JALAN PINTAS ITU BERBEDA

RemajaIslamHebat.Com - Dunia seakan menggambarkan akan bagaimana fakta kehidupan di dalamnya. Semua, tidaklah sama, nampak ada perbedaan yang begitu jelas pada setiap makhluk-Nya. Sampai-sampai pada manusianya menganggap bahwa ia diciptakan untuk berbeda. Ada mereka yang serba kacukupan dan banyak kelebihan hingga nampak akan kesempurnaan. Ada mereka yang nampak biasa, namun ada juga mereka yang terlihat di bawah dari yang lainnya.

Tak jarang dari mereka yang merasa biasa atau bahkan mereka yang merasa di bawah, bertanya, “Kenapa orang lain bisa memiliki banyak kelebihan dan kecukupan bahkan mungkin berlimpah?”. Hingga, banyak dari manusia yang mencintainya, ingin mendekat dengannya dan bahkan ingin memilikinya.

Bagaimana orang lain begitu mudahnya dalam peroleh pekerjaan yang sesuai keinginan hingga tak terasa begitu berat, tidak menguras waktu dan tenaga namun hasilpun terlihat ada. Mudahnya ia  dalam mendapatkan jodoh sampai, seperti tidak ada peluang untuk jatuh pada hal-hal kemaksiatan. Mudahnya ia peroleh pada semua.

Seakan semua orang membutuhkannya, apa yang mereka punya hanya diberikan dan hanya ditawarkan kepadanya. Jika bukan padanya maka tidak jadi, sebab seperti hanya ia yang pantas menerima itu. Begitu mudahnya ia menjalani kahidupan. Mendapat perhatian, pujian dan bahkan banyak sanjungan dari mereka manusia.

Kemudian, seseorang itu merasa bahwa dia tidak ada apa-apa dibanding dengan yang di atasnya, kadang berfikir untuk apa pula dia dicipta. Apakah hanya untuk melihat dan menyaksikan kesuksesan dan kelebihan mereka saja. Kadang, dia merasa telah bosan dengan kondisi yang ada, merasa bahwa segala cara pun telah diusahakan namun nyatanya semua belum nampak ada hasilnya.   Menyadari, bahwa ia hanya sebagai hamba yang penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Namun, kenapa mereka bisa hanya dengan sekali usaha sedangkan dia harus berulang kali untuk sampai mendapatkannya. Iapun merasa, “Kenapa Aku Berbeda ?”

Mereka kaya, mereka punya keluarga, mereka punya saudara, mereka punya teman. Sedangkan dia… merasa sediri tanpa ibu dan bapak sebagai orang tua yang peduli. Mungkin sosok mereka sebagai pendidik, pengasuh dan pembinbing pun tak pernah ada. Merasa sendiri tanpa saudara, kerabat, apalagi sahabat.

Dunia luas katanya, dimana dunia banyak manusia dari jenis dan rupa, jumlah mereka pun tak terkira. Namun, kenapa mereka tak satupun yang mengira bahwa dia ada. Dia sendiri, merasa berada dalam dunia yang berbeda dari manusia. Tanpa waktu, tanpa cahaya, dan tanpa pengakuan.

Semua sama, tak berubah dalam warna, bentuk dan rupa tetap berada dalam kondisi semula. Tak ubahnya seperti penonton yang hanya melihat permainan dan persaingan dalam area pertandingan manusia. Ia lihat wajah-wajah mereka yang telah berubah, berubah pada kedudukan, status, keluarga dan juga orang-orang didekatnya.

Sedangkan dia tak pernah tahu akan bagaimana rupanya, seberapa tinggi dan besar badannya. Ia seperti hanya memiliki dua buah mata yang digunakan untuk melihat semua manusia namun buta akan diri siapa.

Mereka manusia seakan tak perna melihat wujudnya, mereka seakan tak pernah melihat keberadaannya ataukah memang mereka tak sudi menoleh kepadanya.
“Ya… Allah”.
Itulah Asma yang diucapkan dalam setiap rintihannya. Dia seperti tak memiliki harapan dalam dunia yang tak tahu akan ujung dan pangkalnya. Yang tidak tahu akan langkah awal dan tujuan akhirnya.

Namun, dalam lamunan dan tafakurnya ia akhirnya menemukan jawaban. Yang tidak tahu akan benar atau salah. Ya, setidaknya itu bisa memotivasi dirinya saat orang lain tak ada yang peduli dengan dirinya. 

Diapun berguman, “Mungkin aku hanya lewat jalan yang berbeda dari mereka”.

Bisa jadi dia lewat jalan yang mana dan pada mereka manusia lainnya lewat jalan yang mana ?

Sedangkan pada tujuan ia dan manusia lainnya tetaplah sama. Tempat kembali pun juga sama tidak ada pembeda diantara ia dengan mereka. Semua, benar tidak ada pembeda kecuali hanya pada apa yang telah dikehendaki-Nya.

Maka dengan kesendiriannya, ia berfikir dan terus berfikir kemudian fokus terhadap apa yang ingin diraih. Waktu demi waktu pun terus berjalan, hari demi hari pun berganti, minggu, bulan dan tahun pun terus terlewati. Hingga, pada suatu saat tanpa dia menyadari dia telah melangkah lebih jauh dan berada ditempat yang jauh lebih tinggi dari manusia yang lain. Merasa bahwa dia seakan terbang. Tetapi kenapa bisa ? Padahal dia tidak bersayap tidak pula ada niat.

Namun, tahukah kita kenapa dia bisa…?
Tidak lain, ternyata dia hanya melawati jalan pintas. Jalan pintas yang tidak ada persimpangan dan tidak ada tikungan. Jalan pintas yang telah mampu menghantarkan lebih cepat sampai pada tujuan.

Hingga dia telah sampai pada semua. Yaitu telah mampu lebih dekat dengan-Nya, Sang Maha Pemilik Segala-galanya. Bukankah hanya Dia pemilik semua. Maka ketakutan akan tertinggal dari manusia lain tak akan ada untuk sekarang, nanti dan untuk selama-lamanya.

Ketahuilah, Allah itu Maha Sempurna. Apapun yang diputuskan itulah yang terbaik. Jika kita merasa hidup lebih sulit, hidup lebih sengsara, hidup kurang beruntung. Maka, ketahuilah mungkin kita sedang melewati jalan pintas.
Sadarilah, bahwa jalan pintas itu pasti yang lebih sulit dan lebih sempit, namun ialah yang terdekat. Yang akan mengantarkan kita untuk lebih cepat sampai pada tempat tujuan.

Sedangkan, pada mereka yang terlihat mudah dalam hidup dan urusannya. Maka, mungkin bisa jadi mereka lewat jalan biasa yang mulus dan beraspal, namun ketahuilah di sana banyak tikungan, persimpangan, persaingan bahkan macetpun begitu adanya. Dalam jalan ini akan penuh dengan segala urusan manusia. Yang kadang melalaikan, menyibukkan atau bahkan menghancurkan. Maka, akan banyak dari mereka yang salah mengambil jalan bahkan kadang tersesat. Bisa jadi mereka pun akan banyak musuh dan kebencian karena persaingan begitu luar biasa adanya.

sehingga mungkin, jika kita merasa sendiri maka kita sedang berada dijalan pintas. Di mana hanya berteman dengan kesungguhan, tekat, dan keikhlasan. Yang insyaa Allah kita akan lebih cepat sampai di dekat-Nya.

Sadari… saat-saat kita sendiri maka kemanakah fokus pikiran dan perasaan…?

Bukankah, hanya pada permohonan dan pengagunggan akan asma-asma-Nya. Tak sempat kita berurusan dengan manusia yang melenakan, pada urusan manusia yang melelahkan, dan pada urusan manusia yang menyia-nyiakan.

Nikmati dan syukuri akan keberadaan di jalan pintas itu. Sungguh, itu akan menyenangkan, meski duri penuhi kanan-kiri jalan. Tapi kita akan sampai lebih cepat di tempat tujuan.

Yakinlah bahwa, Allah SWT adalah pencipta yang paling sempurna. Tidak ada keburukan dalam setiap penciptaan-Nya kecuali dibalik itu pasti ada kenikmatan dan kemuliaan yang tidak bisa dinilai dan di ukur dari keberadaan dunia. Yang mana kenikmatan itu hanya butuh pada tempat yang lebih mulia dan pastinya ia yang kekal adanya.[]

Sumber:

Fb: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments