'MONSTER' ITU BERNAMA IMUNISASI

Oleh : Tachta Rizqi Yuandri

MEMBAHAS vaksinasi dan imunisasi, maka hingga saat ini, masih terdapat dua pihak yang saling berbeda pendapat, yakni pro dan kontra. Bukan hanya di Indonesia, di Inggris dan Amerika pun pro dan kontra seputar vaksinasi terjadi. Mengutip yang tertulis pada salah satu artikel, disebutkan bahwa eksistensi penolakan terhadap vaksinasi memiliki usia yang sama dengan eksistensi vaksinasi itu sendiri (1). Sebab, sejak Edward Jenner melakukan vaksinasi pada Tahun 1796 dan menyebarluaskan ilmunya pada Tahun 1798, penolakan pun segera muncul pada sekitar Tahun 1800an di negara tempat asalnya, Inggris.

Bahkan, pada 23 Maret 1885, sekitar 80.000 - 100.000 orang antivaksinasi melakukan demonstrasi di Leicester menolak kebijakan vaksinasi (2). Selain negara kelahiran Edward Jenner, AS juga menjadi salah satu negara yang mesti bersinggungan dengan para aktivis antivaksinasi. Pada Tahun 1905, untuk pertama kalinya Mahkamah Agung di Amerika Serikat mesti memberikan perhatiannya pada salah satu kasus yang berkaitan dengan kesehatan publik. Hal itu bermula dari penolakan salah satu warga Cambridge pada Tahun 1902. Awalnya warga tersebut, Henning Jacobson membawa kasus itu ke pengadilan setempat. Setelah kalah, ia membawanya ke MA.

Dua paragraf di atas memberikan gambaran singkat bagaimana vaksinasi dan imunisasi ditolak oleh sebagian kalangan pada abad ke-19 dan ke-20. Lalu bagaimana dengan abad ke-21? Masih ingat apa yang terjadi di AS pada Desember 2014 lalu? Negara tersebut dihebohkan oleh campak yang diduga berasal dari salah satu pengunjung di Disneyland. Yang membuat heboh adalah, dari salah seorang pengunjung tersebut, campak terus menyebar hingga terjangkitlah sekitar 90 warga California dan sekitarnya. Karena angkanya yang fantastis, peristiwa tersebut dianggap campak terparah sepanjang 2 dekade terakhir.

Padahal sebelumnya, AS dinyatakan bebas campak sejak Tahun 2000. Akhirnya, hal itu membuka kembali perseteruan antara pihak yang pro dengan yang kontra terhadap vaksinasi di negara tersebut. Sebab, Departemen Kesehatan California mengumumkan, bahwa orang-orang yang tidak mendapat vaksinasi menjadi penyebab penularan. Mereka yang tidak mendapatkan vaksinasi adalah anak-anak yang oleh orang tuanya tidak diperkenankan untuk mendapatkan vaksinasi. Sejumlah langkah tegas pun akhirnya diambil pihak pemerintah, salah satunya yakni Pemerintah California mewajibkan vaksinasi untuk anak usia sekolah. Aturan tersebut disahkan beberapa bulan setelah wabah terjadi, tepatnya 25 Juni 2015.

Lalu seperti apa penolakan di Indonesia? Tidak persis sama seperti di Inggris dan AS, di negeri ini, sebagian besar penolakan terhadap vaksinasi dan imunisasi didasari oleh tiga alasan utama. Pertama, vaksinasi dan imunisasi berbahaya bagi kesehatan, lalu merupakan konspirasi Kaum Yahudi untuk melemahkan Umat Islam, terakhir, vaksin mengandung zat yang diharamkan. Khusus untuk alasan terakhir, tidak jarang pihak MUI dilibatkan pada sosialisasi imunisasi yang dilakukan oleh pihak dinas kesehatan. Seperti yang dilakukan Dinkes Klaten pada Februari 2016 lalu.

Sejauh ini, tiga alasan utama itulah yang sering mengemuka. Berbahaya bagi kesehatan, konspirasi Yahudi untuk melemahkan Umat Islam, dan bertentangan dengan Syariat Islam karena ada zat yang diharamkan di dalam vaksin.

Penting untuk diketahui, sejak dimulainya gerakan antivaksinasi dan antiimunisasi hingga saat ini, tidak ada satu pun penjelasan ilmiah yang  dapat membuktikan bahwa vaksinasi dan imunisasi berbahaya bagi tubuh manusia. Kalaupun ada efek samping, itu memang benar. Akan tetapi, efek samping yang didapatkan jauh lebih kecil risikonya dibandingkan bila seseorang tidak diberikan vaksinasi atau imunisasi. Lalu, bagaimana dengan pernyataan para  ahli dan praktisi kesehatan yang sering dikutip dan dijadikan landasan bahwa vaksinasi dan imunisasi berbahaya bagi kesehatan?

Ada dua pernyataan ahli dan praktisi kesehatan yang bisa sedikit diulas pada tulisan ini. Pernyataan pertama dari Dokter Andrew Wakefield yang menyatakan Vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) atau Vaksin Gondong, Campak, dan Campak Jerman menyebabkan autis. Perlu diketahui, Wakefield bukan ahli vaksin, dia dokter spesialis bedah. Banyak penelitian lain oleh ahli vaksin di sejumlah negara menyimpulkan Vaksin MMR tidak terbukti mengakibatkan autis. Bahkan, setelah diaudit oleh tim ahli penelitian, terbukti bahwa Wakefield memalsukan data, sehingga kesimpulannya salah. Hal itu juga diumumkan pada Majalah Resmi Kedokteran Inggris, British Medical Journal pada Januari 2011. (3)

Ahli dan praktisi kedua yakni Mantan Direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika, Dr. James R. Shannon. Ia menyatakan pada Desember 2003, satu-satunya vaksin yang aman adalah yang tidak pernah digunakan. Perlu diketahui, satu-satunya mantan direktur pada institusi tersebut yang mengandung unsur nama James Shannon adalah Dr. James Augustine Shannon, lahir 1904 dan meninggal 1994 (4). Lalu siapakah James R. Shannon yang disebut-sebut menolak vaksin pada Desember 2003, dipastikan hal itu merupakan tokoh rekaan untuk menyesatkan pemahaman mengenai vaksinasi dan imunisasi.

Mempertegas dua paragraf terakhir di atas, hingga saat ini, tidak benar ada ahli vaksin sungguhan yang menyatakan, imunisasi berbahaya. Para "ahli vaksin" yang sering dikutip untuk memperkuat pernyataan antivaksinasi dan antiimunisasi ternyata tidak memiliki kapabilitas untuk berbicara dan menyatakan pendapat mengenai vaksinasi atau imunisasi. Sebab, mereka merupakan ahli statistik, psikolog, homeopati, bakteriologi, sarjana hukum, dan wartawan. Selain itu, mereka juga bekerja di sekitar 1950-1960, masa ketika manusia masih sulit untuk mengakses sumber data yang valid. (5)

Lalu, vaksinasi juga dikaitkan dengan konspirasi keluarga Yahudi yang memiliki pengaruh kuat di WHO. Padahal, WHO justru berhadapan dengan komunitas Yahudi Ortodok di New York dan London dalam menangani kasus campak. Para pejabat WHO juga mengadakan pertemuan di Vatikan untuk meluruskan kampanye hitam mengenai vaksin dan melibatkan para pemimpin dari gereja Katolik untuk membantu menghilangkan kampanye hitam tersebut. Pendekatan serupa juga diambil untuk menyelesaikan boikot vaksinasi polio di Nigeria ketika dilakukan perundingan antara pejabat WHO dan Organisasi Negara-Negara Islam. (6)

Alih-alih berkonspirasi menggunakan media vaksinasi, sebagian kalangan Kaum Yahudi, Kaum Kristiani, dan Kaum Muslimin, justru menolak vaksinasi secara terang-terangan. Lalu, apakah Kaum Yahudi menolak vaksinasi karena mereka lebih senang jika kaum agama lain yang menggunakannya? Ternyata hal itu juga keliru. Dilakukannya imunisasi justru menjadi salah satu perhatian utama di Israel. Anak-anak secara rutin diberikan imunisasi di klinik dan pengawasan terhadap imunisasi merupakan fondasi kuat bagi kebijakan kesehatan nasional di Israel (7).

Terakhir, vaksin menggunakan zat yang diharamkan sehingga bertentangan dengan Syariat Islam. Khusus terkait hal ini, terdapat sejumlah perbedaan di kalangan Umat Islam. Dalam hal ini, penulis mengutip salah satu pendapat Muhammad Shiddiq al Jawi mengenai penggunaan zat yang diharamkan dalam pengobatan. Menurutnya, dalam masalah tersebut, ada perbedaan pendapat (khilafiyah). Ada pendapat yang mengharamkan, seperti Ibnu Qayyim Al-Jauyziyyah. Ada yang membolehkan seperti ulama Hanafiyah. Ada yang membolehkan dalam keadaan darurat, seperti Yusuf Al-Qaradhawi. Dan ada pula yang memakruhkannya.

Pada tulisan tersebut, Shiddiq menyimpulkan bahwa berobat (at-tadaawi/al-mudaawah) dengan memanfaatkan benda najis dan haram hukumnya makruh, bukan haram. Landasannya, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitabnya Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah III/ 109-110 telah menjelaskan kemakruhannya, dengan jalan mengkompromikan dua kelompok hadits yang nampak bertentangan/ kontradiktif (ta’arudh) dalam masalah tersebut.

Dengan demikian, vaksinasi dan imunisasi jelas mesti ditolak jika terbukti berbahaya bagi manusia, jika terbukti konspirasi melemahkan Umat Islam, dan jika terbukti memang mutlak diharamkan. Realitasnya, dari ketiga alasan tersebut, tidak ada satupun yang dapat dibuktikan. Kalaupun sebagian kalangan ada yang mengharamkan vaksin karena zatnya, hal itu merupakan bagian dari perbedaan pendapat di kalangan Umat Islam. Tidak tepat bila sebuah perbedaan yang dibolehkan lalu mesti disamakan. Sebab, ini bukanlah perkara seperti perjudian atau prostitusi yang jelas mesti ditolak Umat Islam. Atau perkara penegakan Khilafah yang wajib dilakukan oleh Umat Islam.

Tidak ada urgensinya memengaruhi masyarakat untuk menolak vaksinasi dan imunisasi. Alih-alih menyadarkan, bisa jadi secara tanpa sadar memengaruhi masyarakat untuk menolak vaksinasi dan imunisasi merupakan bagian dari konspirasi untuk melemahkan Umat Islam.***

(1) http://m.historyofvaccines.org/content/articles/history-anti-vaccination-movements

(2) The Fight Against Vaccination: The Leicester Demonstration of 1885 Christopher Chariton

(3) http://briandeer.com/mmr/lancet-summary.htm

(4) http://www.nytimes.com/1994/05/24/obituaries/james-a-shannon-89-is-dead-ex-director-of-health-institutes.html

(5) http://m.antaranews.com/berita/292632/tanya-jawab-kehalalan-dan-keamanan-vaksin

(6) http://www.who.int/bulletin/volumes/92/2/14-030214/en/

(7) http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2092908

Keterangan Foto : Mochi (2) dan Qianny (5) Lagi Makan Sambil Nonton TV. Foto Diambil Oleh Ibu Saya, Eryu Srie Heryutati.

Post a Comment

0 Comments