Ajak Anak Melek Politik

Oleh: Kholda Naajiyah

JANGAN bawa agama dalam politik, jangan politisasi agama. Demikian ucapan yang kerap diungkapkan para tokoh-tokoh sekuler. Mulai politikus, pejabat sampai agamawan itu sendiri. Banyak yang anti dengan politik. Menganggap agama sama sekali tidak mengatur politik. Bahkan, bertolak belakang dengan politik.
.
Termasuk para orangtua yang sekuler, yang memisahkan agama dari politik. Tak pernah sedikitpun membincangkan politik dengan anak-anaknya. Bahkan menghindarkan jauh-jauh, karena menganggap anak-anak belum perlu, tidak cocok atau bahkan tidak butuh memahami perpolitikan.
.
Wajar jika anak muda saat ini, bahkan di level mahasiswa sekalipun, banyak yang buta politik. Tidak kritis terhadap situasi yang berkembang. Banyak yang study oriented, sama sekali tak peduli dengan kondisi kekinian. Hidupnya hanya penuh dengan belajar, gaul, have fun dan sejenisnya.
.
Padahal, justru anak harus dipahamkan dengan politik sejak dini. Sebab, seluruh aspek kehidupan mereka, terpenuhinya hak-hak anak, berkembangnya opini di seputar mereka; semuanya adalah aspek politik. Bagaimana bisa anak hidup tanpa kenal politik?
.
Sementara, mau tidak mau, anak-anak pasti terpapar politik, baik langsung maupun tidak langsung. Jika tidak dibimbing orangtua, bisa jadi mereka akan membangun persepsi politik sendiri yang terkadang keliru. Seperti politik itu kotor, hanya rebutan kekuasaan, main curang, dll.
.
Nah, sejak kapan sebaiknya anak diajarkan makna politik dan bagaimana caranya? Tentunya sejak dini sudah bisa dilakukan. Adapun caranya, tips berikut di antaranya:
.
1. Mengenalkan Profesi
.
Pada hakikatnya, mengenalkan anak dengan aneka profesi adalah aspek politik. Misal, mengenalkan istilah guru, ekonom, jurnalis, pemimpin tentara hingga pemimpin negara. Tanyakan cita-cita anak. Jika belum mengerti, pahamkan apa yang dimaksud cita-cita. Jika anak bercita-cita jadi guru misalnya, jelaskan bahwa guru itu sangat mulia karena pekerjaannya mendidik agar generasi cerdas. Menjadi guru yang baik, bagaimana idealnya negara menggerakkan sistem pendidikan, dst.
.
2. Bacakan Kisah-kisah Para Politikus
.
Kenalkan anak pada tokoh-tokoh yang notabene politikus. Baik di masa kini, maupun di masa lalu. Baik di masa peradaban kapitalis, maupun di masa pemerintahan Islam. Sepak terjang politikus islami, bisa menjadi pelajaran bagi anak-anak. Sedangkan sepak terjang tokoh demokrasi, untuk bahan menjeskan kebobrokan sistem yang dianut para tokoh tersebut pada anak.
.
3. Dampingi Mengakses Berita
.
Bisa diajak nonton berita di televisi, atau membacakan koran. Realita atau fakta sebenarnya, jangan ditutup-tutupi. Hal ini penting agar anak paham, bahwa habitat hidup mereka saat ini, tidak sedang baik-baik saja. Jauh dari nilai-nilai ideal. Bahkan dari informasi kekinian, bisa dijelaskan istilah-istilah yang membuat anak waspada. Misal, ada berita tentang penculikan, anak dipahamkan apa itu penculikan, bagaimana mengantisipasinya, dst.
.
4. Beri contoh dan Libatkan Anak
.
Penting bagi orangtua untuk memberi contoh aplikasi politik yang benar. Ajak anak melakukan aktivitas yang berkaitan dengan aspek politik. Misal, jalan-jalan melihat fasilitas publik. Ketika melihat trotoar rusak atau jalan berlubang misalnya, mintakan pendapat mereka. Beri pemahaman bagaimana seharusnya fasilitas tersebut diurus penguasa. Begitu pula ketika ada kegiatan amar makruf pada penguasa, ajak anak membuat posternya. Jika diajak pada hari H, pahamkan sebelumnya maksud dan tujuan dilakukannya aksi. Sementara di sekolah, termasuk aktivitas poltik adalah melibatkan anak dalam pemilihan ketua kelas, menyampaikan aspirasi untuk kemajuan kelasnya, dll. 
.
5. Pembinaan Intensif
.
Seiring bertambahnya usia, anak-anak, terutama menjelang baligh, sudah harus mengikuti kajian intensif. Melek politik hanya bisa mengakar pada diri anak jika dibina dalam pengajian yang bersifat ideologis. Di sanalah pemahaman politik yang utuh sedikit demis edikit akan didapatkan.
.
Demikianlah, anak-anak sudah diajarkan sejak kecil tentang peran politik menggerakkan negara.  Tentunya dengan cara yang tepat, disesuikan dengan usia masing-masing anak.(kholda)

Post a Comment

0 Comments