Aisyah Binti Abu Bakar : Haditsul Ifki dan Berita Kesuciannya melintas Tujuh Lapis Langit

RemajaIslamHebat.Com - Fitnah itu laksana kabut asap di tengah  gulita malam. Menyakitkan mata bagi manusia bernurani jujur yang menyaksikannya. Namun gelapnya malam membuat mereka tak mampu berbuat apa-apa. Kejujuran mata hatilah yang membantu manusia untuk bisa merasakan indikasi benar dan indikasi salah, kemudian bertahan tidak melakukan apa-apa hingga kabut berlalu dan sang surya menampakkan cerahnya alam. Barangkali perumpamaan ini bisa menggambarkan seperti apa kondisi fitnah yang menerpa Aisyah saat itu.

Peristiwa ini masyhur disebut sebagai Haditsul Ifki. Sebuah berita bohong yang dihembuskan oleh tokoh munafik, Abdullah Bin Ubay Bin Salul. Isu yang mengguncangkan kota Madinah dan kenyataannya ada orang-orang beriman yang terpengaruh oleh peristiwa ini.

Bagaimana riwayat mengenai peristiwa ini, dipaparkan secara detil dalam hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah Binti Abu Bakar ra sendiri.

Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud telah mengabarkan hadits Aisyah istri Nabi Saw, ketika beliau berkata kepadanya bahwa para pendusta telah menuduhnya, lalu Allah membebaskannya dari semua tuduhan itu.  Setiap perawi itu memberitahukan kepadaku sebagian haditsnya. Sebagian mereka lebih memahami haditsnya daripada sebagian lainnya dan lebih tepat menceritakan kisah dalam hadits itu.

Sungguh aku telah memahami setiap hadits yang telah mereka beritahukan kepadaku, sebagian hadits mereka membenarkan atas sebagian lainnya, mereka menyebutkan, bahwa Aisyah istri Nabi Saw berkata,

“Apabila Rasulullah Saw hendak keluar dalam suatu perjalanan selalu mengadakan undian di antara para istri beliau dan siapa di antara mereka yang keluar undiannya, maka Rasulullah Saw akan berangkat bersamanya.”
Aisyah berkata, “Lalu Rasulullah Saw mengundi di antara kami untuk menentukan siapa yang akan ikut dalam salah satu peperangan, dan ternyata keluarlah undianku sehingga aku pun berangkat bersama Rasulullah Saw.
Peristiwa itu terjadi setelah diturunkan ayat hijab Al-Ahzab ayat 53, di mana aku dibawa dalam sekedup dan ditempatkan di sana selama perjalanan kami.

Pada suatu malam ketika Rasulullah Saw selesai berperang lalu pulang dan kami telah mendekati Madinah, beliau memberikan aba-aba untuk berangkat.
Aku pun segera bangkit setelah mendengar mereka mengumumkan keberangkatan lalu berjalan sampai jauh meninggalkan pasukan tentara.
Seusai melaksanakan hajat, aku hendak langsung menghampiri unta tungganganku namun saat aku meraba dada, ternyata kalungku yang terbuat dari mutiara zhafar putus. Aku pun kembali untuk mencari kalungku sehingga tertahan karena pencarian itu.

Sementara itu, orang-orang yang bertugas membawaku mereka telah mengangkat sekedup itu dan meletakkannya ke atas punggung untaku yang biasa aku tunggangi karena mereka mengira aku telah berada di dalamnya.”
Aisyah menambahkan, “Kaum wanita pada waktu itu memang bertubuh ringan dan langsing tidak banyak ditutupi daging karena mereka hanya mengkomsumsi makanan dalam jumlah sedikit sehingga orang-orang itu tidak merasakan beratnya sekedup ketika mereka mengangkatnya ke atas unta.

Apalagi ketika itu aku anak perempuan yang masih belia. Mereka pun segera menggerakkan unta itu dan berangkat. Aku baru menemukan kalung itu setelah pasukan tentara berlalu. Kemudian aku mendatangi tempat pemberhentian mereka, namun tak ada seorang pun di sana.

Lalu aku menuju ke tempat yang semula dengan harapan mereka akan merasa kehilangan dan kembali menjemputku. Ketika aku sedang duduk di tempatku rasa kantuk mengalahkanku sehingga aku pun tertidur.
Ternyata ada Shafwan bin Mu’aththal As-Sulami -Az-Dzakwani- yang berhenti dari perjalanan pada akhir malam untuk istirahat karena baru berangkat pada malam hari dan keesokan paginya ia sampai di tempatku.
Dia melihat bayangan hitam seperti seorang yang sedang tidur lalu ia mendatangi dan langsung mengenali ketika melihatku karena ia pernah melihatku sebelum diwajibkannya hijab. Aku terbangun oleh ucapannya, “Inna Lillaahi Wa Inna Ilaihi Raji’uun” pada saat dia mengenaliku.
Aku segera menutupi wajahku dengan kerudung. Dan demi Allah, dia sama sekali tidak mengajakku bicara sepatah kata pun dan aku pun tidak mendengar satu kata pun darinya selain ucapannya, “inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.”
Kemudian ia merendahkan untanya lalu aku menaikinya. Ia berangkat menuntun unta kendaraan yang aku naiki sampai kami datang di Nahri Adh-Dhahirah tempat pasukan turun istirahat. Di sinilah mulai tersiar fitnah tentang diriku. Fitnah ini berumber dari mulut Abdullah bin Ubay bin Salul.

Aisyah ra melanjutkan : Setibanya di Madinah kesehatanku terganggu selama sebulan. Saat itu rupanya orang-orang sudah banyak berdesas-desus berita bohong itu, sementara aku belum mendengar sesuatu mengenainya. Hanya saja aku tidak melihat kelembutan dari Rasulullah saw, yang biasa kurasakan ketika aku sakit. Beliau hanya masuk lalu mengucapkan salam dan bertanya: “Bagaimana keadaanmu?“

Setelah agak sehat aku keluar pada suatu malam bersama Ummu Masthah untuk membuang hajat. Waktu itu kami belum membuat kakus. Di saat kami pulang, tiba-tiba kaki Ummu Masthah terantuk sehingga kesakitan dan terlontar ucapan dari mulutnya: “Celaka si Masthah!“ Ia kutegur: “Alangkah buruknya ucapanmu itu mengenai seorang dari kaum Muhajirin yang turut serta dalam perang Badr?“ Ummu Masthah bertanya :“Apakah anda tidak mendengar apa yang dikatakannya?“ Aisyah ra melanjutkan: Ia kemudian menceritakan kepadaku tentang berita bohong yang tersiar sehingga sakitku bertambah parah … Malam itu aku menangis hingga pagi hari, air mataku terus menetes dan aku tidak dapat tidur.

Kemudian Rasulullah saw mulai meminta pandangan para sahabatnya mengenai masalah ini. Di antara mereka ada yang berkata: “Wahai Rasulullah mereka (para istri Nabi) adalah keluargamu. Kami tidak mengetahui kecuali kebaikan.“ Dan ada pula yang mengatakan: “Engkau tak perlu bersedih, masih banyak wanita (lainnya). Tanyakan hal itu kepada pelayan perempuan (maksudnya Barirah). Ia pasti memberi keterangan yang benar kepada anda!“
Rasulullah saw lalu memanggil pelayan perempuan bernama Barirah, dan bertanya: “Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dari Aisyah?“ Ia mengabarkan kepada Nabi saw, bahwa ia tidak mengetahui Aisyah kecuali sebagai orang yang baik-baik. Kemudian Nabi saw berdiri di atas mimbar dan bersabda:
“Wahai kaum Muslimin! Siapa yang akan membelaku dari seorang lelaki yang telah menyakiti keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui dari keluargaku kecuali yang baik. Sesungguhnya mereka telah menyebutkan seorang lelaki yang aku tidak mengenal lelaki itu kecuali sebagai orang yang baik.“

Sa‘ad bin Muadz lalu berdiri seraya berkata: “Aku yang akan membelamu dari orang itu wahai Rasulullah Saw! Jika dia dari suku Aus, kami siap penggal lehernya. Jika dia dari saudara kami suku Khazraj maka perintahkanlah kami, kami pasti akan melakukannya.“ Maka timbullah keributan di masjid sampai Rasulullah Saw meredakan mereka.

Aisyah ra melanjutkan: “Kemudian Rasulullah Saw datang ke rumahku. Saat itu ayah-ibuku berada di rumah. Ayah-ibuku menyangka bahwa tangisku telah menghancurluluhkan hatiku.

Sejak tersiar berita bohong itu Nabi Saw tidak pernah duduk di sisiku. Selama sebulan beliau tidak mendapatkan wahyu tentang diriku. Aisyah ra berkata: “Ketika duduk Nabi Saw membaca puji syukur ke Hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu bersabda: “Hai Aisyah, aku telah mendengar mengenai apa yang dibicarakan orang tentang dirimu. Jika engkau tidak bersalah maka Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti akan membebaskan dirimu. Jika engkau telah melakukan dosa maka mintalah ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan taubatlah kepada-Nya.“

Seusai Rasulullah Saw mengucapkan ucapan itu, tanpa kurasakan air mataku tambah bercucuran. Kemudian aku katakan kepada ayahku: “Berilah jawaban kepada Rasulullah Saw mengenai diriku“ Ayahku menjawab: “Demi Allah, aku tidak tahu bagaimana harus menjawab.“ Aku katakan pula kepada ibuku: “Berilah jawaban mengenai diriku.“ Dia pun menjawab: “Demi Allah aku tidak tahu bagaimana harus menjawab:“ Lalu aku berkata: “Demi Allah, sesungguhnya kalian telah mendengar hal itu sehingga kalian telah membenarkannya. Jika aku katakan kepada kalian bahwa aku tidak bersalah Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah kalian pasti tidak akan membenarkannya. Jika aku mengakuinya Allah Maha Mengetahui bahwa aku tidak bersalah, pasti kalian akan membenarkan aku. Demi Allah aku tidak menemukan perumpamaan untuk diriku dan kalian kecuali sebagaimana yang dikatakan oleh bapak Nabi Yusuf as :
“Sebaiknya aku bersabar. Kepada Allah sajalah aku mohon pertolongan atas apa yang kalian ceritakan,“ QS Yusuf : 18
Aisyah ra berkata : Kemudian aku pindah dan berbaring di tempat tidurku.

Selanjutnya Aisyah berkata: Demi Allah, Rasulullah Saw belum bergerak dari tempat duduknya, juga belum ada seorang pun dari penghuni rumah yang keluar sehingga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Beliau tampak lemah lunglai seperti biasanya tiap hendak menerima wahyu Ilahi, keringatnya bercucuran karena beratnya wahyu yang diturunkan kepadanya. Aisyah berkata: Kemudian keringat mulai berkurang dari badan Rasulullah Saw lalu beliau tampak tersenyum. Ucapan yang pertama kali terdengar ialah: “Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membebaskan kamu.“ Kemudian ibuku berkata: “Berdirilah (berterimakasihlah) kepadanya.“ Aku jawab :
“Tidak! Demi Allah, aku tidak akan berdiri (berterima kasih) kepadanya (Nabi Saw) dan aku tidak akan memuji kecuali Allah. Karena Dialah yang telah menurunkan pembebasanku.“

Aisyah ra berkata: Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar…. Sampai dengan ayat 21 … „ QS an-Nur : 11-21

Aisyah melanjutkan: Sebelum peristiwa ini ayahku membiayai Masthah karena kekerabatan dan kemiskinannya. Tetapi setelah peristiwa ini ayahku berkata: Demi Allah, saya tidak akan membiayainya lagi karena ucapan yang diucapkan kepada Aisyah. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya :
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). Orang –orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.“ QS An-Nur : 22

Lalu Abu Bakar berkata : Demi Allah, sungguh aku ingin mendapatkan ampunan Allah. Kemudian ia kembali membiayai Masthah.

Kemudian Nabi Saw keluar dan menyampaikan khutbah kepada orang-orang dan membacakan ayat-ayat al-Quran yang telah diturunkan mengenai masalah ini. Selanjutnya Nabi Saw memerintahkan supaya dilakukan hukum hadd (dera) kepada Masthah bin Utsatsah, Hasan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsy karena mereka termasuk orang-orang yang ikut menyebarluaskan desas-desus berita fitnah tersebut.

Demikianlah, peristiwa ini telah menggambarkan kedudukan Aisyah Binti Abu Bakar ra, hingga mendapatkan pembelaan langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dari tujuh lapis langit. Betapa sangat berat penderitaannya saat itu, ketika tak ada yang mampu menjelaskan kebenarannya saat itu (bahkan suaminya yang seorang Rasul Allah yang mulia) melainkan hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja. Maka apa yang bisa dilakukan selain sabar dan tawakkal menyandarkan seluruh urusannya hanya  pada Allah Ta’ala.

Mengenai pelajaran penting yang bisa dipetik hari ini dari kisah Aisyah ra akan disampaikan pada tulisan berikutnya.
(bersambung)

Sumber:

Fb: Lathifah Musa

Post a Comment

0 Comments