Ibu Bisa Apa Saja Kok

Oleh: Nurliani

BISMILLAH. Pernah satu waktu datang seorang ibu bercerita panjang lebar kepada saya.

Mba, saya kok merasa gak bisa apa-apa ya. Semasa kecil dan remaja tidak dibekali ketrampilan pekerjaan rumah. Jadilah kini mulai merasa kesulitan. Seingat saya, saat itu tugas saya belajar, belajar, dan akhirnya berprestasi ( akademik ).

Gimana ya mba?

Mendengar seorang ibu rumah tangga mengeluh begitu, "merasa" tidak memiliki kepandaian, kemampuan diatas rata-rata terhadap satu bidang tertentu begitu saya menjadi lantas tersenyum.

Sama bu, sayapun kemampuannya rata-rata juga kok perihal urusan rumah tangga. Sambil tersenyum mencoba ringan untuk menjawab kekurangan yang juga saya miliki.

Banyak hal yang dulu saya pelajari, tapi gak ada yang merasa istimewa saat ini. Awalnya saya merasa sempat bersedih. Pernah bilang ke suami. Sekian tahun rumah tangga kita sekian lama, kok ya begini-begini saja ya kemampuan saya.

Masakan standar saja bisanya. Bikin kue yang itu lagi itu lagi. Nggak berani mencoba menu baru.

Mau pegang jahitan, udah berasa deg-degan duluan.

Menyetir mobil, kursus 2x nggak kelar-kelar . Mengendarai motor cuma seputaran dekat komplek rumah.

Mendidik dan mengasuh anak masih kadang kelepasan ngomel.

Melayani suami, ya gitu deh..mungkin kalau suami saya kasih nilai 7 udah cakep banget.

Nah dengan segala kekurangan begitu yang pernah diutarakan ke suami, saya sambil nangis berkaca-kaca. Baper.

Suami pun setelah tangis saya mulai reda baru kemudian mulai ngomong beberapa hal yang bikin diri ini tersadar perlahan-lahan.

Bertahun-tahun menikah, melihat anak yang sekian banyak sering dalam keadaan sehat, sering tertawa, rumah bersih sore hari, kesana kemari yang dipanggil uminya, ada kajian bercerita dirumah saat malam hari itu siapa yang berperan?

Suami nanya sambil saya berfikir. ya saya sih, iya tapi itu juga kan karena dibantuin sama asisten, sama suami. Bukan kerja ku sendirian.

Oh gitu ya. Menurutmu apakah ibu yang sukses itu yang berhasil mengerjakan segala hal sendirian namun akhirnya sulit tersenyum?

Apakah rumah tangga yang dikatakan berhasil itu, ayah mencari nafkah sebanyak-banyaknya kemudian ibu mengurus rumah dan anak sebaik-baiknya tanpa perlu bantuan orang lain?

Ya nggak gitu juga sih. Jawab saya agak berat saat itu, bu.

Lantas suami bilang, tahukah kamu kekuatan istri dan ibu yang kelihatannya gak memiliki kemampuan istimewa tapi sebenarnya telah mampu melengkapi yang kurang disana-sini didalam rumahnya. Sehingga semua terasa berjalan sempurna.

Menjaga anak-anak dan suami tetap sehat, bukankah itu prestasi?
Memastikan rumah menjadi nyaman ditempati, bukankah itu keberhasilan?
Melihat anak-anak semakin hari, semakin baik dalam bertingkah laku dan mengikuti pelajaran disekolah dengan baik apakah bukan prestasi?
Mengatur uang belanja, segala hal printilan detail dengan apik hingga cukup sampai akhir bulan, bukankah itu juga keberhasilan?

Kalau saja itu bisa diukur dengan uang, tentu uang hasil pekerjaan seorang istri yang seabreg dirumah ini sudah sangat banyak sekali. Hanya saja banyak suami yang belum sanggup melakukan itu. Semoga Allah yang membalasnya saja di akhirat kelak ya.

Begitu suatu hari beliau meyakinkan saat saya merasa terpuruk dan mulai jenuh dengan aktivitas rumah tangga rutinitas.

Sejak itu saya mulai lega, belajar lagi lapang hati. Melihat yang ada dirumah sendiri, begitu banyak hal yang telah diperbuat. Walau bisa jadi sekedar tambal sulam sana sini. Namun tetap disyukuri.

Terkadang memang perolehan prestasi yang seorang istri, ibu lakukan dan diraih buat keluarga sulit banget bisa kelihatan. Apalagi jika upaya yang dilakukannya dalam senyap, tidak ada janji balasan pesiar wisata kesana kemari. Belum ada yang kasih bonus uang saku.

Namun yakinlah wahai istri, ibu apa yang dilakukan kemarin, hari ini, dan esok hari saat menjalani peran, telah menorehkan tinta perjuangan membangun peradaban. Tergores hingga menembus ke langit. 

Berjanjilah untuk senantiasa memperbaiki diri, menambah ilmu hari demi hari. Mempercantik akhlak diri ketika menjadi ibu dan istri.

Bersemangatlah terhadap hal yang membawa kebaikan dan kemanfaatan bagi orang lain. Bisa jadi peran sepi, perbuatan tersembunyi yang malah menjadi pemberat timbangan di yaumul hisab. Itu saja yang terpenting. Menjaga  keikhlasan.

Sungguh sekecil apapun peran itu hari ini, jika hanya berharap mencari ridho Allah, melepas pengharapan manusia maka akan diganjar dengan kebaikan dan surgaNya kelak. Bersabarlah untuk sejenak. Bersabarlah saja sementara.

Nurliani
-yang banyak kurangnya disana sini

Sumber:

Fb: Nurliani Ummu Nashifa- Zhafira

Post a Comment

0 Comments