Bagaimana Tahapan Belajar Matematika untuk Anak Usia Dini?

2-7 Tahun
Pada usia ini anak berada pada tahap perkembangan kognitif pra-operasional dimana mereka berpikir masih intuitif, belum logis. Mereka masih berpikir secara konkrit, belum mampu berpikir abstrak. Oleh karena itu untuk memahami matematika HARUS dipaparkan dengan benda KONKRET.

2-4 Tahun
Belajar matematika dimulai dengan cara mencocokkan benda sesuai warna, bentuk, dan ukuran.
Memahami benda yang lebih banyak sedikit, tinggi pendek, besar kecil.
Contoh dalam keseharian:
Ketika saya membagi kue menjadi dua bagian yang nggak sama, Sahla (4y7m) langsung buru-buru mengambil bagian yang lebih besar, sedangkan sumayyah (2y8m) belum bisa protes nerima bagian yang lebih kecil. Lain cerita kalau kakaknya pake teriak "aku lebih besaar!" meski ibu membagi dengan sama, pasti bakalan ada yang ngga terima dengan kuehnya meski udah dibilang ini sama besar kook. Ngeyel, khas anak 2th-an fyuuuh...

Nah anak 4th diharapkan sudah memahami dengan baik mana benda yang lebih besar/banyak/tinggi dibanding lainnya sedangkan anak 2th baru mulai belajar untuk hal tsb.
Oleh karena itu perlu berikan latihan terus menerus untuk si 2th tentang benda-benda yang lebih besar/banyak/tinggi dibandingkan lawannya. Ingat! Belajar itu harus latihan berulang, agar sambungan di otak semakin kokoh.

4-7 Tahun/ usia prasekolah/ TK
Anak menghitung menggunakan benda-benda yang KONKRET.
Yang menjadi keprihatinan adalah saat ini anak usia prasekolah/taman kanak-kanak sudah langsung diberikan kertas (worksheet) untuk belajar berhitung, meski dengan gambar sekalipun. Bukan salah worksheetnya sih tapi BELUM SAATNYA.

Berikan anak  benda nyata seperti batu, stik eskrim, manik-manik dll (dalam foto saya menggunakan waterbeads, magic beads, lego besar) agar mereka paham betul bahwa bilangan 4 lebih banyak daripada 2, bahwa 6 lego jika disusun lebih panjang dari 3 lego dst. Anak harus menyentuh, merasakan sendiri mengenai jumlah mana yang lebih dari yang lain agar ketika saatnya mereka hanya menggunakan simbol bilangan, mereka mampu membayangkan.
Contoh yang pernah saya alami, dulu saya mengajar matematika anak kelas 2 SD penjumlahan yang sudah menggunakan simbol bilangan. Ketika saya tanya 2 dan 4 mana yang lebih besar? (dan pertanyaan-pertanyaan sejenis lainnya) diapun bingung tidak bisa menjawab..  oooh sedihnya nak sepertinya kamu harus mengulang tk T.T pikirku saat itu.
Yang sedihnya lagi, saya punya tetangga yang nggak naik kelas (tinggal di kelas 3) gara-gara nilai matematika nggak mencukupi syarat lulus, padahal dalam hal lain seperti menghafal, bercerita, dll ia sangat baik. Kata ibunya, dia nggak paham-paham konsep matematika yang diajarkan. Saya yakin pasti ada tahapan atau pondasi yang terlewat. Dan untuk mengejar hal itu, sudah nggak ada waktu, karena kelas 3 matematika sudah lebih rumit dari sekedar tambah-tambahan, kan?

Jadi, ayoo sebelum terlambat!
Matematika itu ada di dalam kehidupan, kita butuh itu minimal konsep-konsep dasarnya dan insyaAllah bisa dipelajari dengan cara menyenangkan lhoo.. Asalkan bertahap, kuatkan pondasinya terlebih dahulu.

Oleh-oleh dari seminar "Belajar Asyik Matematika Untuk Anak Usia Dini" bersama Lita Edia, S.Psi di Depok
17 Agustus 2017.

Sumber:

Fb: Bani Sara Fatimah

Post a Comment

0 Comments