Berapa tahun usia pernikahan kita, seberapa jauh kita melunak di dalamnya?

Oleh: Nafila Rahmawati

LELAKI yang tadinya mati-matian mengejar perhatian si wanita sebelum menjadi suami, lantas sepulang kerja hanya berselonjor dengan gadget atau televisi tanpa gejala ingin bertukar canda dengan istri.

Wanita yang tadinya bersemu manja ketika dihujani gombalan ala-ala, lantas melipir begitu saja tanpa cemelekit dalam hatinya ketika si suami mencoba memujinya.

Berapa tahun usia pernikahan kita, seberapa jauh kita mengendur pada perjuangannya?

Lelaki yang saat bujangnya selalu berapi-api dan kuat begadang menghadiri segala komunitas dan kajian maraton beberapa malam tanpa tidur, lantas setiap akhir pekan hanya bermalas-malasan dan bau kasur.

Wanita yang saat gadisnya begitu ceria dalam banyak kesempatan dan aktivitasnya, lantas menjadi pemurung karena pengabdiannya tidak pernah terberitakan dengan apresiatif oleh suami dan keluarga besarnya.

Berapa tahun usia pernikahan kita, apakah uban yang muncul menjadi jejak kebijaksanaan atau sekedar residu pengorbanan?

Lelaki yang tadinya punya banyak kesempatan untuk berkembang menjadi figur Ayah dan suami yang sukses dunia akhirat, lantas memilih standar rata-rata di zona nyaman.

Wanita yang tadinya mengikhlaskan diri membaktikan kehadiran di rumah demi pengasuhan dari tangan pertama, lantas bertubi-tubi merasakan penyesalan karena selalu diposisikan dalam kasta kesekian.

=====

Kalau pernikahan pernah begitu spesial di hati kita pada suatu masa, mengapa menjalaninya kemudian tidak lantas membuat kita merasa jauh lebih spesial.

Kalau pernikahan pernah terasa bagai Indomie dengan telur, kenapa kita berhenti menambahkan kornet, bawang goreng atau keju mozarella untuk topping yang menyenangkan.

Kalau pernikahan pernah menjadi gravitasi untuk melakukan hal-hal di luar nalar, mengapa kita berhenti melakukan invensi ketika sudah mengalungi status suami istri.

Memang, kebanyakan dari pernikahan kita adalah medan pertempuran nyata.

Yang sehari-hari berjibaku dalam stabilitas finansial Senin-Kamis,
Yang sehari-hari mengulur kesabaran dalam ritme kesibukan yang begitu dinamis,
Yang bahkan kadangkala diuji dalam intervensi mertua dan keluarga besar yang beraroma amis,
Yang pada beberapa keluarga pun diuji dalam cobaan penyakit atau anak-anak yang keadaannya selalu membuat hati gerimis,
Yang tidak selalu mampu pelesiran atau meninggalkan surprise buket bunga mahal nan manis.

Apa yang kemudian mampu, memberikan sentuhan spesial di dalam pernikahan yang kian menahun?

Apa yang kemudian mampu, secara sederhana membahasakan ulang aksara cinta dan menyalakan asmara?

Adalah perjuangan yang digandakan.

Demikianlah, suami-suami yang tadinya mampu menyalakan ratusan lilin hanya untuk melamar wanita menjadi pengantin, maka nyalakanlah lagi keceriaan dan gempitanya memohon di dalam rumah.
Gandakan usahamu memohon iba dan pertolongan dari istrimu, alih-alih menyuruh dan mengkomandonya bagai asistenmu.

Demikianlah, istri-istri yang tadinya "mendingin" pada banyol-banyol lawas suamimu, maka ikutlah tertawa meskipun basi dan berulang kali candanya.
Gandakan usahamu untuk terbahak dan menggodanya kembali hingga malu.

Demikianlah, pernikahan bukan garis finish karena kita telah berhasil "mendapatkan" target jodoh yang kita hajatkan namanya tiap malam.

Pernikahan adalah safari panjang dimana perjuangan harus digandakan -dilipat gandakan-.

Bukan sekedar untuk ambisi kemapanan, namun untuk menjaga perasaan agar tetap dalam rasa nyaman.

=====

Berapa tahun usia pernikahan kita, apakah kita pernah membahas ulang lagi tentang pencapaian masing-masing dari kita tanpa aroma egois?

Karena dari cabang-cabang yang sehatlah, rimbun daun menghijau menjadi pohon yang rindang.

Dari lelaki dan wanita yang mampu menjadi diri sendiri dan tetap berkompromi dengan seimbang di dalam pernikahan, maka akan lahir keluarga yang menyejukkan.

Jangan menunggu terdamparnya permasalahan atau meledaknya katup emosi pasangan untuk menggandakan perjuangan, menggandakan rasa syukur dan apresiasi atau bahkan mengirim emoticon-emotican manja.

Karena pernikahan adalah safari panjang yang sewaktu-waktu akan terbit rasa bosan dan kesepian karena rutinitas yang melenakan.

Menjadilah "Ia", yang dulu membuatnya yakin atas jodohnya dan mengatakan "Ya"

Berapa tahun usia pernikahan kita?
Seberapa nyaman lelaki dan wanita mampu merasa nyaman dan dimanusiawikan dengan berimbang di dalamnya, adalah #relationshipgoal sebenarnya di dalam berumah tangga.

Sumber:

Fb: Nafila Rahmawati

��

Post a Comment

0 Comments