Bayi-bayi Gagal Gizi

Oleh: Kholda Naajiyah

TAK ikut makan buahnya, tapi kecipratan getahnya. Itulah nasib bayi perempuan pasangan R (22) dan DN (33) yang divonis positif narkoba. ''Usianya sekitar enam bulan. Saya menyesal telah melakukannya,'' ujar DN lirih, sebelum memasuki ruangan berjeruji besi.
.
Petugas Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Palangka Raya mengizinkan dia bertemu sejenak dengan anak dan istrinya. Ya, DN ditangkap petugas setelah bisnis haramnya terbongkar. DN dan istrinya R, sering mengonsumsi sabu. Kemungkinan anaknya ikut menghirup atau tertular dari ASI (Jawapos, 21/1/17)
.
Sementara itu, gizi buruk menghantui bayi-bayi di berbagai wilayah Indonesia. Dua kriteria gizi buruk yang mengancam adalah wasting (kurus) dan stunting (tubuh pendek atau cebol). Indikasinya, prevalensi 14 persen kasus wasting pada balita di Indonesia tercatat paling besar di kawasan ASEAN. Sedangkan kasus stunting, Indonesia hanya lebih baik daripada Laos dan Timor Leste. Prevalensi Indonesia tercatat 36 persen, sedangkan Laos 44 persen.
.
Di tempat lain, banyak anak-anak obesitas karena salah gizi. Bahkan ledakan obesitas ini tinggal menunggu waktu. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek persentase anak obesitas mencapai 15,9 persen pada 2016, meningkat dari sebelumnya yang berkisar 11 persen. Pola makan yang salah menjadi penyebabnya (merdeka.com, 5/8/16).
.
Sementara itu, berbagai penyakit mematikan juga memghantui bayi dan anak-anak. Penyakit berat yang dulu hanya diidap orang-orang berumur, kini mengancam nyawa bocah-bocah tak berdosa. Seperti kanker, diabates, ginjal dan bahkan jantung. Bahkan kasus miris terjadi, di mana Azalia (7) yang berangkat ke meja operasi amandel dalam keadaan segar bugar, baru dibius malah meninggal dunia. Padahal operasi belum dilaksanakan (radarbogor, 25/1/17).
.
Problem Kesehatan
.
Malang nian para bayi dan anak-anak yang dilahirkan di peradaban kapitalisme ini. Mereka menjadi korban sistem. Berbagai problem mengancam eksistensi mereka, bahkan sejak lahir.  Problem-problem kesehatan seperti di atas, menunjukkan fenomena gagal gizi, baik kekurangan maupun kelebihan pada anak-anak.
.
Salah satunya disebabkan problem pangan yang tidak ideal. Hak-hak mendapatkan asupan gizi terbaik, tidak dapat terpenuhi. ASI, yang notabene anugerah alam, bahkan tercemari. Padahal itu adalah hal paling mendasar dalam hidup seorang bayi. ASI makanan terbaik yang akan menetap, mengalir terus dalam denyut darahnya sepanjang hidupnya. Bagaimana bisa terasuki bahan-bahan haram dari narkoba?
.
Sementara anak-anak yang kurang gizi, tak kalah kompleks. Tingkat pendidikan orangtua, khususnya sang ibu, bisa menjadi pemicunya. Kurangnya pemahaman dan kesadaran gizi, membuat anak tidak mendapat haknya berupa makanan seimbang. Apalagi di masyarakat berkembang mitos-mitos menyesatkan yang menjadikan anak tidak diberi makanan sehat. Seperti mitos susu formula lebih baik dari ASI dan bikin otak cerdas, sehingga bayi tidak diberikan ASI.
.
Selain itu, kemiskinan juga jadi penyebab. Bagaimana kaum ibu bisa membeli makanan bergizi jika penghasilan tak mencukupi? Sementara harga-harga kian tak terbeli. Akhirnya, ibu-ibu memilih makanan apa saja yang murah, yang penting perut anak tenang. Gizi dinomorsekiankan. Demikian pula di kalangan obesitas, makan apa saja asal kenyang. Banyak tapi tidak bergizi.
.
Baik kurang gizi maupun obesitas, dua-duanya berdampak buruk bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kecerdasan terganggu, pertumbuhan badan terhambat, berat dan tinggi badan tidak normal, gerakan motorik halus dan kasar tidak berkembang, dst. Jika masa tumbuh kembang yang disebut golden age ini dilalui terseok-seok karena kurang gizi, bagaimana mereka kelak bisa menjadi generasi terbaik?
.
Kegagalan gizi, paling sederhana berdampak pada lemahnya tubuh sehingga mudah terserang penyakit. Dalam jangka panjang, anak akan bermasalah dalam tumbuh kembangnya. Mulai pertumbuhan fisik, kecerdasan, hingga perilakunya saat dewasa.
.
Problem Nonkesehatan
.
Tak hanya problem kesehatan, kebutuhan nonpangan yang tak kalah penting seperti rangsangan, perhatian dan kasih sayang bagi anak-anak, banyak yang terbaikan. Seperti bayi-bayi yang dibuang, dianiaya, dilecehkan hingga dibunuh. Bahkan jika bayi itu hidup, dipisahkan dari orangtuanya atas alasan cerai atau ditinggal kerja dalam jangka waktu lama.
.
Tak kalah penting hak anak-anak untuk dididik dengan agamanya. Betapa banyak anak-anak yang tidak mendapatkan sentuhan aqidah Islam dengan baik dan benar. Anak-anak tidak mendapat ilmu bergizi karena orangtua rendah pendidikan dan juga kurang paham Islam. Kurang tanggungjawab dalam mengemban amanah untuk mendidik anak sebagai aset.
.
Pendidikan anak-anak di rumah tidak berjalan semestinya. Orangtua merasa cukup dengan menyerahkan pendidikan ke sekolah. Padahal, kurikulum kerap tambal sulam dan minim muatan agama. Lahirlah anak-anak sekuler sejak dini. Sampai-sampai masih kecil sudah kenal pacaran, pelecehan seksual, rokok, dan bahkan perzinaan. Na'udzubillahi minzalik. Dosa siapa ini?
.
Menuntut Tanggungjawab
.
Dewasa ini problem anak, mulai bayi hingga remaja kian banyak dan beragam. Orangtua juga kian kurang cakap dalam mengurus dan mendidik anak. Padahal seharusnya, mengasuh dan mendidik anak adalah fitrah manusia yang bisa dijalankan orangtua turun temurun, naluriah, dari hati, penuh kasih sayang dan dedikasi. Namun, mengapa orangtua tampak begitu 'bodoh' menghadapi anak zaman sekarang? Bahkan di kalangan terdidik sekalipun.
.
Saking 'bodohnya' orangtua, mereka terpaksa mengejar ilmu-ilmu parenting habis-habisan. Padahal, terkadang biayanya tidaklah murah. Sekadar untuk belajar hal-hal yang tampak "sepele," seperti teknik membangunkan pagi anak-anak agar mau salat subuh berjamaah, trik agar bayinya mau makan sayur, tips bagaimana anak disiplin meletakkan barang pada tempatnya, dll.
.
Tampaknya, peradaban sekuler kapitalisme yang menjadi habitat para orangtua saat ini, telah sukses melakukan pembodohan besar-besaran. Setelah berpuluh tahun  bercokol di negeri ini, menjadi sistem hidup yang diadopsi di segala lini, sistem ini telah mengebiri peran dan kemampuan orangtua dalam menjalankan tugasnya. Termasuk memberikan hak-hak pada bayi dan anak-anaknya.
.
Walhasil, di balik kegagalan orangtua dalam mencukupi hak-hak anaknya, jelas ada kesalahan negara di sana. Negara yang telah menerapkan sistem kapitalisme-liberal yang gagal menjamin pemenuhan gizi anak melalui jalur orangtua, baik “gizi” berupa pangan maupun nonpangan.
.
Tentu saja, anak-anak gagal gizi ini harus segera dientaskan, agar kelak mereka bisa dididik menjadi generasi emas.  Caranya, terapkan sistem Islam dalam konsep negara Khilafah untuk menciptkan masyarakat yang tercukupi kebutuhan pokoknya, tak terkecuali bayi-bayi yang tidak berdosa.(kholda)

Post a Comment

0 Comments