Ibu, Si Pengepul Rindu

Oleh: Nafila Rahmawati

MENJADI Ibu adalah perjalanan mengumpulkan rindu. Atas hal sederhana yang pernah dilakukan dengan nada menggebu dan keikhlasan yang diramu.

Sepuluh tahun pertama menjadi Ibu, mungkin kita akan akrab dengan melankolisme yang pernah direkam dalam ritme.

Rindu pada berburu ilmu laktasi dan menyusun menu mini MPASI, sementara kini anak kita telah khatam memilih fast food untuk preferensi.

Rindu pada gendongan dan buaian yang membuat si bayi tertidur lelap, sementara kini merekapun telah mandiri tidur dalam gelap.

Rindu pada keharuan mengawal setiap milestone pertama, sementara kini mereka telah berloncatan kesana kemari tanpa jeda.

Sepuluh tahun kedua menjadi Ibu, mungkin kita akan merindukan membesarkan ulang balita yang lucu.

Rindu pada malam syahdu menyusui dan menidurkan anak yang tengah demam, sementara kini lebih sering menunggu anak yang pulang malam.
Rindu membacakan buku untuk si ceriwis, sementara kini mereka sudah lantang dengan kemampuan menangkis.
Rindu menjadi saung tempat anak bermanja, sementara kini mereka mulai berdikari dengan kawan sebaya dan dunianya.

Sepuluh tahun ketiga menjadi Ibu, mungkin kita akan lebih sering larut dalam rindu yang haru.

Rindu momen bercerita sepulang sekolah, sementara kini anak-anak kita pergi berburu ilmu ke sudut negeri antah berantah.
Rindu menasihati mereka dengan sesorah tentang akhlak dan kehidupan, sementara kini mereka melangkah dalam kemandirian.
Rindu menggamit tangan mereka ketika berjalan, sementara kini mereka telah menemukan jodoh dan berpasangan.

=====

Berapa karung rindu yang akan terkumpul selama perjalanan kita menjadi Ibu?

Berapa banyak sesal yang akan menjadi kekal ketika rindu yang kita kumpulkan adalah hasil dari tipisnya kebersamaan yang tidak kita maksimalkan?

Karena rindu itu bukan hanya bersemayam pada rongga keibuan, namun juga mengerak pada hati sang anak.

Ketika ketidaksungguhan kita, kemalasan kita, kelelahan kita, ketidakmampuan kita dalam belajar, keacuhan kita, ke-akuan kita dalam menjalani peran sebagai Ibu menjadi pembenaran untuk menyisakan tenaga "injury time" untuk membesarkan anak, maka ruang rindu tersebut nantinya bukan diisi oleh kebahagiaan.

Melainkan biru lebam penyesalan sebab amanah yang khilaf kita tinggalkan.

Seorang Ibu adalah inang untuk anak mereka, payung teduh untuk suami mereka dan dinamo untuk diri mereka sendiri.

Setiap pilihan tidak lagi bisa sederhana, tidak lagi bisa berkutat pada gravitasi "aku ingin" saja karena ada lebih dari dua nyawa yang membutuhkan porsi perhatian yang bijaksana.

Jika kuantitas tidak selalu sejalan dengan kualitas, maka pastikan waktu yang kita beri untuk anak kita terangkum dalam totalitas.

Seorang Ibu mungkin siaga secara fisik di rumah, namun jemari dan konsentrasinya melalang buana dalam akun-akun sosial media. Seorang Ibu mungkin mampu membersamai anak mereka di penghujung hari, tapi masih saja porsinya tereduksi oleh kegiatan ke-akuan lain tanpa henti.

Meminta anak untuk selalu memahami (kesibukan) kita yang sebenarnya masih bisa kita tunda prioritasnya, adalah bentuk egoisme level dewa.

Karena anak tidak meminta untuk kita lahirkan, kitalah yang selalu mengemis pada Tuhan agar mereka terhadirkan.
Untuk kemudian sendi-sendi kewajiban sebagai Ibu dalam membersamai anak lantas kita gugurkan dan menjelma ulang menjadi rindu karena tidak mampu menemani sejak dulu.

Rekam jejak rindu yang kita kumpulkan, hanya akan terputar manis dalam skenario kebersamaan.
Bukan dari limpahan materi atau adiksi gadget yang kita timang masing-masing di tangan sendiri. Bukan dari berapa banyak upload foto wefie yang setelahnya kita kembali sibuk dengan aktivitas tanpa afeksi.

Maka sediakan memori indah sebanyak mungkin, sedini mungkin, sedekat mungkin dengan anak-anak kita.
Maka bekalkan diorama terbaik dan termanis, termulia dan terbijaksana untuk dikenang bersama ketika kita merindukan anak kita dan untuk bekal anak ketika merindukan kita.
Maka jalankan episode sekarang dengan sebaik-baiknya peran, dengan porsi utuh kesabaran karena waktu akan menggeret anak-anak kita lebih cepat daripada kita duga.

Selamat menjadi Ibu, selamat menjadi pengepul rindu. Pastikan rindu yang kita endapkan selalu bisa diputar ulang dalam ritme syukur yang kita alunkan.


Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments