JANGAN SEPELEKAN HAL KECIL

#Cerita1

Di suatu pagi, datang sebuah pesan dari teman muslimah yang saya kenal baik.

“Aku sekarang jualan cake. Mau kukirimi testernya?”

Saya segan untuk mengiyakan pesan itu. Biaya bikin kue dan biaya kirim tentu tidak sedikit.

Jadilah saya pun pesan satu pack cake. Setelah urusan transfer selesai di hari Jumat, dia pun menjanjikan mengirim cake tersebut pada hari Rabu.

Rabu sore pun datang. Saya khawatir si ukhti ini salah kirim cake. Karena seingat saya, saya belum mengirim alamat lengkap dan dia pun tidak menanyakan.

“Jadi kirim cake tidak bu? Aku kemarin belum kasih alamat..”

Dan dia pun menjawab:

“Iyaa..maaf ya..aku sudah ke pasar cari bahan tapi tidak ada. Ini kebetulan aku masak ayam, mau kuganti ayam saja?”

Karena khawatir itu ayam keburu basi di perjalanan, saya pun menolak. Lagipula, akad jual beli kami adalah kue, bukan ayam.

“Oke kukirim Jumat deh ya.. cake-nya..” dia mengulur waktu.

Sudah bisa menduga alur cerita ini?

Ya.. hari Jumat datang, dan si ukhti tidak berkirim kabar.  Saya akhirnya memberinya pesan untuk mengambil saja uang itu, dan tidak usah mengirim cake ke rumah saya.

Si ukhti ini pun tidak membalas pesan saya, lalu raib hingga sekarang

Sesekali saya tengok akun sosmed-nya. Untuk meyakinkan diri saya sendiri. Bahwa dia ini benar-benar orang baik, berakhlak baik. Terlihat dari begitu banyak orang baik yang berada di inner circle-nya.

Tapi bagaimana bisa untuk hal se-sepele ini ia lalai?

Seperti biasa, saya bahas hal sentimentil ini pada suami. Agar saya ketularan pemikiran logisnya itu.

“Wes bun..dadi uwong ojo nggumunan. Jangan memandang iman seseorang dari panjang pendek jilbabnya...”

Kalimat ini adalah kalimat yang sama yang pernah ia lontarkan kepada saya. Entah untuk yang ke berapa kali.

*****

#Cerita2

“Bisa beli bukumu? Untuk hadiah istriku...”

Seorang ikhwan menelepon saya. Ikhwan ini adalah aktivis yang saya kenal sejak kuliah. Dia memberi alamat, dan meminta saya mengirim buku ke rumahnya.

Saya mengirim pesanannya di hari yang sama, meski dia belum mengirim uang serta ongkos kirimnya. Karena saya percaya padanya. Selebihnya, saya menghargai usaha dan keinginannya menghargai istri.

Sepekan berlalu...

Tidak ada kabar darinya. Saya coba tracking, rupanya buku sudah diterima sejak 3 hari yang lalu.

Saya sms dia, mengkonfirmasi apakah buku sudah datang, sekaligus kembali menginfokan nominal tagihan.

Si ikhwan ini hanya menjawab “ooooo...”

Lalu tak ada jejak hingga sekarang

****

Barangkali benar adanya, akhlak tidak bisa hanya diukur dari seberapa sering ia menghadiri taklim. Seberapa panjang jenggotnya, seberapa lebar jilbabnya, seberapa sering puasa sunnah-nya.

Kita sering begitu peduli pada isu-isu besar. Pemerintahan yang katanya dholim, korupsi yang merajalela, dan hal-hal besar lainnya.

Tapi seringkali kita malah lalai pada hal-hal sepele, seperti menyegarakan pembayaran hutang. Mungkin bukan karena tidak punya uang. Uang itu ada. Tapi hutang sudah dianggap urusan kelas dua, dibanding isu besar ke-ummat-an lainnya.

Padahal kita tidak pernah tahu.

Bisa jadi hal sepele inilah, yang nantinya jadi penghalang kita mencium wangi surga.

Wallahu a’lam bish-shawab

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Post a Comment

0 Comments