Dirgahayu Indonesia: Antara Penghambaan dan Penjajahan

Oleh : Yuliani, S.Pd. (Mahasiswa Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

INDONESIA akan merayakan kemerdekaannya yang ke 72 tahun, usia tersebut sudah bisa dikatakan matang – jika tidak mau dikatakan tua – usia yang cukup untuk menggapai segala keinginan dan harapannya. Untuk merayakan hari kemerdekaan itu, terlihat lambaian kain berwarna merah putih di sepanjang jalan, lampu hias, spanduk, dan baliho menyemaraki sambutan hari merdeka, tulisan ‘Dirgahayu Kemerdekaan’ pun mendominasi.

Bicara mengenai arti kemerdekaan, dalam KBBI merdeka artinya bebas dari penghambaan, penjajahan, dll; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; atau leluasa. Merdeka berarti bebas dari penjajahan, baik penjajahan yang bersifat fisik ataupun non fisik. Bukan hanya penjajahan, namun juga bebas dari penghambaan terhadap para hamba yang lemah.

Sejarah Indonesia telah bercerita tentang fakta betapa tersiksanya bangsa ini di bawah kungkungan penjajah yang seenaknya merampas kekayaan tanah air, yang seharusnya dinikmati oleh bangsanya sendiri. Di bawah kesombongan kolonialisme dan imperialisme para penjajah dengan mudah menumpahkan darah para pejuang kemerdekaan negeri ini.
Menjelang hari H, di hari jadinya yang ke 72, bangsa Indonesia telah berdiri, namun benarkah di atas kakinya sendiri?

Di hari kemerdekaannya, benarkah Indonesia telah mampu menikmati dengan layak semua kekayaan alamnya?

Di hari – yang katanya – bebas dari penjajah, benarkah penjajah telah terusir?itu jika kita bicara skala bangsa.

Jika bicara skala individu yang menjadi pengisi negeri ini, benarkah mereka menjadi generasi penjaga kemerdekaan? benarkah mereka juga pejuang yang mempertahankan kebangkitan negeri ini? Atau justru kebangkrutan?

Hanya dengan melirik arti dari kata merdeka itu, tentu naluri kita tergelitik untuk kembali menanyakan ‘benarkah kita sudah merdeka?’. Menelisik lebih jauh mengenai arti kemerdekaan, penulis berharap perayaan tahunan ini bukan hanya diisi oleh euphoria yang bersifat absurd tanpa makna.

Fakta mengenai negeri ini telah terbentang sepanjang mata memandang. Bagaimana tidak, aspek ekonomi, sosial, politik, hukum, maupun budaya tidak terbebas dari penjajahan gaya baru yaitu Neo Liberalisme dan Neo Imperialisme. Bentuk penjajahan gaya baru tersebut membuat negeri Indonesia tercinta tak mampu berdiri di atas kakinya sendiri.
Neo liberalisme menghendaki pengurangan peran negara pada bidang ekonomi, karena itu privatisasi seolah menjadi jalan satu-satunya untuk memperbaiki kinerja BUMN. Lebih jauh karena banyaknya kebijakan neo liberalisme yang berujung pada privatisasi membuat negeri ini ketergantungan hutang. Hutang Indonesia per 30 April saja sudah mencapai Rp.3.667 triliun, hutang itu naik Rp. 201 triliun dibandingkan posisi Desember 2016 (kompas.com 11/8).

Dengan adanya hutang tersebut negeri-negeri imperialis memaksa pembentukan kebijakan struktural yang memuluskan kepentingan negara-negara mereka, seperti penghapusan subsidi, privatisasi BUMN dan aset kekayaan alam, dan liberalisasi sektor keuangan maupun perdagangan. Dampak yang terasa saat ini adalah munculnya kebijakan impor garam yang semakin menjauhkan negeri ini dari kata ‘mandiri dan berdaulat’. Perkataan menteri keuangan dalam sebuah diskusi forum pada tanggal 27 Juli yang lalu, seperti yang dilansir kompas.com mengatakan ‘kenapa takut hutang? Harta kita banyak’. Sungguh pernyataan yang tidak masuk akal, pernyataan menteri keuangan tersebut mengundang respon yang kontroversial, hingga banyak netizen yang mempertanyakan kembali ‘kalau banyak harta, kenapa harus hutang?’.
Di bidang sosial kemiskinan masih menjadi persoalan utama negeri ini, kesulitan mencari pekerjaan menjadi pemicu munculnya kriminalitas, tingginya kriminalitas juga dipengaruhi beberapa faktor seperti tingkat pendidikan dan hukum yang kurang tegas. Pendidikan di Indonesia belum menghasilkan generasi dengan mental pejuang layaknya pendahulu yang memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Terjeratnya generasi muda negeri ini dalam gelapnya dunia narkoba, geng motor yang ugal-ugalan, dan pergaulan bebas membuat negeri ini semakin bangkrut. Di level birokrat korupsi semakin merajalela, tertangkapnya bupati Pamekasan yang juga melibatkan kepala kejaksaan negeri, kepala inspektorat dan kepala bagian administrasi, hingga kepala desa (kompas.com 10/8) sungguh membuat miris.

Ketidaktegasan hukum di negeri ini juga melahirkan tindakan main hakim sendiri, hilangnya nyawa Zoya awal Agustus lalu menjadi bukti ketidak percayaan masyarakat terhadap hukum negeri ini. Di sisi lain seorang pimpinan DPR yang telah menjadi tersangka dibiarkan memimpin sidang terkait kebijakan negeri ini, benar-benar ironis.

Kemerdekaan sejati

Jika merdeka diartikan dengan bebas dari penjajahan dan penghambaan, maka negeri ini belum sepenuhnya lepas dari penjajahan, negeri ini juga belum lepas dari penghambaan. Di negeri dengan populasi muslim terbesar di dunia ini, masih banyak masyarakat yang menghamba terhadap hawa nafsu. Padahal kepada siapa lagi penghambaan diberikan kalau bukan kepada Allah SWT. Negara dan individu di dalamnya adalah komponen bangsa yang harus terlepas dari penghambaan terutama penghambaan terhadap hawa nafsu.

Yunus bin Bukair ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah menulis surat kepada penduduk Najran, isinya adalah sebagai berikut:
أَمّا بَعْدُ فَإِنّي أَدْعُوكُمْ إلَى عِبَادَةِ اللّهِ مِنْ عِبَادَةِ الْعِبَادِ وَأَدْعُوكُمْ إلَى وِلاَيَةِ اللّهِ مِنْ وِلاَيَةِ الْعِبَادِ

"Amma ba’du. Aku menyeru kalian ke penghambaan kepada Allah dari penghambaan kepada hamba (manusia). Aku pun menyeru kalian ke kekuasaan (wilâyah) Allah dari kekuasaan hamba (manusia)" (Ibn Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, v/553, Maktabah al-Ma’arif, Beirut).

The Founding Father kita dalam Muqoddimah Undang Undang Dasar 1945 mengakui bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia diraih atas berkat rahmat Allah SWT, hal ini berarti kemerdekaan haruslah diisi tanpa melupakan Tuhan yang telah memberikan kita nikmat kemerdekaan ini. Dan bagi seorang individu yang merdeka pikiran dan perilakunya haruslah distandarkan pada pertimbangan rasional, dimana pertimbangan rasional tersebut disandarkan pada aturan Allah SWT. 
Dalam sebuah ungkapan Imam Ali ra menjelaskan  ”Seorang budak beramal karena takut hukuman, pedagang beramal karena menginginkan keuntungan, dan orang merdeka beramal karena mengharap keridhaan dari Allah swt.”

Bagi individu negeri ini yang masih terbelenggu oleh hawa nafsunya sendiri, sudah dapat dipastikan bahwa ia belum merdeka, kehidupannya selalu dituntun hawa nafsu layaknya berlari tanpa garis finish Ketidaktenangan meliputi kehidupannya, dalam Alquran Allah SWT berfirman:

“Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta". (TQS. Thaha: 124)

Sedangkan dalam firmanNya yang lain:

“Adapun orang yang melampaui batas. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (TQS. AN-Naziat: 37-39)

Sedangkan dalam konteks masyarakat, kemerdekaan adalah ketika mereka tidak lagi mengikuti pola pikir, perilaku, dan budaya negeri penjajah. Kita bisa mencontoh bagaimana masyarakat yang dibangun oleh Rasulullah SAW di Madinah, masyarakat yang tadinya mudah bertengkar hanya karena ikatan yang rapuh dapat bersatu dibawah ukhuwah islamiyyah yang membawa ketentraman dan kedamaian, budaya syirik dan khurafat peninggalan nenek moyang mampu ditinggalkan, yang kemudian diganti dengan budaya Islam yang luhur. Kenyataannya pola pikir masyarakat kita saat ini masih belum sepenuhnya meninggalkan pola pikir dan sikap dari para penjajah. Kebebasan berekspresi, hedonisme, dan individualisme menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat saat ini yang menjangkit seluruh lini kehidupan, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Dalam konteks negara, sebuah negara yang merdeka adalah negara yang terbebas dari belenggu penjajahan baik politik, ekonomi, hukum, dan budaya. Negara mampu berdaulat tanpa ada tekanan dan intervensi negara imperialis, sungguh sebagai negeri muslim terbesar di dunia, negara haruslah disandarkan pada aturan Allah SWT, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yaitu menerapkan aturan Allah SWT dalam setiap kebijakannya. Sebagaimana kesuksesan kaum muslim terdahulu. Allah SWT berfirman  :

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik. (TQS. An-Nur: 55)

Semoga perayaan tahunan ini menjadi ajang introspeksi dan evaluasi bagi negeri Indonesia tercinta.[]

Post a Comment

0 Comments