INDONESIA - MALAYSIA, SATU SUKU BEDA BANGSA

Oleh : Doni Riw

BEBERAPA tahun yang lalu, tepatnya tahun 2013, saya membawa rombongan group musik saya untuk perform dalam konser bertajuk Asia Musik Festival di Sarawak Malaysia.

Asia Musik Festival menghadirkan belasan group musik etnik kontemporer dari berbagai negara asia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Korea Selatan, India, Thailand, Dubai, dan Uni Emiray Arab.

Kamar hotel kami kebetulan bersebelahan dengan kamar musisi dari Sarawak. Berinteraksi dengan mereka, kami merasa seperti bertemu saudara sekandung yang lama tak berjumpa.

Dari hasil obrolan, kami tahu bahwa group musik mereka beranggotakan teman-teman suku bangsa Dayak rumpun Iban dan rumpun Bidayuh.

Mengetahui fakta itu saya senyum-senyum sendiri. Betapa tidak? Mereka ini suku Dayak berbangsa Malaysia, berbeda bangsa dengan saudara suku Dayak di Kalimantan yang berbangsa Indonesia.

Sesama suku Dayak tetapi berbeda bangsa; satu pihak bangsa Indonesia dan pihak lain bangsa malaysia. Ini adalah konsep berbangsa yang paling absurd di seluruh dunia. Karena kita tahu, bahwa hirarkinya adalah Bangsa, Suku, Rumpun.

Tiba saat Pers Conference, lagi-lagi kami bersebelahan. Pertanyaan standar dari wartawan kami jawab dengan lancar. Hingga tiba satu pertanyaam yang membuat gempar pers conference siang itu yaitu soal klaim produk kesenian antar Indonesia Malaysia.

Setelah musisi malaysia menjawab dengan normatif, demi saling menjaga perasaan peserta, saya putuskan untuk menjawab dengan fakta absuriditas kebangsaan kita.

Pada dasarnya, orang Indonesia & Malaysia adalah satu bangsa yaitu bangsa melayu. Konsep perbedaan bangsa antara Indonesia dan Malaysia adalah sisa hasil penjajahan. Bahwa yang dijajah Belanda akhirnya mendefinisikan diri sebagai bangsa Indonesia, sementara yang dijajah Inggris mendedinisikan diri sebagai bangsa Malaysia.

Jadi, perbedaan kebangsaan antara Indonesia bukanlah sesuatu yang natural, tidak alami, alias rekayasa. Maka tidak aneh ketika di kemudian hari muncul suku Dayak berbangsa Malaysia dan suku Dayak berbangsa Indonesia.

Sebelum kedatangan penjajah Belanda dan Inggris, mereka sungguh satu bangsa, bangsa melayu. Maka tak heran ketika produk seni dan budaya mereka saling beririsan.

Menjadi kocak ketika di kemudian hari mereka saling klaim, bertengkar, sampai seolah harus diselesaikan dengan perang. Ini sungguh konyol. Kita bertengkar demi perbedaan mantan penjajah.

Tepuk tangan bergemuruh begitu saya selesai menyampaikan itu. Walhasil, pers conference siang itu seolah berubah menjadi kuliah umum tentang absuriditas kehidupan berbangsa kita.

Sumber:

Fb: Doni Riw


Post a Comment

0 Comments