APA MAKANAN YANG BIKIN BAHAGIA?

Oleh : Amalia Sinta

PERNAH ga Mak, merasa bingung hari ini mo masak apaan?

Udahlah bingung karena bisa masaknya resep yang itu itu ajah dan ini ini lagi, ditambah pula bosan karena kadang ga ada lauk 'iwak ayam' nya..

Kadang hati bersuara:
"Duh, kok ijo-ijo terus ya isi piringnya, mana ayamnya?"

Aroma yang ngebul dari dapur ga jauh-jauh dari petai bakar. Lah aroma ikan bakar kapan terciumnya?

Apalagi lauk daging, lebih sering absen dari menu keluarga.

Mau ngemil juga udah bosan ama mangga di halaman. Gak sempat matang manis, udah dipetik buat rujakan.

Geser dikit ke pasar sebelah, juga sama ajah. Paling isinya buah-buahan lokal yang murah.

Kapan makan anggur merahnya, kapan makan golden kiwinya?

Gak hepi deh.
Makin gak senang saat liat temen posting isi piring mereka yang lagi makan di restoran tepi laut itu.

Bete, merasa kurang tajir, sebel ama keadaan ini. Pernah juga komplen ke suami sambil meratapi nasib yang gini gini ajah huhu..

Suami berusaha menenangkan sambil berjanji akan bekerja lebih keras.

Lalu hati merasa senang saat ada uang lebih, di akhir pekan bisa makan ayam bakar di rumah makan terkenal itu. Yey bahagianya..

Atau girang bisa pesen ikan bakar di resto seafood yang sampe waiting list pengunjungnya.

Yes, udah tercapai keinginan..
I'm happy..

♧♧♧

Sementara itu, dibelahan bumi lainnya, di foodcourt mall megah ibukota, tampak antrian panjang di sebuah counter makanan.

Tau gak yang dijual apaan?

Itu loowh, yang sehari-hari kita makan. Yang sering kita bilang :
'bosen'
'ah itu lagi'
'males makan deh'

Yup, menunya gak jauh-jauh dari gado-gado, pecel, tempe mendoan, rujak buah (yang isinya buah-buahan 'sederhana') dan kawan2nya.

Ga pake ikan, ayam, daging atau segala yang kita anggap lezat.

Yang antri siapa ajah?

Mereka dengan kemeja necis dan sepatu mengkilat, dress indah dan wajah full make up, semua rapi dan wangi.

Kalau gak yakin mereka tajir, coba liat kunci mobil yang nongol tergantung di kantong celananya. Ga ada yang bawa mobil tua kaya punya kita (saya) hehe..

Wajah mereka sumringah, bahagia, tertawa lepas saat makan makanan itu.

♧♧♧

Hahaha...pengen ketawa dan jadi malu ama diri sendiri kalo liat itu.

Mereka ajah hepi banget makan sayur-mayur ajah gitu, kenapa kita malah ga hepi?

Harusnya kita lebih bahagia dari mereka donk yaa.. Mereka membayar lebih mahal untuk makanan yang sama dan musti ke mall dulu.

Gado-gado 40rb, rujak buah 30rb. Piringnya ukuran sedang ajah, cuma cukup buat seorang, atau dua orang tapi gak kenyang.

Sedangkan kita, bisa dapet gado-gado enak seharga 10rb ajah, rujak buah segar paling 5rb dah kenyang. Tiap hari bisa makan, tinggal jalan kaki dikit ke depan jalan sana.

♧♧♧

Nah itulah manusia. Makanan yang tidak kita inginkan, bisa jadi yang diidamkan oleh orang lain.

Itulah manusia. Yang dimiliki saat ini, terasa tidak istimewa. Yang tidak tergapai, serasa disanalah kebahagiaan terletak.

Itulah manusia. Suka mensyaratkan banyak hal untuk mendapat rasa bahagianya.

Padahal syarat itu hanya akan menghambat hadirnya rasa bahagia. Dan kita pun lupa mensyukuri segala hal yang tersedia di sekitar kita.

Padahal mengunyah makanan sambil bersyukur, membuat kita lebih menikmati rasa dalam tiap suapan. Nutrisinya diserap dengan baik dan membuat tubuh jadi lebih sehat.

Jadi Mak, apapun makanannya, minumnya Teh Bo... eh, berucap syukurlah...

Sekarang, selamat masak dengan semangat ya Mak. Tiap adukan berbumbu cinta, akan nikmat terasa. Gak perlu terlalu menuntut suami bekerja di luar kapasitasnya agar bisa pulang sambil membawa makanan yang mahal.

Syukuri apa yang ada, maka nikmatmu akan ditambah.

Keluhkan apa yang ada, maka duka nestapa akan bertambah.

Selamat mengajarkan cara bersyukur lewat hal sederhana pada anak-anak kita
Hari ini makan ayam dengan hepi
Besok makan sayur dengan hepi juga
Lusa makan tempe dengan tetap hepi..

Selamat makan dengan penuh kebahagiaan
Setiap hari, setiap saat..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments