ANTARA KAU, ISTRIMU DAN IBUMU

Oleh : Amalia Sinta

"Istrimu kok gak hamil-hamil. Jangan-jangan kamu nikahin perempuan mandul"

Seru seorang ibu pada anak lelakinya. Suaranya yang tak dikecilkan itu pastilah sampai juga ke telinga sang menantu yang sedang berada di kamar.

♧♧♧

"Itu bayi kamu nangis terus pasti laper. ASI nya dikit ya, gak cukup tuh. Udah gpp dikasih pisang ajah biar kenyang trus diem"

Ibu muda itu pun tertunduk sedih. Tak heran ASI nya makin macet dan bayangan gangguan pencernaan karena MPASI dini pada bayinya yang baru berusia 3 bulan itu semakin menambah stress pikirannya.

♧♧♧

"Jadi istri itu jangan boros. Suami kamu capek kerja cari duit sampe malem"

Meski mulut diam tak menjawab tapi panas merayap di telinga. Padahal sejak hampir setahun lalu setelah melahirkan, ini baju pertama yang ia beli untuk dirinya sendiri.

♧♧♧

Fiuuh.. Saya menghela nafas panjang membaca sebagian curahan hati para menantu perempuan yang merasa tertekan hidup seatap dengan ibu mertuanya.

Memang tidak semua hubungan mertua dengan menantu perempuan itu bermasalah. Banyak yang bisa rukun, kompak dan beruntunglah mereka yang menikmati anugrah indah itu.

Namun realitanya, banyak konflik terjadi pada hubungan mertua-menantu, terutama pada menantu yang memilih menjadi ibu rumah tangga.

Hal ini terjadi karena kedua wanita itu bertemu dan berinteraksi sepanjang hari, terus-menerus setiap hari, sehingga rawan menimbulkan gesekan dan kesalahpahaman.

Sayangnya, suami seringkali tidak bisa mengambil sikap.

Ketika istrinya sedang curhat, langsung dipotong dengan kalimat mutiara yang selalu menjadi andalan :
"sabar ajah, kamu kan tau ibu emang gitu orangnya"

Aduh Pak, dengarkan dulu istrimu bercerita. Biarkan dia keluarkan semua perasaan yang mengganjal di hatinya. Biar lega dan plong.

Kadang dia cuma butuh didengarkan dan berikan pelukan untuk mengobati sakit hatinya.

Ucapkan terima kasih atas kesabarannya menghadapi ibumu. Sungguh kebesaran hati istrimu itu perlu kau apresiasi.

Mungkin kau merasa istrimu lebay. Tapi coba ambil waktu untuk merenung sejenak. Bayangkan kalau kau yang ada di posisinya.

Dari sebelumnya kau seorang lajang yang bebas, kemudian menikah dan langsung harus beradaptasi hidup serumah dengan ibu mertua yang baru sebentar kau kenal. Belum saling mengetahui kebiasaan masing-masing.

Setiap hari dituntut berperilaku baik, gak boleh salah, segala urusan harus beres.

Kira-kira sanggupkah kau selalu tampil sempurna?

Nah begitulah perasaan istrimu.
Tertekan.

Meski begitu, ia tak menyalahkan ibumu yang perfeksionis itu. Tidak.

Tapi, bisa kan kau bicara pada ibumu agar melembutkan ucapannya pada istrimu?

Menegur menantu itu boleh. Tapi pilihlah kalimat yang enak didengar.

Menyuruh menantu juga boleh. Tapi pakailah kata tolong dan terima kasih.

Bukankah istrimu juga berhak dihormati?

Kalau ada istilah "rumah adalah istana",
Maka "wanita adalah ratunya".

Dan sungguh sulit di sebuah istana diatur oleh dua ratu.

Salah satunya pasti mengalah. Dan seringkali mengalah dengan keterpaksaan..

Memang sudah dari sananya Pak, yang namanya wanita itu suka mengatur. Segala yang bisa diatur, pasti dia urusin. Letak perabot di rumah, warna barang-barang, soal pengeluaran keuangan, sampai detail mengatur makanan dan pakaian suami juga anak.

Nah gimana bisa berjalan baik kalau ada dua kepala yang ingin mengatur?

Lalu yang sangat penting juga Pak, soal pengasuhan anak.

Istrimu sangat butuh dukunganmu untuk bersamanya merumuskan pola pengasuhan anak.

Ibumu sudah memakai haknya untuk mengatur segala hal tentang anak, yaitu saat ia membesarkanmu dan saudara-saudaramu dulu, Pak.

Kini giliran istrimu memakai haknya membuat keputusan soal anak yang telah susah payah dikandung dan dilahirkannya.

Dukunglah istrimu memberi ASI. Bantu berikan sudut pandang baru pada ibumu bahwa sufor hanya diberikan karena alasan medis.

Jangan biarkan beliau memberi sufor hanya agar si cucu bebas diajak pergi kemana-mana olehnya, tanpa ibunya.

Pun soal ketidak-konsistenan aturan, akan membuat bingung anakmu. Ibunya bilang A, neneknya bilang B. Ibu melarang, nenek membolehkan.

Jangan biarkan anakmu tumbuh jadi pribadi yang manja karena semua keinginannya selalu dipenuhi sang nenek.

Atau soal rumah yang harus selalu rapi. Padahal balitamu memang sedang masanya bergerak kesana kemari.

Jangan biarkan gadget jadi obat mujarap agar dia duduk diam. Efek buruk kecanduan gadget itu sangat banyak Pak.

Jadi tolong ajak beliau duduk bersama dan bicara ya, Pak.

Engkau pasti tau cara meluluhkan hati beliau. Agar seiya sekata soal pengasuhan.

Lalu, berusahalah lebih peka akan isi hati istrimu.

Ini mungkin sudah pernah diucapkan oleh istrimu, tapi entah kau benar-benar mendengarkan atau tidak :

Bahwa istrimu akan lebih memilih tinggal di rumah kontrakan kecil namun hanya bersamamu dan anak-anak; daripada di rumah besar milik ibumu.

Istrimu pasti kuat hidup prihatin dulu, merintis dari nol bersamamu.

Mulailah serius menabung untuk mengontrak rumah sendiri. Tunda dulu kesenangan mentraktir teman ataupun membeli barang yang tak esensial.

Pindah dari rumah ibumu bukan berarti tidak menghormati beliau. Kau bisa tetap rutin mengunjungi beliau di setiap akhir pekan. Toh beliau tidak dalam keadaan sakit kan, Pak..

Justru jika terus membiarkan situasi tidak sehat seperti ini, tak baik bagi keduanya.

Istrimu bisa stress hingga depresi. Bagaimana dia bisa mengurus anakmu dengan baik jika dia gak bahagia?

Bukankah pernikahan harusnya membawa kebahagiaan?

Tanyalah ke dalam lubuk hatimu yang terdalam. Kau kan sangat mengenal ibumu. Kau tau beliau tipe yang dominan, ingin berkuasa dan perfeksionis.

Kini kau telah menikah. Mau tak mau kau harus bisa bersikap dan siap berdiri di atas kedua kakimu sendiri.

Muliakanlah ibumu, tanpa melukai istrimu.
Bahagiakanlah istrimu, tanpa menyakiti ibumu.

Selamat berjuang Pak
Karena jika bukan engkau,
Siapa lagi yang bisa menjadi penyambung lidah antara keduanya?
Dua wanita yang sama-sama kau cinta..

Dan salam hormat saya bagi seluruh ibu mertua yang bersedia menerima kehadiran menantu di rumahnya. Memperlakukannya dengan baik seperti anak kandungnya sendiri.

Bersyukurlah kita, para istri yang mendapat mertua baik hati. Sungguh rejeki yang luar biasa saat merasa cocok, rukun dan kompak dengan ibu mertua. Mari kita muliakan beliau seperti ibu kandung kita sendiri

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments