Hukum Khalwat

Pertanyaan : Budaya khalwat saat ini sudah menjadi corak kehidupan masyarakat, bahkan di negeri-negeri yang mayoritas penduduknya muslim seperti Indonesia. Berduaan di kalangan muda mudi muslim sangat lazim dilakukan tanpa merasa ada yang salah (dosa).  Bagaimana sebenarnya Syariat Islam memandang masalah ini ya ustadzah? ( Dwi, Surabaya)

Jawab:
Allah SWT telah mengutus Rasulullah Saw dengan membawa risalah yang sempurna untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.  Risalah tersebut turun untuk mengatur semua hal yang berkaitan dengan interaksi manusia dengan Rabbnya (ibadah), dengan dirinya sendiri ( makanan, minuman, akhlaq) , maupun interaksi dengan sesama manusia (muamalah). Tidak ada satu pun amal perbuatan manusia yang tidak diatur oleh Sang Kholiq Al Mudabbir. Manusia punya kewajiban untuk terikat dengan semua ketentuan Syariat yang telah dibawa oleh Rasulullah Saw karena kelak akan dipertangungjawabkan dihadapan-Nya di hari kiamat.

Pengertian khalwat
Khalwat adalah menyendirinya seorang laki-laki dan seorang perempuan, bertemu dan berinteraksi di suatu tempat yang tidak memungkinkan orang lain bergabung/nimbrung kecuali dengan izin keduanya. Sebagai contoh sepasang laki-laki dan perempuan duduk berdua di sebuah sudut café/kantin, di sebuah rumah, bahkan di sudut masjid. Ketika ada 2 orang saja yang sengaja menyepi atau menyendiri, memisahkan diri dari khalayak ramai tentulah orang lain yang akan bergabung harus meminta izin dulu kepada keduanya. Khalwat ini merupakan perbuatan yang bisa mengantarkan kepada kemaksiatan berikutnya yang lebih besar. Karena itu Islam melarang dengan tegas setiap bentuk khalwat yang dilakukan seorang pria dengan seorang wanita yang bukan mahram.

Dalil tentang khalwat:
Hadist Ibnu Abbas r.a. yang diriwayatkan Bukhari, rasulullah saw bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بإِمرأةٍ الاَّ مَعَ ذِي مَحرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan perempuan kecuali bersama mahramnya.”
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul bari menyatakan bahwa hadist ini menunjukkan pengharaman khalwat antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram. Hal ini disepakati para ulama dan tidak ada perbedaan tentangnya.
Rasulullah juga bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بإِمرأةٍ فَإِنَّ ثاَلِثُهُماَ الشَيْطَنُ
“Janganlah sekali-kali seorang  laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali wanita itu diserai mahramnya (karena) yang ketiga adalah syaitan”. (HR muslim dari jalur Ibnu Abbas)

Di dalam hadist di atas Nabi Saw mengatakan bahwa syaitan akan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua. Maksudnya, syaitan menjadi penengah di antara keduanya dengan membisikkan kepada mereka unuk melakukan kemaksiatan dan menjadikan syahwat mereka bergojolak dan dan menghilangkan rasa malu. Syaitan akan menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah di mata mereka berdua sehingga mereka pun terjatuh dalam kenistaan (zina) atau perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara yang merupakan pembukaan dari zina.

Dengan melarang khalwat ini, syariah Islam telah memberikan pemeliharaan (penghalang) di antara pria dan wanita sehingga terjaga dari hubungan seksual yang tidak disyariatkan. Allah telah menjadikan penjagaan iffah (kehormatan) sebagai suatu kewajiban. Dalam rangka menjaga iffah, kemuliaan dan akhlaq karimah, Islam telah menetapkan larangan berkhalwat ini, di samping juga memerintahkan menutup aurat,menundukkan pandangan,memisahkan kehidupan antara laki-laki dan perempuan (tidak bercampur baur dengan yang bukan mahram), dsb.

Dijawab oleh: [Ustazdah Faizah Majid]

Post a Comment

0 Comments