BENDERA TERBALIK & BOTOL SHAMPO

Oleh : Doni Riw

BERANEKA botol shampo berderet di rak super market. Ragam bentuk dan warna uniknya berlomba mencuri hati dan kantong pembeli.

Formula dan aroma yang ditawarkan mengakrabi konsumen dengan memahami kebutuhan khusus mereka yang berbeda. Khusus rambut rontok, khusus ketombe, khusus rambut hitam, khusus rambut berhijab.

Faktanya, rambut mereka hitam, sekaligus berketombe, sekaligus rontok, juga berhijab. Realitasnya, mereka butuh satu produk saja, yaitu sampho.

Bentuk botol, warna, formula, dan aroma itu tak lebih dari sekedar perlombaan antar produsen dalam memenangkan lomba membujuk konsumen.

Produsen tau benar akan kegemaran konsumen pada kemasan. Rata-rata konsumen tak hirau soal realitas kandungan zat dalam cairan di dalam botol itu. Teks "ingridient" di botol cantik itu sudah cukup untuk memuaskan hasrat pseudo kritisisme konsumen.

Budaya kegemaran pada kemasan dan abai pada realtas isi tak hanya nampak pada cara kita memilih shampoo. Dalam sekala besar, budaya ini hadir pada cara masyarakat mencintai negerinya.

Lambang negara, bendera, slogan, adalah kemasan atas realitas kehidupan masyarakat di dalamnya. Persis seperti botol shampo dan cairan shampo itu sendiri.

Kecintaan masyarakat pada kemasan sangat dominan dibanding kecintaan pada realitas problematika masyarakat di dalamnya.

Kita gemar heboh di sosmed ketika negeri tetangga membalik bendera kita, namun abai ketika kekayaan alam dijarah perusahaan swasta asing.

Hasrat peduli pada negara itu cukup dipuaskan hanya dengan menuliskan slogan-slogan di atas foto profile sosial media yang kita edit seganteng mungkin.

Kita malas ketika diajak menganalisa pertempuran politik global dan peperangan citra guna perampokan kekayaan negeri ini atas nama investasi.

Kita rela sistem negeri ini terus saja melegalisasi pemodal untuk mengambil berton-ton emas di tanah kita, mengkomodifikasi puluhan ribu hektar lahan kita, mengkapitalisasi sistem politik kita, asalkan kita masih bisa mengangsur riba KPR dan riba kredit kendaraan.

Kita masih memilih hidup enak secara pribadi sesaat ini tanpa mau ambil pusing dengan kebenaran arah dan masa depan masyarakat.

Cukuplah serapah pada negeri tetangga atas pembalikan bendera negeri ini menjadi pelipur lara atas ketidak pedulian pada realitas suram kehidupan bermasyarakat.

Sumber:

Fb: Doni Riw

Post a Comment

0 Comments