BUNUH DIRI BUKAN SOLUSI

Oleh : Amalia Sinta

AKHIR Desember 2016 lalu di FB ada video live bunuh diri seorang gadis remaja Amerika.

Lalu kemarin, di sini, di negara kita sendiri, ada seorang bapak bunuh diri secara live juga di FB.

Dulu saya memberanikan diri melihat video gadis remaja itu. Alasannya, tentu karena penasaran. Tapi saya menyesal setelahnya.

Kebayang terus selama beberapa saat. Dan ketika mengetik ini pun jadi inget lagi haduuh.. Maka untuk kasus kedua ini, saya gak mau lihat lagi.

Kini hanya membaca beritanya saja jantung saya sudah berdegup sedemikian kencang.

Mereka berdua memiliki persamaan, yaitu merasa kecewa atas masalah besar dalam hidupnya dan tidak ada perhatian dari orang terdekat. Hal itu membuat keduanya putus asa.

Lalu jeratan tali di leher dipilih mereka berdua untuk melepaskan diri dari jerat masalah dunia.

Note : JANGAN DITIRU!

Pilihan mereka untuk menayangkan tindakan bunuh dirinya secara live benar-benar menggugah nurani saya.

Mempertanyakan mengapa, mengapa harus disiarkan secara langsung ke seluruh dunia?

Maka saya rasa jawabannya adalah, untuk mendapat hal yang selama ini tidak mereka dapat selama masih hidup, yaitu PERHATIAN.

Si gadis remaja bunuh diri konon karena mendapat pelecehan seksual oleh anggota keluarganya. Tidak ada tempat bercerita dan tak ada yang peduli padanya.

Sang bapak bunuh diri konon karena ditinggal pergi istrinya yang memilih lelaki lain, padahal mereka punya 4 orang anak. Ia merasa istrinya sudah tidak peduli lagi padanya.

Mirisnya, di laman FB almarhum, banyak sekali umpatan, makian ataupun mereka yang sekedar penasaran mencari, ingin menonton videonya.

Padahal yang berkomentar pedas pastilah sama sekali tidak mengenal korban. Jadi sudah pasti mereka gak tau separah apa masalah si bapak, jelas gak pernah berusaha membantu, eh sekarang malah ramai-ramai membully.

Gak mikirin perasaan anak-anak almarhum yang akan membaca komentar kalian pada ayahnya?

Udahlah sedih ditinggal bapaknya dengan cara tragis, masih harus pula menanggung malu karena komentar masyarakat, haduuh..

Kenapa gak ramai-ramai mendoakan aja sih?

Minimal gak nambah dosa dengan menghujat orang yang sudah meninggal.

Huft, konon katanya bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan saling peduli.

Tapi mana nyatanya?

Maka sudah cukuplah, cukup ia saja yang jadi korban ketidakpedulian orang sekitar.

Mulai sekarang, ayo kita tengok kanan kiri depan belakang, orang-orang di sekitar kita.

Adakah yang sedang mengalami masalah berat?

Adakah yang sedang merasa tertekan, lemah dan hampir putus asa?

Suami kita kah?
Istri atau anak remaja kita kah?
Tetangga?
Saudara?

Tanyakan keadaannya.
Pasang telinga untuk mendengarkan.
Pakai hati untuk berempati.
Tawarkan bantuan yang sekiranya dia butuhkan.

Kalo hidup kita banyakan di fesbuk daripada di dunia nyata, ya udah itu dibaca bener-bener status temen-temen kita.

Jangan langsung nyinyir saat ada temen ngeluh di medsos. Jangan dituduh lemah iman, ga tegar menghadapi masalah. Apalagi kalo dia bukan tipe yang setiap hari ngeluh.

Itu artinya dia udah pusing, ga ada temen curhat, tapi dada udah sesak. Udah pengen keluarin uneg-uneg biar plong hatinya.

Maka ketiklah kata sapaan di komen, tanyain lagi kenapa, apa yang bisa kita bantu untuk meringankan bebannya.

Perhatian kita itu akan menghangatkan hatinya yang sedang beku.

Kepedulian kita itu akan membangkitkan semangat juangnya lagi.

Pada suatu larut malam, saya sedang iseng scroll news feed. Gak sengaja saya baca status seseorang ibu yang bunyinya :
"rasanya ingin mati saja"

Emm.. Mungkin dia hanya sedang bercanda atau sekedar luapan emosi karena kesal.

Tapi bisa saja, itu adalah sinyal kuat bahwa ia sedang sangat putus asa.

Daripada terlambat, lebih baik saya segera bertindak.

Saya menyapanya,
"hai lagi kenapa mba, ngobrol yuuk"

Apa saya kenal dengan orangnya? Tidak.

Apa dia sering komen di status saya? Sepertinya tidak.

Tapi minimal saya mencoba peduli.

Karena seberat apapun masalah yang sedang ia alami, ia akan tetap bertahan hidup jika punya HARAPAN.

Harapan bahwa esok masalahnya akan mendapat solusi terbaik.

Harapan bahwa masih ada orang yang peduli padanya.

Harapan untuk merasakan kehangatan hati dari orang yang bersedia memeluknya.

Jadi,
Apakah engkau, yang sekarang tak tau untuk apa lagi kau hidup?

Jika kini terlintas di pikiranmu untuk bunuh diri, tunda dulu.

Bicaralah denganku.

Aku akan mendengarkanmu.

Jika kau kira tak ada lagi yang peduli padamu, kau salah.

Aku peduli padamu..

Aku memang tidak bisa menjanjikan sebuah solusi. Tapi aku punya telinga untuk mendengarkan ceritamu.

Bagilah bebanmu, maka langkahmu akan jauh lebih ringan.

Hapus tangismu agar matamu mampu melihat masih ada keindahan di dunia ini.

Kuatkan kakimu untuk melangkah keluar dari masalahmu.

Kehadiranmu masih dibutuhkan oleh mereka yang sayang padamu.

Kematian itu pasti.
Tapi hanya Tuhan yang berhak menentukan waktunya.

Maka sebelum waktumu tiba,
Artinya masih ada kesempatan dan harapan bagimu untuk bahagia.

Iya masih ada..
Iya buatmu..
Karna siapapun kau,
KAU pun berhak untuk bahagia...

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments