ANAK KITA KAH 'KORBAN' SELANJUTNYA?

Oleh : Amalia Sinta

Dear bunda,
Sudah berapa banyak kah kisah nyata di FB yang pernah kita baca?

Tentang speech delay (terlambat bicara), tentang efek bentakan keras pada balita, atau pun kisah serupa lainnya.

Ada dua kisah nyata sedang ramai beredar di FB minggu ini.

Kisah pertama tentang seorang anak yang mengalami keterlambatan bicara karena terlalu sering nonton TV. Kemudahan yang membuat terlena. TV nyala, anak diam, emak bisa beberes rumah. TV mati, anak nangis, emak gak tahan dengernya, nyalain lagi. Akhirnya jadi kecanduan dan berakhir dengan keterlambatan bicara.

Kisah kedua tentang balita yang tiba-tiba menunduk kaku, badan dingin, mata melotot, setelah 2x dibentak keras dan diabaikan tangisannya. Orangtuanya segera membawanya ke RS dan diperiksa otaknya. Untung tak sampai ada masalah serius. Namun petugas Lab EEG (elektroensefalogram; salah satu tes yang dilakukan untuk mengukur aktivitas kelistrikan otak untuk mendeteksi adanya kelainan otak) memperingatkan agar tidak membentak keras anak lagi karena bisa menyebabkan cidera otak.

Apa yang kita rasakan setelah membaca cerita tersebut?

Biasanya hati bergemuruh, turut prihatin dan ikut mendoakan anak tersebut, juga sedih karena merasa anak kita juga 'hampir' seperti cerita tersebut. Anak kita sudah mulai mengarah ke kecanduan juga. Anak kita jadi ikut hobi teriak karena sering dibentak.

Maka kita membulatkan tekad :
"Pokoknya ini jangan sampai terjadi pada anakku"

Artikelnya di share biar tersimpang di wall kita buat pengingat lagi esok dan biar temen lain pada baca juga.

Lalu Pertanyaan Pentingnya,

Berapa lama efek dari membaca kisah itu kita rasakan?

Hari pertama dan kedua masi ingat jelas.
Hari ketiga dan empat masi anti TV, gadget dan masih bisa gak bentak anak.

Minggu depannya, kita yang stay at home mom, mulai merasa lelah. Seminggu full urus anak dan rumah, tanpa disambi gadget. Kerjaan keteteran, hati terasa lebih capek karena terus menahan emosi.

Kita yang working mom, seminggu ini neneknya mulai komplain capek ngasuh cucu tanpa dijeda gadget. Bingung, makin gak enak merasa merepotkan orang tua.

Lalu perlahan menyalakan TV lagi.
Sebentar ajah gpp, biar emaknya bisa makan.
Lanjut satu jam aja deh biar bisa ditinggal masak.
Nambah dikit jadi dua jam masih gpp lah, biar sekalian semua urusan kelar.

Pelan tapi pasti, anak menangkap ketidakkonsistenan orangtuanya dalam bersikap.

Minggu lalu keras, sama sekali gak boleh.
Minggu ini nangis, trus jadi boleh.
Oke, besok aku pun akan nangis lagi biar boleh. Gitu pikir si anak.

Anak nangis kejer, emak cape fisik dan pikiran, emosi gak terbendung lagi. Amarah pun keluar tanpa bisa dicegah. Entah kenapa mulut ini langsung membentak-bentak keras dengan berderet kalimat panjang..

Lalu, apa kabar efek membaca kisah nyata kita di awal tadi?

Kemana perginya tekad :
"pokoknya ini jangan sampai terjadi pada anakku"?

Bila membaca kisah nyata tetap tidak bisa menyadarkan,
Haruskah menjadi "korban" terlebih dahulu untuk bisa benar-benar berubah?

Dear bunda sayang,
Bukankah kau merasa sedih saat membaca cerita senada sering terulang?

Maka pasti kau akan jauh lebih sedih saat hal serupa sampai menimpa anak sendiri.

Yuk kita cegah, kuatkan tekad biar semangat perubahan tetap terjaga.

Lalu gimana caranya ya, biar bisa mengambil hikmah dari kisah nyata seseorang dan bisa menetap di kepala?

Cara ini bisa dicoba :

1. FOKUS SAAT MEMBACA AGAR BISA MERESAPI

Sering sekali kita membaca sambil melakukan hal lain. Entah sambil nonton TV, nyuapin anak, atau sambil makan. Saat kita melakukan hal lain, itu berarti 'Fokus Terbagi'.

Artinya, kemampuan kita dalam memahami bacaan tersebut tidak maksimal sehingga tidak sampai meresap ke bawah sadar kita. Inilah penyebab begitu mudahnya segala inspirasi menguap begitu saja beberapa hari setelah membacanya.

Jadi kalau mau benar-benar paham dan meresapi, fokuslah membaca saja. Tidak dibarengi melakukan apapun. Kalau artikelnya panjang dan kita sedang gak sempat, lebih baik skip. Lanjut baca lagi saat anak tidur. Baca pelan-pelan, pahami. Biarkan otak mencerna dan meresapkan maknanya ke bawah sadar kita. Jadi gak gampang lupa maknanya.

2. UBAHLAH DIRI SENDIRI DULU

- Soal gadget

Adalah mustahil bila ingin mendisiplinkan anak tentang TV dan gadget tanpa orangtuanya dulu yang disiplin. Walau episode sinetronnya lagi seru, kalo stop TV, ya stop. Walau tangan gatel pengen maen hape, komit simpen, ya simpen.

Kalau hape buat bisnis online, bisa pakai jam layanan. Tentukan jam berapa ajah terima ordernya. Kalau udah berkembang pesat, bisa rekrut admin untuk membantu.

Kalau kita ibu rumah tangga, ingatlah selalu anak lebih penting dari kerjaan rumah. Turunkan standar kerapihan rumah. Libatkan anak dalam tiap aktivitas, sekalian mereka belajar beberes rumah.

- Soal Emosi

Marah adalah reaksi yang timbul dalam diri atas ketidaksuaian antara keinginan dan kenyataan. Marah itu boleh asal wajar, tidak berlebihan.

Menahan marah hanya akan menumpuk beban di hati. Makanya terasa lelah sekali hati ini, saat diharuskan sama sekali gak marah sama anak dan kemudian malah meledak dahsyat.

Anak boleh dimarahi kok saat dia emang salah. Cukup naikkan sedikit nada bicara kita. Yang perlu diingat, makin kecil usia anak, makin sia-sia memarahinya.

Jadi daripada memarahinya, mending menanamkan pemahaman ke diri sendiri bahwa dia bukan anak nakal, tapi sedang berekplorasi. Marah kepadanya bukan hanya kurang berguna, tapi malah menghambat perkembangan otaknya dan membuat emaknya stress sendiri.

Jadi yang benar itu mengontrol emosi, bukan menahan emosi yaa..

3. TEMPEL TULISAN PERINGATAN

Ini efektif buat menyegarkan ingatan lowh. Ambil selembar kertas dan spidol, tulis besar-besar "AWAS SPEECH DELAY" dan tempel di TV. Iyaa, tempel di TV nya. Jadi tiap tergoda mau nyalain, langsung mundur teratur deh hehe..

Tempel di lemari baju "HP HANYA SAAT ANAK BOBO" dan "JANGAN BENTAK, JANGAN PUKUL ANAK"

Kata 'anak' bisa diganti nama anak ya. Biar lebih bermakna.

Tapiii, tulisan ini gak akan berati tanpa keteguhan hati. Jadi balik lagi soal janji mengubah diri sendiri yaa..

Karena seperti kata Konfusius :
"To know but not to do is not yet to know"

"Mengetahui, tetapi tidak melakukan itu sama artinya dengan tidak mengetahui"

4. BE CREATIVE

Awal lepas TV dan gadget pasti akan beraaat. Kuatkan pendirian untuk tidak menyerah saat anak tantrum meminta gadget. Slalu ingat ini demi kebaikannya sendiri.

Jadi ciptakan banyak permainan supaya mereka gak bosan . Kalo kurang kegiatan, anak rewel dan jadi bertingkah aneh-aneh yang memancing emosi. Perbanyak aktivitas di luar rumah biar dia lupa ama gadgetnya. Main sepeda, jalan sore, main bola dll. Badan anak pun jadi lebih bugar.

Bisa browsing buat cari ide kreatif pemainan anak, cari di fanspage anak, beli buku tentang permainan kreatif untuk anak. Pilih kegiatan yang membutuhkan waktu lama seperti susun lego / balok kayu, mewarnai, main cat air,  merangkai mute jadi kalung / gelang, membacakan cerita menarik di buku dll.

♧♧♧

Btw tulisan ini bukan bermaksud memerangi TV dan gadget. Karena saya pun termasuk yang tetap ada TV di rumah dan anak tetap main hape. Karena saya dan anak masih merasakan manfaatnya.

Asal disiplin soal pengaturan waktunya dan anak tetap aktif di stimulasi kecakapan bicara dan kegiatan fisiknya, TV dan gadget gak selalu jadi biang masalah tumbuh kembang anak.

Namun jika dirasa kita gak bisa mengatur lama penggunaannya, yowis mending stop ajah sekalian. Tunggu sampai anak lancar bicara, baru dibolehin nonton TV dan gadget, seperlunya. Daripada menyesal kemudian yaa. Atau kalau mau lanjut gak pake TV dan gadget ya gpp banget.

Fyi, berikut beberapa penyebab speech delay :
- kurangnya stimulasi bicara oleh orang tua atau pengasuh
- terlalu lama nonton TV dan main gadget
- kelainan anatomi / bentuk lidah
- gangguan pendengaran
- bilingual / penggunanan dua bahasa di rumah
- autisme

Sebagai patokan tumbuh kembangnya, bila usia 18 bulan belum ada 5 kata yang bisa terucap jelas, sebaiknya segera diajak ke klinik tumbuh kembang.

Anak akan diperiksa dan menjalani serangkaian tes oleh dokter dan diberikan jenis terapi yang sesuai dengan penyebab speech delay nya.

Jadii..
Ayo kita teguhkan hati
Untuk merubah diri
Biar tidak mudah emosi
Atau terlalu bergantung pada tivi

Untuk mencapai hal besar, diperlukan usaha yang besar pula
Segala lelah akan terbayar tak bersisa
Saat anak tumbuh sempurna
Itulah impian indah yang jadi nyata..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments