BANYAK ALASAN UNTUK BAHAGIA

RemajaIslamHebat.Com - Akhir-akhir ini saya sering merasa sedih. Sedih yang tiba-tiba dan tanpa alasan jelas.

Uniknya, ada saja pembenaran bagi saya untuk layak bersedih.

Saya minta tausiyah kepada suami, apa yang seharusnya saya lakukan. Ia pun memberi banyak masukan, salah satunya menyadarkan saya bahwa rasa sedih, galau, dan was was itu bisa jadi datangnya dari setan. Maka jangan diperturutkan.

Saya ikuti semua saran suami. Meski sedikit tercerahkan, namun kadang kala rasa sedih itu menyergap begitu saja.

Saya ajak diri saya berdiskusi, sebenarnya apa sih yang saya cari? Apa yang membuat saya layak bersedih? Mengapa lebih mudah mencari alasan untuk bersedih daripada bahagia?

Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa saya tidak bisa bergantung pada lingkungan untuk membuat saya bahagia. Bahagianya saya, seharusnya saya sendiri yang menciptakan. Bukan dengan cara memaksa suami dan anak membuat saya bahagia. Kurang lebih begitu.

Nah, bahagia itu apa sih sebenarnya?

Ada banyak versi tentang arti kebahagiaan. Bahagia-nya anak kecil, tentu berbeda dengan bahagia versi manula.

Pekan-pekan kesedihan yang saya rasakan kemarin, akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan. Bahwa sebenarnya bahagia itu sederhana sekali kawan.

Dengan menyadari bahwa seburuk apapun keadaan kita di hari ini, ada yang jauh lebih buruk. Jika di atas langit masih ada langit, maka dibawah tanah yang kita pijak, masih ada tanah lagi yang berlapis-lapis dalamnya.

Kedengarannya seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain ya?

Bukan.

Maksudnya, bahagia ada pada rasa syukur. Siapa yang pandai bersyukur, dialah orang paling bahagia.

Kelihatannya teoritis memang.

Tapi nyatanya inilah yang mampu menyelamatkan brankas kebahagiaan saya, dari kekeringan.

Saat saya terus mengeluhkan anak-anak yang bising dan sulit duduk diam, saya melihat bahwa ada ibu yang diuji dengan anak yang memiliki cacat bawaan, atau sakit yang berat. Di sisi lain si ibu tadi pun layak bahagia. Dia masih bisa mengelus sayang kepala anaknya, melihat anaknya kapan saja. Bandingkan dengan ibu yang kehilangan anak untuk selamanya.

Ya Allah... dan saya baru diuji dengan polah anak saja sudah merasa begitu beralasan untuk mengeluh

Saat saya sedih dengan kesendirian, punya suami yang nyaris hanya bisa bertemu dan ngobrol di malam hari (itu pun dalam kondisi lelah dan ngantuk), saya melihat (sekaligus angkat topi) kepada ibu-ibu yang menjalani LDM. Sejarang-jarangnya saya bertemu suami, di malam hari bisa dipastikan saya ada yang menemani. Ada yang bisa saya curhati. Mengantar ke rumah sakit saat ada kegawatdaruratan. Lalu ibu-ibu itu?

Ya Allah... remeh sekali bukan rasa kesepian ini

Saat saya sakit
Saat anak sakit
Saat kekurangan secara materi
Saat kelelahan
Saat merasa tidak berharga
Saat menekuri ijazah yang kini entah disimpan dimana
Saat sedih tanpa ujung..

Di luar sana akan selalu ada yang jauh lebih berat skala penderitaannya, dibandingkan saya.

Ya, akan selalu ada..

Karena memang itulah hakikat kehidupan. Bahwa bahagia dan susah tak pernah kekal. Sifatnya cuma saling menunggu giliran.

***

Lelah, susah, sedih, itulah sifat dunia.

Sabar dan syukur, adalah penolongnya.

Semoga kita termasuk orang yang pandai mencari alasan untuk selalu berbahagia.[]

Sumber:

Fb: Wulan Darmanto

Post a Comment

0 Comments