Berbeda pada Karya

RemajaIslamHebat.Com - Tas itupun memenuhi kanan kiri badan motorku. Seperti biasa ia sering menemani disetiap perjalanan dari rumah ke pacitan kota. Sebab seminggu sekali mengharuskanku ke kota untuk penuhi jadwal halaqah sebagai kewajiban, meski harus ditempuh hampir 2jam perjalanan.

Tas itu berisi berbagai makanan ringan untuk kutitipkan ditoko-toko sepanjang jalan yang sudah menjadi langganan. Lumayan bisa buat tambahan untuk biaya dakwah agar tetap bisa berjalan, sehingga usahapun harus tetap beriringan.

Seperti biasa saat setoran maka ada harapan akan menerima uang dari barang yang telah terjual. Ya, setidaknya bisa buat tambahan biaya Workshop menulis di bulan depan. Senyum itupun hampir sempat sumringah. Setelah harus ikhlaskan si munggil terlepas dari jari manisku. Yang insyakallah akan cukup ditambah dengan hasil jualan. Hemm... Terasa sedikit lega rasanya, mimpi untuk menjadi penulis itupun nampak ada jalannya.

Satu persatu toko-toko itupun ku hampiri. Tanpa rasa risih akan pandangan orang, mungkin melihat pakaian yang insyakallah sudah syar'i namun bawa tentengan barang kanan kiri. Semuannya begitu sangat ku nikmati, meski pandangan hardik itu terus menghampiri. Ya pokoknya tinggal bagaimana caraku saja mengatur dan mengendalikan suasana hati. Itu pikirku.

Toko pertamapun ku hampiri, sampaikan salam sampai barang-barang itupun kuturunkan. Namun, sepertinya terasa ada sambutan yang tidak biasa. Kata-kata halusnya dan sikap memelasnya ternyata berhujung pada penolakan yang terasa begitu menyesakkan.

Menyesakkan bukan sebab penolakan terhadap dagangan namun, alasannya yang begitu memilukan dari curhatannya akan himpitan kehidupan. Seketika itupun aku menyapu seluruh ruangan, ku perhatikan etalase yang nampak lenggang dari tumpukan barang-barang, rak-rak yang tiada berjajar lagi aneka camilan, sampai tali-talipun hanya bergelantungan sebab tidak ada yang bergantung padanya.

Pikiranku pun langsung terpusat pada kedzoliman para pemimpin sebab terapkan sistem kapitalis. Kekayaan hanya dinikmati para penguasa, sedangkan kemiskinan dan keterhimpitan terus mencekam rakyat biasa. Memori itupun seakan terputar kembali bagaimana akan janji-janji manisnya, namun rakyat itupun kembali dibuat menderita. Hingga buliran bening itupun hampir jatuh, namun berusaha kutahan sebab takut akan ada salah paham.

Akupun melanjutkan perjalanan, menghampiri toko-toko berikutnya. Namun, hari ini nampaknya memang berbeda. Beberapa pedangang nampaknya menghindar, ntah uang yang belum ada atau sebab apalah. Padahal terlihat barang-barangkupun telah nampak habis terjual.

Melihat gelagat itu, maka ku urungkan niat untuk meminta uangku. Sesegera mungkin akupun berpamitan. Menunjukkan sikap seakan kuterburu-buru, sehingga yang nampak seperti ku tidak begitu butuhkan uang itu.

Sampai akhirnya, uangpun hanya terkumpul seadanya. Ku hitung-hitung ternyata uangpun belum cukup sesuai yang ku butuhkan. Yang jelas ku harus putar otak agar bisa sampai terget yang kutentukan

Hemm... Ternyata usaha yang dibutuhkan untuk berkarya dalam tulisanpun tak sesimpel yang terbayangkan. Tidak cukup hanya semangat dalam penulisan. Tidak cukup hanya ikuti metode fastwriting dan madmipping saja. Tidak cukup hanya perbanyak bacaan buku saja. Namun, usaha dibelakang itupun harus juga menjadi perhitungan.

Tak semudah pula saat ku inginkan makan buah sirsak. #TidakNyambung. Maka tinggal kekebun, memanjat, memetik kemudian bisa langsung kunikmati.

Namun, jika inginkan penyajian yang berbeda maka harus ada proses yang berbeda pula. Seperti jika mau dibuat juice maka harus ada proses yang lebih lama. Dari mengambil satu persatu buahnya, membuang setiap isinya, sampai harus diblender kemudian baru bisa disajikan. Mungkin akan rasa tidak jauh berbeda namun kenikmatan itu jelaslah berbeda.

Mungkin begitu juga saat ku ingin berkarya. Apalagi karya yang bisa membawa perubahan, maka usahapun harus berubah dari yang biasa. Sebab jika hanya ingin menjadi penulis saja maka itu bisa kapan dan dimana saja. Namun, jika ingin berkarya maka usahapun harus extra.

Sumber:

FB: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments