ANAK JADI PENAKUT KARENA SIAPA?

Oleh : Amalia Sinta

"Ayo habiskan makannya. Kalo gak, ntar sakit lowh. Nanti disuntik sama pak dokter"

"Kamu kok nakal banget sih, mama panggilin polisi ajah biar kamu ditangkep"

"Dede kok rewel terus, dari tadi nangis. Udahlah biar dibawa ajah sama badut itu tuuh"

"Awas ada hantu / tikus di gelap-gelap situ"

♧♧♧

Familiar dengan kalimat semacam ini?
Sering dengar atau malah sering mengucapkan?

Sebagian besar orangtua kita jaman dahulu, mengucapkan kalimat semacam ini sebagai jurus sakti untuk mengontrol anaknya.

Anak diam, menurut, dan orangtua merasa senang. Merasa caranya sudah tepat.

Padahal jauh dalam diri anak, tersimpan jelas gambaran menakutkan akan sosok dokter, polisi, badut, kegelapan, hantu, tikus dsb.

Anak menurut bukan karena hadirnya kesadaran, tapi karena keterpaksaan dan dorongan rasa takut yang diciptakan oleh orangtuanya sendiri.

Maka jangan heran,
Bila melihat anak menangis sangat keras saat hendak masuk ruang periksa di RS dan melihat sosok dokter. Badan kecil yang sedang sakit itu tentu makin tidak enak jika menangis seperti itu.

Maka jangan bingung,
Saat anak tersesat hilang di jalanan, anak malah lari sembunyi saat melihat sosok polisi yang seharusnya bisa menyelamatkannya.

Maka jangan kaget,
Saat anak meraung histeris saat bertemu badut di pesta ultah temannya. Padahal anak lain asik bermain dan berfoto dengan sang badut.

Maka jangan kesal,
Kalo anak ga berani mandi sendiri. Minta ditemani terus sampai besar. Takut ketemu tikus. Takut gelap. Dan segala ketakutan lainnya.

Kerena tanpa ditakut-takutipun, secara alami anak bisa takut saat bertemu orang baru, saat mendengar suara keras, berada di kegelapan atau bertemu badut (coulrophobia).

Apa lagi jika sering mendapat gambaran menakutkan tentang hal ini dari orang terdekatnya. Bisa membuat rasa takut anak semakin melekat.

♧♧♧

Dear Ayah Bunda,

Dulu mungkin orangtua kita bersikap menakuti begitu karena kurangnya referensi ilmu parenting. Tapi kini, kita sudah melihat banyak contoh nyata anak yang tumbuh dengan rasa takut berlebih pada banyak hal. Phobia ini itu, mengganggu ketenangan hidupnya. Kasihan kan..

Atau mungkin kita salah satu korbannya?

Maka tinggalkan lah warisan pengasuhan penuh ancaman dan ketakutan ini.

Tantangannya adalah berpikir kreatif. Pilih kalimat persuasif saat menyuruh anak. Membujuk, menciptakan suasana menyenangkan, dan negosiasikan.

Jika sulit diajak makan, bisa dibacakan ilustrasi cerita, bermacam sayuran sebagai tokoh utama. Vitamin nya membuat tubuh kuat, jadi bisa main lama. Anak akan lebih tertarik memasukkan makanan ke mulutnya..

Beri perhatian lebih. Anak terasa 'nakal' hanya untuk menarik perhatian orangtuanya. Luangkan lebih banyak waktu bermain dengannya. Maka ia akan lebih mudah diajak bicara..

Daripada banyak melarang, mengancam dan menakuti, lebih baik memberikan kesempatan anak mencoba hal baru, ajari caranya, lakukan bersama dalam pengawasan penuh.

Untuk hal yang memang berbahaya, kita bisa melarang anak dengan memberikan alasannya. Jika akhirnya anak menangis, biarkan ia menangis untuk melepas emosinya. Sabarlah menunggu tangisnya reda lalu ajak bicara perlahan. Ancaman hanya akan menambah beban emosinya..

♧♧♧

Tidak menakut-nakuti akan hal apapun adalah salah satu prinsip saya dalam membesarkan anak. Saat ini kak Tera 4th 3bln, seingat saya tidak takut akan hal apapun.

Lihat badut, ondel-ondel, barongsai, dll yang kadang saya merasa agak seram, anaknya malah ketawa-tawa hehe..

Lagi sakit periksa ke dokter, malah minta nyobain alat-alat dan meriksa dokternya hihihi..

Saat anak perlu disuntik (biasanya imunisasi), saya lebih suka jujur menjawab pertanyaan anak tentang rasanya disuntik, dengan bilang "sakit sedikit" daripada bohong bilang gak sakit sama sekali. Anak yang dibohongi akan kehilangan kepercayaan pada orangtuanya.

Lalu saya juga sering berpesan padanya, kalau terpisah dari saya, minta bantuan ke om satpam atau om polisi.

♧♧♧

Maka yakinlah Bunda, setiap anak pada dasarnya adalah Pemberani.

Kita sendirilah, orangtuanya, yang kadang menanamkan konsep takut ke dalam pikiran anak.

Bila sudah terlambat, bicaralah empat mata dengan anak. Minta maaflah, akui kesalahan. Jelaskan bahwa itu semua gak menakutkan.

Ucapkan kalimat positif yang menumbuhkan keberanian dalam dirinya. Sabar temani anak mendekati sumber ketakutannya perlahan, sedikit demi sedikit. Pastikan orangtuanya hadir untuk memberi rasa aman agar berkurang ketakutannya.

Sampaikan pula pada orang-orang yang tinggal serumah, yang terlibat dalam pengasuhan si kecik, agar berhenti menakut-nakutinya.

Membuat anak mau bekerja sama memang tidak mudah. Tapi disitulah letak tantangannya sebagai orang tua. Agar kita bertumbuh sebagai pribadi yang lebih sabar, kreatif dan menyenangkan di mata anak.

Karena waktu tak pernah bergerak mundur. Tidak ada kesempatan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki karakter yang terlanjur melekat kuat saat anak tumbuh besar. Dan penyesalan selalu terasa lebih menyesakkan di hati.

Selamat berjuang Ayah Bunda
Berpikirlah kau mampu
Maka kau akan dimampukan olehNya..

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments