Agar Hidup Mulia & Bahagia

RemajaIslamHebat.Com - Sahabat muslimah,,
Siapapun di dunia pasti menginginkan kehidupan yang mulia. Yang indah dan bahagia.

Demi hidup yang mulia dan bahagia, tak jarang manusia menghalalkan berbagai cara untuk meraih kekayaan, jabatan maupun ketenaran. Karena seringkali kita salah memaknai arti ‘hidup mulia’ ataupun ‘hidup bahagia’ dengan menjadikan terpenuhinya materi sebagai indikatornya

Akhir-akhir ini sering kita dengar selebriti Indonesia yang kaya dan tenar tertangkap mengkonsumsi narkoba. Padahal sudah jamak diketahui, mereka yang memakai barang haram tersebut adalah orang yang hidupnya tak bahagia dan penuh problem.
Kematian Chester (Vokalis Linkin Park)  yang diduga kuat bunuh diri bulan lalu juga menjadi bukti bahwa keglamoran dan ketenaran tak bia jadi indikator bahagia.

Bersyukurlah kita, Allah pilih menjadi seorang muslim . Karena muslim sudah memiliki buku panduan dan solusi semua persoalan. Termasuk tips menggapai hidup bahagia dan mulia, sudah Allah ‘bocorkan’ tipsnya di dalam Al-qur’an dan sunnah.

Agar kita memiliki hidup yang mulia, bertaraf tinggi dan bahagia, kita harus memiliki keyakinan mendasar yang melandasi seluruh hidup dan kehidupan.
Keyakinan mendasar itu berupa jawaban yang benar tentang:
1. Apa itu hakikat alam, manusia dan kehidupan?
2. Apa yang ada sebelum dunia dan yang ada sesudah dunia?
3. Apa hubungan antara dunia dengan yang ada sebelum dan sesudah dunia?

Nah, jawaban dari ketiga pertanyaan diatas inilah yang akan menjadi ASAS atau LANDASAN semua perilaku dalam menempuh hidup di dunia.

Dan Alhamdulillah, jawaban dari ketiga pertanyaan inipun sudah ada jawabannya dalam Islam. Kita kupas satu per satu jawabannya ya sahabat muslimah.

Jawaban pertanyaan pertama, bahwa di balik alam, manusia dan kehidupan ada Sang Pencipta (Al-Khâliq). Dialah Yang menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan. Dialah Allah SWT, Zat Yang wâjib al-wujûd (keberadaan-Nya mutlak).

Jika kita perhatikan, alam, manusia dan kehidupan memiliki keterbatasan. Lemah, penuh kekurangan dan membutuhkan yang lain. Ketiga hal ini memiliki ajal atau tempo dimana akan meninggal atau rusak. Maka tak mungkin ada dengan sendirinya, hidup dengan sendirinya tanpa ada Dzat Maha Hebat yang menghidupkannya, memeliharanya dan mengaturnya dengan sempurna.

Alhasil, keberadaan Allah SWT dan ke-Esaan-Nya telah bisa diyakini dan diimani secara pasti secara ‘aqliy disertai dengan bukti-bukti dan dalil pasti. Adapun tentang hakikat Zat-Nya, tidak mungkin bisa dijangkau oleh akal, sebab akal manusia terbatas. Iman atas hakikat Allah SWT berikut nama-nama, sifat-sifat dan sebagainya haruslah didasarkan pada ilmu/informasi dari Allah SWT sendiri di dalam wahyu-Nya.

Mari kita tafakkuri bersama ayat berikut,
Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, air yang Allah turunkan dari langit—lalu dengan air itu Dia menghidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya, penyebaran di bumi itu segala jenis hewan, serta pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, benar-benar merupakan tanda-tanda (keEsaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal (TQS al-Baqarah [2]: 164).

Dengan terjawabnya pertanyaan pertama, maka jawaban kedua dan ketiga mudah untuk kita ketahui. Mari kita renungkan keteraturan semua unsur alam semesta, manusia dan kehidupan ini. Bisa dipastikan keEsaan Allah SWT sebagai Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Pengatur. Sebab, andai Al-Khâliq al-Mudabbir itu berbilang, niscaya rusaklah alam, manusia dan kehidupan. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:

Andai ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah langit dan bumi itu telah rusak binasa. Mahasuci Allah, Zat Yang mempunyai 'Arsy, dari apa saja yang mereka sifatkan (TQS al-Anbiya` [21]: 22).

Dengan pembenaran yang pasti dan ketundukan sepenuhnya pada Allah, maka apapun yang Allah sampaikan melalui sulnya dalam al-qur’an dan as-sunnah akan kita imani sepenuhnya. Meskipun sebenarnya keimanan kepada al-Qur’an bisa diraih melalui iman ‘aqliy.  Yakni dari fakta al-Quran yang berbahasa Arab.

Dalam hal ini hanya ada tiga kemungkinan: (1) Al-Quran itu karangan bangsa Arab;
(2) Al-Quran itu karya Muhammad saw.;
(3) Al-Quran itu merupakan kalamullah.

Kemungkinan pertama tentu batil. Pasalnya, Allah SWT sendiri telah menantang semua orang Arab untuk membuat yang semisal al-Quran (QS al-Baqarah [2]: 23 dan Hud [11]: 13). Sudah terbukti secara pasti bahwa seluruh orang Arab tidak mampu menjawab tantangan itu. Jadi, mustahil al-Quran merupakan karangan bangsa Arab.

Kemungkinan kedua juga batil. Pasalnya, Muhammad adalah bagian dari bangsa Arab. Jika seluruh orang Arab tidak mampu membuat semisal al-Qur'an, apalagi hanya seorang Muhammad. Tentu lebih mustahil lagi al-Quran dikarang Oleh orang non-Arab.

Alhasil, kemungkinan ketigalah yang benar, yakni bahwa al-Qur'an merupakan Kalamullah dan menjadi mukjizat bagi orang yang membawanya. Muhammadlah yang membawa al-Quran yang merupakan Kalamullah dan Syariah-Nya itu, sementara tidak ada yang membawa Syariah Allah SWT kecuali para Nabi dan Rosul. Karena itu bisa dipastikan bahwa beliau adalah seorang Nabi dan Rosul-Nya.

Kesimpulan:

Dengan demikian Iman kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta, al-Quran sebagai Kalamullah, serta Muhammad saw sebagai Nabi dan Rosul-Nya telah bisa dibangun secara ‘aqliy dan naqliy. Hal itu menjadi pilar tegaknya keImanan kepada semua hal yang gaib. Pada apa saja yang diberitahukan oleh Allah SWT dalam al-Quran. Baik yang bisa dijangkau akal ataupun tidak. Dari sini berarti kita wajib mengimani Hari Kebangkitan (Hari Kiamat), surga, neraka, hisab, azab, para malaikat, jin, setan dan lainnya yang telah diinformasikan secara pasti (qath’i) oleh al-Quran atau hadis-hadis mutawatir.

Berdasarkan hal itu, kita wajib mengimani apa yang ada sebelum kehidupan dunia. Itulah Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Kita pun wajib mengimani apa yang ada sesudah kehidupan dunia. Itulah alam akhirat sebagai tempat kembali manusia kepada Sang Pencipta (Allah SWT).

Konsekuensinya, kita pun wajib mengimani sekaligus melaksanakan seluruh ketentuan Allah SWT, yakni Syariah-Nya, yang faktanya Dia turunkan untuk mengatur kehidupan manusia di muka bumi ini.

Artinya, manusia wajib menjalani kehidupan dunia sesuai dengan aturan Allah, sesuai Syariah-Nya. Dalam segala tindak tanduknya dan dalam segala pengaturan kehidupan individu, keluarga dan masyarakat dalam segala aspeknya.  Tentu manusia akan dihisab dan dimintai pertanggungjawaban pada Hari Kiamat atas semua itu, yang akan menentukan apakah dia akan menempati surga dengan segala kenikmatannya atau dijebloskan ke dalam neraka dengan segala azabnya yang amat pedih.

Sahabat muslimah, dengan iman yang shahih atau tauhid inilah manusia akan meraih kebahgiaan hakiki dalam hidupnya. Dengan ketaatan sepenuhnya, kehidupan manusia akan menjadi mulia, bahkan sangat tinggi kemuliaannya dan akan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []

Sumber:

Fp: Info Muslimah Jember

Post a Comment

0 Comments