Cintaku Indonesia, Merdekalah dari Maksiat!

Oleh : Desi Yunise

SEBENARNYA, saya bukan pakar cinta.  Namun, saya hanyalah orang yang pernah merasakan cinta (cie-cie, ehm...seperti kalian juga khan?).   Biasanya cinta itu berafiliasi dengan rasa yang lainnya, seperti rasa suka, sayang, rindu, sangat berharap,rasa memiliki,  juga khawatir.  Cinta alami ada pada diri manusia yang sifatnya sudah “given” dari Sang Pencipta.  Tak bisa dihilangkan.  Ia adalah kecenderungan alami, naluriah sifatnya tak bisa dihilangkan. 
.
Cinta ada kalanya bersifatnya emosional.  Biasanya ia muncul kali pertama karena ada sesuatu yang menarik hatinya.  Misalnya kecantikan,  ketampanan, kebaikan, kelembutan.  Misalnya laki-laki melihat wanita cantik, langsung jatuh cinta.  Lihat mobil mewah, panorama yang indah, langsung jatuh cinta.  Maka cinta model ini, sifatnya tak akan lama.  Mengapa?  ini disebabkan karena cintanya bersifat emosional.  Sifatnya hanya didasarkan pada suka atau tidak suka.  Hari ini suka , besok mungkin tidak, berubah jadi tak suka.  Cinta  begini temporal sifatnya.  Sesuai suasana hati, kalau hatinya senang, ia cinta.  Sebaliknya, jika hatinya sedang tak senang, mulailah berubah jadi benci.  Jadi jangan mudah jatuh cinta ya............(lho kok?).  Maksudnya, jangan emosional dalam mencinta, karena bisa berbahaya.  Lihatlah realitas, ada pasangan artis yang saat kali pertama cinta mereka menggebu-gebu, eeh tak lama kemudian baru seumur jagung, 1 tahun, 2 tahun  bubar.   Awalnya cinta jadi benci.   Itulah cinta didasarkan pada emosi, bosanan lah sifatnya.  Mirip-mirip dengan mengkonsumsi makanan jadinya. 
.
Cinta yang benar itu harus rasional.  Maksudnya apa? Cinta harus didasarkan pada alasan.  Mengapa harus mencinta? Apa yang layak dicintai di atas segala-galanya? Siapakah yang paling dicinta di dunia ini?  Mencintai itu fitrah pada manusia.  Cinta pada apapun dan siapapun itu  normal, naluriah pada manusia.  Namun tuntunan dari Islam, cinta ini  harus diposisikan di bawah cinta terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW (QS AT Taubah : 24).    Allah SWT memang layak untuk dicintai melebihi segala galanya.  Dikarenakan Allah SWT yang menciptakan hidup dan mati manusia, Yang memelihara seluruh alam jagad raya.  Allah SWT Sang Pengatur hidup ini dan Sang Pemberi rizqy.  Manusia akan dikembalikan kepada-Nya.  Allah pula yang akan memasukkan manusia ke dalam syurga-Nya, jika taat kepada-Nya.   Allah lah penentu segala sesuatunya, maka Dialah Zat Yang paling layak untuk dicintai  melebihi segala-galanya.
.
Demikian juga Nabi Muhammad SAW.  Beliau adalah utusan Allah SWT.  Sebaik-baik makhluq.  Suri tauladan seluruh manusia.  Pembawa khabar gembira; menunjukkan jalan yang benar dan yang salah kepada manusia.  Beliau adalah pilihan Allah .  Maka di antara seluruh makhluq di muka bumi ini, Rasulullah SAW lah yang paling berhak untuk dicintai melebihi makhluq siapa pun juga. 
.
Kini sudah jelas, apa dan siapa yang paling berhak dicintai melebihi segala-galanya.  Inilah cinta karena alasan keimanan.  Barulah kita boleh bicarakan mencintai obyek yang ada dimuka bumi ini.
.
Mencintai apapun dan siapa pun mustinya didasarkan pada cinta kepada Allah SWT.  Ini bertujuan agar kecintaan kita pada rel yang benar.  Jika tidak maka cinta terhadap benda benda tersebut hanya sekedar cinta buta.  Ini membahayakan, karena akan menghantarkan pada kerusakan dan kekacauan.
.
Cintaku Indonesia, bertaubatlah!
.
Cinta buta tak bisa kekal sampai mati.  Cinta mati jika sama dalam frekuansi.  frekuensi antara dua pihak yang saling mencintai.  Frekuensi itu adalah tunduk pada  Allah SWT.  Selama mereka sama sama tunduk pada Allah SWT maka cinta karena Allah akan abadi.  Maka mencintai itu adalah meluruskan jalan yang salah agar berada di jalan yang benar.  Bukan pembenaran terhadap apa yang salah.  Jika pembenaran terhadap semua situasi, itu namanya cinta buta, cinta konyol.  Cinta buta yang tak membahagiakan dan jauh dari menentramkan. 
.
Mencintai siapa pun dan apa pun  artinya siap memperhatikan.  Memperhatikan  agar memahami kenyataan.  Jika kenyataan sesuai bimbingan Allah SWT maka, harus didukung, dihargai, diterima dan diberi peluang untuk terus tumbuh dan berkembang.  Itulah mencintai.  Sebaliknya jika tak peduli,  cuek maka itulah maknanya tak ada rasa cinta yang dirasa.  Jika faktanya tak sesuai dengan bimbingan Allah, diajak untuk kembali sadar dan bertaubat.  Semoga Allah SWT menerima taubat kita.
.
Maka begitulah mencintai Indonesia, harus siap memperhatikan Indonesia ini.   Secara objektif memperhatikannya. Pertanyaannya adalah sudahkah Indonesia menjadi negeri yang bertaqwa? patuh tunduk kepada aturan Allah SWT.  Secara obyektif masih jauh dari makna taqwa.  Bahkan Indonesia kita tercinta masih banyak bergelimang dosa. 
.
Di bidang ekonomi, Indonesia menerapkan ekonomi neoliberal.  Ini maksiat kepada Allah.  Allah mengharamkan riba, bahkan mengkategorikannya sebagai dosa besar.  Indonesia masih terlibat utang ribawi yang jumlahnya hingga Rp.  4200 Triliun.  Liberal dalam kepemilikan dianut Indonesia.  Sumber Daya Alam yang ditetapkan Allah SWT sebagai milik bersama umat diserahkan kepada segelintir orang bahkan diserahkan kepada asing.  Rakyat Indonesia mengalami kemiskinan sistemik.
.
Di bidang sosial, LGBT, pornografi dan pornoaksi, seks bebas, pencurian, korupsi miras semua merajalela.  Tumbuh subur  karena sistem kapitalis-sekuler liberal yang meniscayakannya.  Padahal Allah SWT mengharamkan kesemuanya itu. 
.
Di bidang hukum.  Hukum semakin tak pasti.  Keadilan sulit teraih.  Ulama dan ajaran Islam dikriminalisasi.  Apa artinya semua ini?  Mengundang dosa, kerusakan dan kemurkaan Allah SWT.  Semakin menjauhkan diri dari keberkahan dan ridho Allah SWT.  
.
Di bidang politik.  Indonesia  menolak politik Islam.  Padahal para nabi terdahulu diutus Allah SWT mengurus seluruh urusan umat termasuk politik menggunakan wahyu.  Begitupun para khalifah terdahulu.  .  Politik saat ini  tak tunduk pada wahyu Allah SWT.  Inilah masyarakat kita yang  hanya butuh Allah saat sholat, puasa, zakat, haji , pernikahan, perceraian dan kematian saja.  Saat berpolitik masih menuhankan diri sendiri.  Merasa lebih mampu membuat tata aturan, padahal  manusia tidak mengetahui, Allah SWT yang Maha Mengetahui.
.
Di bidang budaya, indonesia dijajah oleh budaya asing yang hedonis; jauh dengan nilai-nilai agama. Lihatlah yang mengisi panggung –panggung hiburan, tari perut, artis korea yang minim pakaian menjadi idola.  Gaya hidup bebas semakin memperpuruk budaya anak bangsa. 
.
Di bidang ideologi, ideologi yang dianut Indonesia realitasnya adalah ideologi kapitalis-sekuler-liberal.  Menjauhkan agama dari kehidupan.
.
Semua bidang  jauh dari tuntunan Allah SWT, maka dari itu saatnya negeriku Indonesia untuk taubat/ merdeka dari  dosa/maksiat.  Jangan lah jadi negeri yang membangkang pada Allah SWT.  Tunduklah pada ketentuan-Nya.  Maka berkah Allah layak kita dapatkan.  Sebagaimana firman Allah SWT :
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوْاْ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلأَْرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذْنَـٰهُمْ بِمَا كَانُواْ يَكْسِبُونَ
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya ( QS . Al A'raaf:96).

Bukan kah kita bercita-citakan menjadi negeri yang diberkahi?  Dalam bahasa yang mengindonesia menjadi baldatun toyyibatun wa robbun ghafuur.  Jika kita serius ingin berkah maka bertaqwalah!  Yuk Bertaubatlah Indonesiaku. Jadilah negeri yang bertaqwa.  Merdekalah dari maksiat, because we love you full...

Post a Comment

0 Comments