Desas-Desus Sea Games

RemajaIslamHebat.Com - Perak, perunggu, emas, punya tingkatannya masing-masing.
Bisakah ketiga unsur ini mempersatukan kaum muslimin seluruh dunia?
Justru karna harganya berbeda, tak ada yang mau dikalahkan, semua pasti ingin menang sendiri. Dengan sikap seperti ini, bisakah ummat islam seluruh dunia mendapatkan persatuannya?

Memandang dari perspektif psikologi kebangsaan, rasanya hal itu sangat mustahil tercapainya. Tapi jika memandang dari sudut pandang psikologi islam, rasanya hal ini mungkin. Mungkin terpecah-belah, sebab nasionalisme telah mengukuhkan akar cinta tanah air lebih besar ketimbang cinta ukhuwah islamiyah.

Memang beginilah cara tim sekuler mencabik akar persatuan dalam hati umat islam. Diajari bahwa nasionalisme itu lebih berharga ketimbang islam, mereka diberi pemahaman bahwa menang untuk negeri sendiri adalah sesuatu yang prestius di mata dunia. Agaknya mereka lupa, hari ini anak-anak di Yaman sedang merintih akibat konflik dan perang yang diciptakan kapitalis Amerika. Lalu, dengan memperebutkan ketiga unsur tadi.. apakah Yaman bisa kita bebaskan?

Mungkinkah sekeping medali emas mampu membebaskan Palestina, Rohingya, Suriah dan negeri-negeri muslim lainnya dari cengkeraman kapitalis? Tidak pasti. Sebab yang mereka perlukan bukan medali perak pun perunggu, melainkan persatuan global kaum muslimin seluruh dunia.

Sea Games, bagi saya sebuah ajang berkompetisi untuk menunjukkan bahwa masing-masing ahli dalam minat dan bakatnya masing-masing. Sebagai seorang pengajar, saya juga senang menyemangati dan mengasah bakat-bakat pada generasi lalu mengembangkannya jadi suatu yang unik, baru dan berbeda dari yang lain. Namun bila disalahartikan, setiap kompetisi antar negeri muslim hanya akan melahirkan pergulatan di tengah-tengahnya. Belum mulai berlomba, kita sudah disibukkan dengan caci makian dan asas praduga serta sangkaan negatif lainnya pada saudara seakidah.

Kita tak patut menyalahkan atau memusuhi saudara sendiri. Mereka pun disetiri dan dikebiri oleh sistem, orang ketiga sebagai musuh umat islam inilah yang sedang mempermainkan perasaan kita semua. Dengan berkompetisi, "mereka akan rusuh lalu terbelah." Kurang lebih itulah redaksi maunya sang pemilik misi terselubung. Lagi-lagi kita mesti paham, berkompetisi bukan saja untuk membanggakan negeri ataupun mengolok negeri lainnya. Berlomba bukan saja untuk meraih prestasi agar Indonesia tak terus-menerus dipermalukan, melainkan lebih dari itu, menjadi sang juara adalah hasil dari usaha yang dilatih. Tapi ada harga yang mesti dijaga, yaitu memperkuat ikatan persaudaraan antar negeri-negeri muslim.

Berlombalah dengan saudaramu untuk memuliakannya, bukan untuk menjadikannya lawan di lapangan laga. Para penonton pun mesti menjaga semangat bersatunya, tak boleh lengah dengan jiwa nasionalisme yang terlalu ketinggian. Ingat, fanatik dalam golongan itu tidak dibenarkan. Apalagi menganggap saudara sendiri musuh dan Anda yang paling benar, itu keliru. Kedudukan kita di hadapan Allah sama, pembedanya hanya takwa. Penengahnya adalah persatuan kaum muslimin, dengannya siapapun bebas berlomba tanpa takut dicurangi bahkan dikhianati.

Selamat berkompetisi, Raih Persatuan Islam :)

Sumber:

Fb: Baiq Dwi Suci Anggraini

Post a Comment

0 Comments