Jejak Kolonial

RemajaIslamHebat.Com - Biasanya kita dengan mata kepala kita akan dengan mudah menemukan jejak kolonial yang bersifat peninggalan fisik. Bangunan rumah warisan masa kolonial, bentuk gedung-gedung, sarana perkantoran, dan fasilitas umum lainnya yang dibangun oleh para penjajah kolonial. Dengan menambah referensi bacaan terkait ikhwal seluk beluk yang membahas arsitektur masa Kolonial akan kita dapatkan semakin detail peninggalan kolonial. Di Purworejo sendiri tempat kelahiranku cukup kaya akan peninggalan bangunan yang mempunyai corak khas kolonial.
-
Namun agak berbeda ketika kita mencoba untuk menelusuri Jejak kolonial ini di dalam bidang Pemikiran, atau jejak kolonial dalam peradaban. Karena pemikiran atau peradaban bukanlah Bangunan fisik. Kalau jejak kolonial dalam bentuk fisik maka identifikasi penginderaannya juga fisik yang tampak, namun untuk mengidentifikasi mengindera pemikiran tidak seperti itu, membutuhkan pembacaan yg bersifat pemikiran juga.
-
Sebagai contoh Jejak Kolonial dalam bidang pemikiran terkait Ide Sekularisme. Kalau pada tahun 80an kita sempat lontaran Nurcholis Majid atau lebih populer dipanggil Cak Nur dengan gagasan Sekularnya " Islam Yes, Parpol Islam No ", ini adalah Sekularisme. Atau jauh sebelumnya lagi ada tokoh Sekular Harun Nasution dengan buku Islam ditinjau dari berbagai aspeknya yang dijadikan rujukan IAIN di seluruh Indonesia. Atau Jauh-jauh sekali Bung Karno dalam beberapa tulisannya juga mengagumi model Sekularisme yang diterapkan oleh Turki, pasca jatuhnya Khilafah Islam tahun 1924. Atau seperti pidato profesor Soepomo seorang ahli hukum jebolan Leiden Belanda dalam pidato sidang BPUPKI memang ada kaum yang menginginkan bahwa Agama dipisahkan dalam urusan kenegaraan, dan memang beliau Mr.Prof termasuk yg mendukung pemisahan ini, alias SEKULARISME. Termasuk pengusung Sekularisme adalah Muhammad Yamin, Mr.Subarjo, dan Bung Hatta.
-
Dan gagasan Sekularisme ini sampai sekarang masih ada pengasongnya, dengan ungkapan-ungkapan misalnya " Bahwa dalam Islam tidak ditentukan satu bentuk pemerintahan yg khas ", " Islam adalah wilayah moral, spiritual, keakhiratan, sementara urusan keduniawian politik diserahkan kepada manusia ", ATAU kalau menggunakan bahsa gaul dengan ungkapan " Kalau mau ngomong Islam tuh di Masjid Aja, Klo mbahas politik jangan ngaitin sama Agama ".
-
Contoh-contoh di atas adalah BANGUNAN PEMIKIRAN, dalam hal ini adalah bangunan pemikiran Sekularisme. Sebagaimana menariknya untuk menelisik bangunan fisik jejak Kolonial, tentu menarik juga untuk menelisik, mengamati, dan mendalami jejak Bangunan pemikiran warisan Kolonial, yang hal itu masih diadopsi oleh sebagian masyarakat negeri ini.
-
Nah salah satu buku yang menurut saya cukup baik sebagai salah satu bahan untuk menelisik Bangunan Sekularisme adalah Buku tulisan Profesor Karel Steenbrink yang diterjemahkan oleh pustaka gading dengan judul KAUM KOLONIAL BELANDA DAN ISLAM DI INDONESIA. Saya ungkapkan sedikit isi buku ini. Pada bab 5 dengan judul Holle, Hourgronje, dan Hazeu : Tutor bagi penganut agama terbelakang. Membaca judul bab ini saya agak mengernyitkan dahi terkait frase " Penganut agama terbelakang ", ini agama apaan ya ? Baru setelah saya baca isinya baru 'ngeh ternyata yg dimaksud agama terbelakang adalah ISLAM. Kalau Holle, Horgronje, dan Hazeu mereka sudah dikenal sebagai penasihat belanda bidang Keislaman.
-
Dari mana jejak kolonial bangunan pemikiran SEKULARISME yg dianut sebagian masyarakat Negeri ini ? Jawaban pertama adalah melalui proses pendidikan. Sebagaimana ungkapan Holle bahwa pendidikan sebagai sarana menetralisir Islam. Dan rencana program kolonial ini sering kita sebut dengan politik Etis, salah satunya adalah bidang pendidikan. Pendidikan yang seperti apa maksudnya ? Ya mendidik agar Pribumi Muslim Nusantara semakin dekat Cara berpikirnya dengan Pemikiran penjajah belanda atau populer dengan istilah Politik Asosiasi.
-
Apakah cukup dengan menyitir Pendidikan ? Belum cukup. Snouck Horgronje secara lebih mendalam lagi mencetuskan Politik " Islam Politiek ", apa itu ? Yakni dengan pembagiannya terhadap Islam dengan kategorisasi Islam ritual ( ibadah murni ) yg oleh Penjajah dibirkan saja. Sementara Islam politik ( yg menginginkan Pan Islam / Khilafah ) harus segera dibabat. Sehingga terkenal quote snouck Horgronje bahwa Islam yang berbahaya bagi Kolonial adalah Islam sebagai doktrin Politik.
-
Sementara pada masa Hazeu mulai dikenalkan sekolah modern ala barat tingkat dasar yg menggunakan bahasa pengantar Bahasa Belanda,HIS, kalau sekarang setingkat SD. Termasuk munculnya lembaga penerbitan Balai Pustaka yg berfungsi untuk mensortir bacaan bagi pribumi, dan mensterilkan bacaan-bacaan yg membahayakan penjajahan.
-
Ringkasnya : "...bagi Holle Islam dianggap sebagai ancaman, sedangkan Snock merasa Islam yang dilenyapkan muatan politiknya akan menjadi jinak.." ( Karel Steenbrink ). Nah uniknya buku tulisan Karel Steenbrink yg kaya akan referensi dari sudut pandang penjajah belanda ini diberi pengantar oleh Prof Aqib Suminto, sang penulis buku Politik Islam Hindia Belanda. Aqib Suminto sendiri mengupas secara lebih khusus Kantoor van inlanddsche Zaken ( Kantor urusan Pribumi ), yang sebagai tokoh kantornya ada Snouck dan Hazeu. Kupas tuntas dua orang ini dalam buku beliau yang diterbitkan LP3ES.

JADI bangunan jejak kolonial dibidang pemikiran , contohnya ide Sekularisme sudah diletakkan kerangka dasarnya oleh Penjajah Belanda kala itu. Tentu menarik untuk menelusuri jejak-jejak lainnya.


Penulis : Pristian Surono Putro ( Bukan Sejarahwan, Bukan pula pecinta Buku, Hanya seorang ndeso, dan Udik yang latihan membaca buku Aliran SuSe / SukaSejarah, Penulis buku Dakwah Sekolah Dalam Aksi )

Sumber:

Fb: Pristian Surono Putro

Post a Comment

0 Comments