. Pasti besok-besok dia lebih semangat untuk mentaati aturan yang berlaku dalam rumah.

4. TRIK TERBALIK

Kadang anak memang sengaja membantah untuk menguji kesabaran dan menarik perhatian orangtua. Agar tidak mudah terpancing emosi, trik ini cukup efektif dan manjur.

Jadi saya akan melarang anak melakukan hal yang sebenarnya saya inginkan.

Misalnya saat di pagi hari kami buru-buru mau keluar kota. Kalo saya suruh Tera mandi cepet-cepet, besar kemungkinan dia gak mau.

Jadi dibalik, bilangnya gini :

"Tera, kita mau keluar kota. Bentar lagi berangkat. Kamu gak usah mandi ya. Dede ajah yang mandi."

"Eh kok Teya ga usah mandi?"

"Iya soalnya Tera kan mandinya lama. Tera bisa gak sih mandi cepet?"

"Bisa mah, ni Teya mandi cepetan yaa.. biar seger, wangi, cantik.."

Yes,, berhasil! Hihi..
Tanpa marah, teriak atau kasih ancaman kosong semacam dia bakal ditinggal kalo gak cepetan mandi.

Ada lagi nih.
Saat mau foto berdua sama adeknya, susah banget suruh Tera hadap kamera dan senyum. Akhirnya kami bilang :

"Tera jangan hadap kamera ya, jangan senyum"

"Loh kok gitu Mah?"

"Iya, Mama cuma mau moto adek ajah. Tera minggir ya ga usah ikut foto."

"Aku mauu.. ni Teya liat kamera. Nih Teya senyuum Mah"

Hahaha.. Jebakan Betmen berhasil!!

So, begitulah kira-kira menghadapi anak yang suka membantah.

Relaks Moms..
Tarik nafas panjaang..
Siapkan kalimat negosiasi..
Dinginkan hati..

Yang perlu diingat, pola asuh otoriter hanya akan membuat anak kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Ya karena tiap tindakannya selalu di dikte orangtua.

Namun jangan terlalu longgar juga. Jangan sampai anak yang pegang kontrol yang mengendalikan orangtua.

Tetapkan batasnya. Aturan dibuat bersama. Tegas tegakkan konsekuensi. Hal-hal penting tetap dalam kendali orangtua.

Slamat mencoba yaa moms..
Slamat menjadi orangtua yang demokratis dan bahagia..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments