Hilangkah Garam di Negeri Maritim?

Oleh : Sahna Salfini Husyairoh
(Mahasiswi Muslim)

BEBERAPA pekan terakhir ini warga dikejutkan dengan melonjaknya harga garam dipasaran. Keluh Rahma seorang ibu  rumah tangga dikawasan Pasar Rumput, Jakarta Selatan yang harus mengeluarkan uang Rp. 3000 untuk sebungkus garam dengan merk sama yang awalnya Rp. 1000 sebelum Hari Raya Idul Fitri (www. bbc.com, 2/08/2017).

Garam dapur merupakan _Natrium clorida_ yang dihasilkan dari air laut. Garam memiliki fungsi sebagai penyedap dan pengawet makanan/ikan, serta kaya khasiat yang lainnya. Garam juga termasuk kebutuhan utama rumah tangga dan industri makanan.Sehingga tak heran jika garam sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebutuhan garam juga meningkat tiap tahun. Menurut Tabloid Agro Indonesia Volume XIII NO 635, 18-24 April 2017, produksi garam rakyat tahun 2016 menjadi catatan buruk kinerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hanya dalam kurun satu tahun sejak produksi garam rakyat nyaris menembus 3 juta ton pada 2015, setahun berselang produksi terjun bebas tinggal 118.054 ton atau 3,7% dari target 3,2 juta ton. Padahal, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sudah memasang target tahun 2016 produksi garam bisa swasembada, Artinya, garam konsumsi tercukupi dan garam industri minimal terpenuhi 50% dari kebutuhan 2 juta ton/tahun. Permintaan yang tinggi tersebut berbanding terbalik dengan pasokan garam yang terbatas. Produksi garam nasional yang minim diakibatkan dengan berbagai faktor.  Cuaca yang tidak menentu (Hujan terus-menerus) dianggap faktor utama penghambat produksi garam yang minimalis.
Selain itu juga, proses pembuatan garam secara tradisional yang hanya mengandalkan sinar matahari dan alat tradisional (pengeruk kayu dan kincir angin) tidak mendukung peningkatan kapasitas garam.

Padahal tidak sesuai dengan julukan bahwa Indonesia merupakan negara Maritim yang memiliki garis pantai terpanjang nomor dunia di dunia (setelah Kanada), dengan panjang 99.093 km (Antara News, 2015).
Selain itu pula, suatu hal yang aneh jika para intelektual menyebutkan iklim merupakan faktor penghambat, seharusnya melihat hal tersebut sebagai potensi yang perlu diselesaikan dengan solutif. Sebenarnya jika melihat keahlian para ilmuwan di Indonesia, banyak sekali ilmuwan yang membuat inovasi baru dalam menangani kasus kelangkaan garam. Akhir-akhir ini tepatnya 4 Agustus 2017 kemarin mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya menemukan alat pembuat garam yang tak begitu susah prosesnya.
Sehingga ketika memaksimalkan kinerja para ahli dan memperbaiki program untuk garam rakyat yang selama ini belum berjalan maksimal, tentunya tidak mengambil jalan pintas dengan impor tanpa solusi terbaik untuk jangka panjang.

Namun, mengapa potensi tersebut malah membuat kelangkaan?
Seperti yang diketahui, pengelolaan sumber daya alam (SDA) kurang kondusif tersebut juga kurang perhatiannya pemerintah terhadap petani garam, program-program belum sepenuhnya berjalan optimal sehingga produktivitas tidak memenuhi target.
Selain itu juga, privatisasi (swastanisasi) dalam berbagai lini industri ditangani oleh pengusaha (perseorangan) sehingga kesejahteraan kurang dirasakan secara menyeluruh, dan proses kecurangan atau penimbunan dengan mudah terjadi karena pengawasan yang kurang ketat.

*Pengelolaan sumber daya alam Islam*
Dalam prespektif Islam barang tambang adalah milik umum yang harus dikelola hanya oleh negara dimana hasilnya harus dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk barang yang murah atau subsidi untuk kebutuhan primer semisal pendidikan, kesehatan dan fasilitas umum lainnya. Paradigma pengelolaan sumberdaya alam milik umum yang berbasis swasta atau (corporate based management) harus dirubah menjadi pengelolaan kepemilikan umum oleh negara (state based management) dengan tetap berorientasi pada kelestarian sumber daya (sustainable resources principle).
Pendapat bahwa sumber daya alam milik umum harus dikelola oleh negara untuk hasilnya diberikan kepada rakyat dikemukakan oleh An-Nabhani (1996) berdasarkan pada hadits riwayat Imam At-Tirmidzi dari Abyadh bin Hamal. Dalam hadits tersebut, Abyad diceritakan telah meminta kepada Rasul untuk dapat mengelola sebuah tambang garam. Rasul meloloskan permintaan itu, tapi segera diingatkan oleh seorang shahabat,
“Wahai Rasulullah, tahukah engkau, apa yang engkau berikan kepadanya? Sesungguhnya engkau telah memberikan sesuatu yang bagaikan air mengalir (ma’u al-‘iddu)” Rasulullah kemudian bersabda: “Tariklah tambang tersebut darinya”. (Sutrisno, A. D, 21/08/2008).

Sehingga potensi sumber daya alam seharusnya ditangani negara dengan bijak dan dapat dimanfaatkan oleh rakyat tanpa ada kedzaliman atas kebijakan yang dibuat, serta harus memenuhi syariat Islam agar membuat sejahtera bagi semua umat manusia.[]

Post a Comment

0 Comments