Beragama Harus Serius!

Oleh: Erlinda Fitria Sari

PADA tanggal 25 Juli 2017 Menteri agama Republik Indonesia (RI), Lukman Hakim Syaifuddin, menghadiri dan memberikan sambutan di acara khatam qur’an 7769 santri dari 101 santri TPQ yang ada di Kabupaten Mamuju, Sulbar. Pada acara tersebut, menteri agama memberikan saran kepada hadirin agar “jangan terlalu serius dalam beragama” dan memberikan pernyataan bahwa “keseriusan dalam beragama dapat berpotensi mengurangi rasa toleransi” (tribun news, http://makassar.tribunnews.com/2017/07/25/di-mamuju-menteri-agama-jangan-terlalu-serius-dalam-beragama).

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan keterkejutan saya atas saran dan pernyataan menteri agama di acara tersebut. Betapa tidak, saran dan pernyataan tersebut sangat kontradiktif dengan acara yang dihadirinya!
Saat itu, Menteri agama berada di acara khatam Qur’an. Berarti acara tersebut adalah acara dimana anak-anak menamatkan membaca Al-qur’an. Suatu prestasi yang sangat membanggakan, tentunya. Untuk mengkhatamkan al-qur’an maka perlu dedikasi dan kesungguhan dari berbagai pihak yang terlibat, baik anak, guru, dan juga orang tua. Anak-anak harus dengan bersungguh-sungguh membaca Alqur’an per lembar secara terus menerus. Guru juga harus bersungguh-sungguh mengajarkan Alqur’an dan mengoreksikan bacaan Al-quran anak-anak jika ada yang salah, dan orang tua pun harus bersungguh-sungguh mengontrol anak agar terus datang ke TPQ dari awal hingga pada akhirnya anak tersebut menamatkan (khatam) membaca Al-qur’an. Nah proses ini tentu perlu kesungguhan. 

Dalam kamus bahasa indonesia, sungguh-sungguh adalah arti kata dari serius. Maka bagaimana mungkin seorang Menteri Agama memberikan saran agar tidak serius dalam beragama?! Jika tidak serius, maka anak-anak TPQ tidak datang setiap hari untuk mengaji, guru pun tidak mengajarkan Qur’an dengan baik, orang tua juga tidak tekun mengontrol anak pergi mengaji. Coba pikir, bagaimana hasilnya jika tidak serius dalam beragama (dalam kasus ini tidak serius mengaji al-qur’an) seperti ini? Yup! Anak-anak tersebut tidak akan khatam Alquran.

Adapun masih dalam sambutannya, Menteri agama memberikan pernyataan bahwa terlalu serius dalam beragama dapat berpotensi mengurangi rasa toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan tersebut juga sangatlah tak berdasar. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Jadi bagaimana mungkin bersungguh-sungguh dalam mengikuti “sistem tata keimanan dan tata peribadatan dari Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya” dituduh mengurangi toleransi? satu-satunya kemungkinannya adalah jika umat beragama itu salah dalam melaksanakan ajaran agamanya, sehingga bersikap tidak toleran. Namun itu berarti yang salah adalah pelaksanaan ajaran agama bukan keseriusan dalam beragama, seperti yang disampaikan oleh Menteri Agama.

Adapun Jika kita pelajari, dalam al-quran surat Ali Imran ayat 102, Allah SWT berfirman agar orang-orang yang beriman bersungguh-sungguh dalam ketakwaan kepada Allah.
Maka jelas sudah, saran dan pernyataan menteri agama tersebut sangat kontradiktif. Sangat disayangkan sekali seorang menteri agama mengeluarkan saran dan pernyataan seperti itu. Yang benar adalah, beragama harus serius!

Post a Comment

0 Comments