Ajarkan Anak Meminta Izin sejak Dini

Oleh: Annisa Afriliani Hana

SUATU hari anak-anak saya datang sambil membawa dedaunan di tanganya. " Bunda, ini untuk main masak-masakan."

"Itu darimana, Nak?" kata saya.
" Metik dari depan rumah situ, Bun.." sambil menunjuk ke sebuah arah.
" Tanaman itu punya orang sayang, gak boleh petik-petik sembarangan tanpa izin.... Lain kali gak boleh bgitu ya...dosa, Nak." anak-anak pun mengangguk-angguk. Semoga mereka mengerti.
==================================

Saya memang selalu menekankan anak-anak untuk meminta izin sebelum mengambil atau memakai sesuatu yang bukan miliknya. Apapun itu. Semata-mata sebagai wujud penjagaan agar mereka selalu dalam koridor akhlaq yang mulia. 

Islam juga memerintahkan untuk meminta izin sebelum masuk ke rumah orang lain. Tidak asal nyelonong, mentang-mentang pintunya terbuka dan menganggap "ah, kan saudara sendiri." atau " Ah, kita kan tetanggaan sudah lama, sudah akrab." Itu tidak boleh dijadikan dalil, karena seorang muslim selayaknya hanya menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah saja sebagai rujukan dalam bertingkah laku.

Allah swt berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah yang bukan rumah kalian sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagi kalian, agar kalian selalu ingat. Jika kalian tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kalian masuk sebelum kalian mendapat izin. Dan jika dikatakan kepada kalian: “Kembalilah, maka hendaklah kalian kembali. Hal itu lebih suci bagi hati kalian dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. An-Nur: 27-28)

Banyak kejadian, langsung nyelonong masuk ke rumah orang akan menyebabkan dzalim terhadap si penghuni rumah. Bisa saja si penghuni rumah belum menutup auratnya dengan sempurna.

Maka, Islam mengajarkan ketika bertamu, adabnya adalah memberi salam dan tidak menggedor pintunya terlalu keras. Jika sudah tiga kali salam tapi tidak ada jawaban atau respon dari dalam rumah, maka Islam mengajarkan kita untuk kembali pulang ke rumah. Tidak menunggu-nunggu di depannya. Mungkin saja si pemilik rumah sedang pergi atau sedang tidak ingin ditemui.

“Jika salah seorang di antara kalian sudah meminta izin tiga kali dan tidak diizinkan maka pulanglah.” [HR. Al-Bukhari no. 6245 dan Muslim no. 2153 (33)]

Meminta izin ini harus ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita. Agar mereka tumbuh besar dengan kepribadian Islam yang melekat. Dalam perkara kecil taat syariat, apalagi perkara besar. Jangan biasakan anak-anak mengambil HP orangtuanya tanpa izin, mengambil uang di dompet ortunya sekehendak hati, dan mengoprek di rumah orang saat bertamu. Orangtua punya tanggung jawab untuk mendidik mereka agar terbiasa meminta izin.

Meminta izin adalah bagian dari adab Islam. Mengambil barang tanpa izin dari pemiliknya, dapat dikategorikan sebagai ghasab.

Ghasab adalah mengambil secara paksa dan terang-terangan baik diambil dari tempat penyimpanannya atau tidak. Sedangkan mencuri adalah mengambil secara sembunyi-sembunyi dari tempat penyimpanannya. Ghasab adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah, meski sanksinya tidak sama dengan mencuri.

Keteladanan dari orangtua juga merupakan poin penting dalam rangka menanamkan adab meminta izin ini kepada anak. Sebab ortu adalah role model bagi anak. Mereka akan berlaku seperti apa yang mereka sering lihat.

Jika anak sering melihat bundanya selalu meminta izin kepada ayahnya sebelum keluar rumah, maka anak pun akan melakukan hal yang sama sebelum keluar rumah. Tidak nyelonong saja tanpa pamit dan mengucapkan salam.

Begitu pun saat anak sering melihat bundanya selalu meminta izin kepada ayahnya saat menemukan uang di saku celana ayahnya saat mencuci, maka anak pun akan memahami bahwa apapun yang bukan milik kita tidak boleh sembarangan mengambilnya.

Semoga kita mampu mencetak generasi emas, berkepribadian Islam yang mampu berkontribusi untuk kebangkitan umat. Aamiin...

Post a Comment

0 Comments