C E R A I

Oleh : Amalia Sinta

PERCERAIAN. Satu kata ini sepertinya jadi momok paling ditakuti oleh sebagian besar pasangan suami istri.

Saat baru menikah, seorang istri membayangkan indahnya berumah tangga. Namun kadang kenyataan tak seindah buaian kata mesra yang dulu dibisikkan suaminya.

Bila masalahnya tak begitu pelik, masih bisalah dibicarakan dan cari jalan keluar. Asal masing-masing mau terbuka, instropeksi dan berusaha memperbaiki.

Namun saat masalahnya berat seperti perselingkuhan berulang dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), sang istri akan merasa sangat sedih, kecewa, hancur, tak berharga, takut, bimbang, dll. Semua itu tercampur jadi satu mengaduk hatinya.

Ia sering menjadi sasaran amukan suami, luka memar di kulit jadi makanan sehari-hari. Ditambah lagi kata makian yang menusuk, jauh ke dalam hati seperti torehan belati.

Atau suami yang ketahuan selingkuh, minta maaf dan berjanji tak kan mengulangi.
Namun belum mengering luka di hati, penghianatan kedua kembali terjadi.

Entah mengapa, dia seolah tak sadar kini sudah beranak istri. Ia seperti belum (atau memang tak mau) jadi dewasa. Masih ingin terbang bebas memeluk kupu-kupu malam.

Saat sang istri merasa begitu depresi dan butuh tempat bercerita, apa tanggapan kita saat ia mengatakan sudah tidak tahan, ketika segala daya upaya perbaikan sudah dilakukan,  ketika beribu doa sudah dipanjatkan dan akhirnya memilih ingin bercerai?

Secara umum, biasanya kita akan menasehati supaya ia sabar. Padahal kita tak pernah berada di posisinya. Stok sabar dia pasti jauuuh lebih banyak dari kita.

Kita yang rumah tangganya baik-baik saja, akan mudah mengatakan :
"Aduh jangan cerai, nanti apa kata orang"
"Kamu kok egois sih, gak kasian sama anak-anak?"

Respon seperti ini membuat kondisi kejiwaannya semakin tertekan. Padahal dia butuh pertolongan nyata. Ajaklah dia ke konsultan pernikahan atau psikolog.

Bila tak membuahkan hasil, pahami bahwa ia sudah sangat lelah. Akhirnya dia hanya butuh support kita untuk mendukung keputusan yang menurutnya terbaik.

Mungkin ia ingin berteriak kencang, pada mereka yang tidak pernah merasakan sakitnya, namun lantang mengatakan bahwa perceraian 'sudah pasti' buruk.

Hellooow...
Yang ngejalanin siapa?
Yang berkali-kali dipukuli siapa?
Yang berkali-kali diselingkuhi siapa?

Maka kini dukunglah, agar ringan langkahnya keluar dari episode drama perselingkuhan dan KDRT yang terus tayang berulang, seperti lingkaran setan tak berujung.

Bila ia adalah ibu rumah tangga, ajak ia memulai bisnis. Merintis usaha agar bisa pegang uang sendiri. Ajari caranya, kenalkan jaringan bisnis, bahkan kalau perlu, modali dia. Bangun rasa percaya dirinya, bahwa ia mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri.

Bila ia adalah wanita karir, teguhkan pendiriannya yang ingin menegaskan sikap. Bukan soal benar-benar bercerai atau tidak. Tapi soal tegasannya melawan tindakan semena-mena dari suaminya. Soal harga diri yang tak berhak diinjak-injak siapapun juga.

Bila telah mantap ingin bercerai, pertanyaan berikutnya adalah soal biaya hidup anak. Ini jadi issue utama yang membuat banyak istri bingung.

Nah berikut saya kutipkan ketentuan yang diatur Pasal 41 huruf b,
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan :

b. Bapak yang bertanggung-jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu; bilamana bapak dalam kenyataan tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut, Pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya tersebut.
Sumber :
http://m.hukumonline.com/klinik/detail/cl7013/hak-asuh-anak

Artinya, selama bapaknya memiliki penghasilan, ia wajib memberi uang untuk biaya hidup anaknya setiap bulan. Bila ia lalai atau ingkar, bisa dituntut ke pengadilan karena wanprestasi. Anak berhak disantuni hingga ia mampu membiayai dirinya sendiri.

Anak-anak juga perlu diajari untuk bisa menerima kenyataan. Jauh lebih baik mengajarkan kejujuran yang pahit, daripada kebohongan semanis madu. Kesulitan akan menempa anak jadi pribadi yang kuat.

Tidak semua perceraian berakhir buruk bagi anak. Salah satu contoh nyata adalah Azka Corbuzier. Di usia 10 tahun ia menulis buku tentang kehidupan dia dan orangtuanya. Dalam bukunya ia menyatakan bahwa dirinya lebih bahagia setelah ayahnya, Deddy Corbuzier dan ibunya, Kalina bercerai.

Saat masih terikat perkawinan, orangtuanya sering sekali bertengkar, membuatnya pusing, gak nyaman tinggal di rumah sendiri. Namun setelah bercerai, justru mereka rukun dan saling bergantian merawat Azka. Dan sang anak pun semakin produktif hidupnya.

Poin pentingnya adalah, usahakan kita bisa memaafkan pasangan dan berdamai dengan diri sendiri. Bahwa segala masalah terjadi untuk membuat kita lebih kuat. Sehingga kita bisa menerima keadaan dan gak terus-menerus menyalahkan pasangan. Jadikan ini sebagai moment untuk menebus andil kesalahan kita dalam masalah itu.

Ini penting agar anak tidak terus-menerus di brainwash oleh ibunya yang mengatakan bahwa ayahnya itu brengsek, penjahat, tukang selingkuh, dll.

No, No..
Anak berhak mendapat kedamaian. Jangan biarkan anak tumbuh dengan amarah dan dendam membara dalam hatinya.

Jadi katakanlah :
"Jangan benci ayahmu Nak, ibu sudah memaafkannya. Ayah memang pernah bersalah pada ibu. Tapi sekarang ayah sudah tak bisa menyakiti ibu lagi. Karena kita sudah tinggal terpisah dan punya kehidupan sendiri-sendiri. Kini ibu sudah bahagia. Cinta ibu cuma buat kamu sekarang, jadi anak yang baik ya sayang."

Lalu peluk anak kita. Biarkan ia menangis haru dalam pelukan ibunya tercinta..

Selain itu, sisi positif berpisah adalah mencegah anak merekam perlakuan kasar ayah pada ibunya. Melihat ibu sebagai korban penindasan fisik dan mental, yang hanya bisa pasrah, sedih, terluka tapi pura-pura kuat.

Gambaran rumah tangga seperti inikah yang ingin kita ajarkan ke anak?

Bagaimana jika dia akan mengulang perilaku kasar ayahnya, dia akan kasar juga pada istinya kelak?

Maka mari lepaskan dirimu dari tali derita yang menjerat leher.

Jangan hiraukan pendapat miring tentang perceraian yang bisa membuat sumur air matamu tergali hingga kering.

Buang jauh-jauh keinginan bunuh diri yang kadang datang tanpa diundang.

Tidak.
Jangan menyerah untuk mengakhiri hidup.

Kau berharga.
Kau ibu yang sangat berharga bagi anak-anakmu.
Bila suamimu sudah sedemikian tak bisa menghargaimu, tunjukkan sikap.
Jangan biarkan dia menyakitimu berulang kali.

Ini bukan soal bisa memaafkan atau tidak. Tapi soal pengambilan hak untuk hidup yang lebih baik. Sungguh lelaki macam itu tak pantas kau dampingi.

Lepaskanlah
Bangkitlah
Kau berhak untuk bahagia...

#SharingnyaSinta

*peluk erat seorang teman yang semalam pedih bercerita.. kuat kuat kuat yaa..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments