Ditolak!

RemajaIslamHebat.Com - Menulis itu tidak mudah. Ini bagi saya. Apalagi jika menulis artikel yang bersifat ilmiah seperti artikel tsaqafah. Proses menulisnya agak ribet. Perlu membuka banyak referensi kitab-kitab  dan butuh waktu yang lama. Tak jarang butuh diskusi dengan teman yang ilmunya sudah mumpuni. Butuh kehati-hatian, banyak doa dan ketelitian agar apa yang disampaikan benar-benar kebenaran dari Allah, bukan muncul dari kebodohan kemudian menyesatkan, ma’adzallah.

Namun, lebih tidak mudah lagi saat tulisan yang dibuat dengan kesungguhan tadi ditolak terbit oleh media yang kita tuju. Padahal inginnya sih, namanya usaha atau effort besar, hasilnya juga besar. Manusiawi lah ya. Tulisan dibuat satu hingga dua minggu, inginnya dimuatnya di media nasional. Sayangnya, tak selalu karya yang ditulis sepenuh hati itu diterima, terkadang ditolak juga. Artinya, tulisan yang kita fikir itu sudah ravisi ter-fix dan sesuai standard media yang kita tuju, ternyata salah. TUlisan kita tak cukup baik menurut mereka. Tak layak dihargai dengan dimuat di media mereka, karena mereka punya standard tersendiri untuk medianya. Rasanya?...MAnusiawi, saya kecewa.

Kadang saya terfikir, entah bagaimana rasanya jika nanti, di yaumil akhir saat hari pertanggungjawaban, amal-amal kita ditolak Allah. Amal yang mungkin saat di dunia kita sudah dengan PDnya merasa bersungguh-sungguh menjalaninya agar Allah ridho dan membalasnya dengan pahala, tak diterima Allah. Sebagaimana dalam hadits, Allah memerintahkan malaikat untuk memukulkan catatan amalnya pada pemiliknya. Kenapa? Karena semua kepayahannya dalam beramal sama sekali tak ada artinya di hadapan Allah.

Sebagaimana yang Allah kabarkan dalam surat al-Ghasyiyah ayat 2-4.
ً
“Banyak muka pada hari itu tunduk terhina. Bekerja keras lagi kepayahan. Memasuki api yang sangat panas (neraka)”.

Ya mereka tertunduk karena amal-amal yang mereka lakukan denga bersusah payah hanya membuat mereka masuk neraka (Tafsir Ibnu katsir).
.
.
Lalu bagaimana agar amal kita tak ditolak Allah? Tapi justru Allah ridho dan senang dengannya, lalu membalasnya dengan pahala dan surge?

Maka kita hrus beramal sesuai stndardnya Allah. Amal yang ihsan, yang baik. Sebagaimana firman Allah dalm surat al-Mulk ayat 2.

“Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2),

beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan paling showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”
Mengenai ayat ini, Al Fudhail bin ‘Iyadh lalu berkata,  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” Jami’ul Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 20, Darul Muayyad, cetakan pertama, 1424 H.

Inilah rahasia jka ingin berbahagia di hari pembalasan nanti. Kita ingin semua amal yang kita lakukan dalam semua peran kita baik sebagai individu, sebagai anak, sebagai istri, sebagai suami, sebagai ayah, sebagai ibu dan amal sekecil apapun, semua Allah balas dengan pahala. Semuanya menjadikan kita layak mendapatkan surga. Allahumma Aamiiin.

Sumber:

Fb: Wardah Abeedah

Post a Comment

0 Comments