AGAR ANAK TAK MENJADI KORBAN, JUGA TAK MENJADI PELAKU BULLYING

Oleh : Amalia Sinta

YANG merasa kuat, membully yang lemah.

Yang berkelompok, membully yang sendirian.

Yang berkebutuhan khusus harusnya dilindungi, malah dibully dan ditertawakan.

Sedih tak terkira menyaksikan video bullying anak SMP dan mahasiswa itu. Dalam waktu berdekatan, dua berita ini menyentak kita semua.

Kenapa bisa terjadi?

Rasanya para pelaku bullying itu tidak mungkin tiba-tiba berperilaku begitu jika mereka tak pernah melihat / merasakan perlakuan kasar di rumahnya sendiri.

Rumusnya selalu sama.

Hal buruk sekalipun, jika dilihat atau dirasakan setiap hari, akan terasa wajar dan boleh dilakukan.

Mungkin kita gak sadar ya, bisa saja beberapa hal ini kita lakukan, yang ternyata memicu anak jadi pelaku bullying nantinya :

Memarahi anak dengan berlebihan, membentak terlalu keras untuk kesalahan kecil, itu bullying.

Mencubit, memukul, menjambak anak itu bullying.

Bertengkar hingga menampar pasangan, melempar barang pecah belah itu bullying.

Menyuruh dengan teriakan kasar ke asisten rumah tangga itu bullying.

Hati-hati pula dengan masalah sibling rivalry yang belum diselesaikan. Si kakak yang menyimpan rasa tidak suka, bisa menjadi pelaku bullying pada adik kecilnya.

Jika hanya bertengkar berebut mainan itu wajar, tapi jika sampai Sengaja melukai secara fisik, itu sudah tidak wajar.

Harus segera ditangani. Saya pernah menulis tentang sibling rivalry. Jika ingin membaca, bisa klik link ini :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209286949362002&id=1570403700

Selain itu, sangat perlu mengawasi jenis tontonan anak. Film kartun banyak sekali yang mengajarkan kekerasan. Begitu juga games di hape. Jadi kita yang pilihkan ya Mak. Tonton bersama, mainkan bersama. Jangan sampai anak meniru perilaku agresif dari tontonan itu.

♧♧♧

Anak yang di rumahnya sendiri menjadi korban bullying orangtuanya, sangat berpotensi menjadi pelaku bullying di sekolah, saat membentuk geng dengan teman yang dirasa kuat.

Dia memendam amarah dan dendam, ingin memperlakukan orang lain seperti itu juga.

Atau bisa juga dia tetap menjadi korban bullying, disakiti oleh teman sekolahnya. Karena dia tumbuh jadi anak yang lemah, tidak percaya diri dan tidak bisa menyuarakan pendapatnya.

Saya benar-benar prihatin dengan perilaku bullying ini. Karena efeknya sangat buruk, tidak hanya melukai secara fisik, tapi yang lebih berbahaya adalah tekanan psikologis hingga depresi, bahkan lebih parah lagi, banyak yang bunuh diri.

Saya kutip dari liputan6(dot)com,
Menteri Sosial menyatakan 40% anak Indonesia meninggal karena bunuh diri akibat tak kuat menahan bully.

Jadi bullying bener-bener masalah serius yang harus segera kita tangani bersama.

Saya coba merumuskan cara untuk memutus bullying :

1. Mengontrol emosi kita sebagai orangtua

Emosi mudah meningkat saat stress. Pemicu stress bisa karena masalah dengan pasangan, karena terlalu lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga, atau karena sebab lainnya.

Cari solusi berdasarkan masalahnya. Diskusikan yang mengganjal di hati dengan pasangan. Bila tak mampu berunding sendiri, bisa minta bantuan orangtua/mertua/saudara yang dinilai bijak, solutif dan bisa menyimpan rahasia.

Jika gagal, konsultasilah ke psikolog pernikahan. Jangan sampai karena kesal pada pasangan, anak jadi korban pelampiasan.

Dan soal kelelahan, bila terasa tak sempat atau tenaga gak cukup, jangan ragu mendelegasikan urusan rumah tangga, gak semua harus diselesaikan sendiri. Pakailah jasa asisten, londry, warung makan, dll.

Kelelahan fisik bikin kita mudah sekali emosi. Anak salah dikit, langsung dibentak berlebihan.

Bukankah tugas utama kita adalah mendidik anak, bukan selalu mengurus cucian?

2. Memberi kesempatan bagi anak untuk menyuarakan pendapatnya

Anak saya sedang di fase ngeyel. Ampun deh rasanya, segala dibantah.

Stress ngadepinnya? Iya.

Saya coba baca referensi sana sini. Ternyata punya anak keras kepala itu bagus, dia bisa mempertahankan pendapatnya, berbakat jadi pemimpin dan tentu tidak mudah jadi korban bullying. Tapi PR nya adalah mengarahkan mereka berpendapat dengan cara yang benar, tidak asal ngeyel tanpa alasan logis.

Jika orangtua selalu memaksa anak menurut semua kata-katanya, tanpa memberikan penjelasan logis dan kesempatan anak mengungkapkan pendapat, maka kemampuan anak berkata TIDAK akan tumpul.

Sayangnya, tipe anak begini sangat mudah jadi korban bullying di sekolah. Nurut ajah tanpa tau kenapa. Contoh nyata seperti : nurut disuruh makan di rumput oleh kakak pembina pramuka, nurut ajah segala barang dan uang dirampas temannya, dll.

Oya soal menghadapi anak keras kepala, selangkapnya pernah saya tulis di sini :

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10209882523290978&id=1570403700

3. Mengajarkan anak cara menghadapi pelaku bullying

Ajarkan anak mengungkapkan ketidaksukaannya jika disakiti secara verbal atau fisik. Buat simulasi di rumah, seolah sedang menghadapi si pembully, agar anak bisa melatih ucapan dan tindakan yang perlu ia lakukan.

Saya melatih Tera dengan beberapa kali membuat simulasinya. Ujian praktek terjadi saat bermain di playground, ada anak lelaki bertubuh besar yang mendorong keras Tera sampai jatuh. Dia bangun dan bilang "jangan dorong aku, aku gak suka didorong!"

Saya hanya mengamati, tidak turun tangan. Sengaja memberi kesempatan Tera untuk menghadapi situasi gak enak itu.

Lalu apa perlu mengajari anak membalas?

Ada rambu-rambu yang saya ajarkan ke Tera :

- kalau teman Gak Sengaja, gak perlu dibalas. Misal terdorong jatuh karena teman sedang lari-lari sendiri. Ajari anak untuk memaafkan, tidak perlu marah.

- kalau teman Sengaja memukul, reaksi pertama adalah ucapkan : "jangan pukul aku, tidak boleh pukul aku!"

- kalau teman mengulangi lagi, lari menjauh dan cari bantuan orang besar (guru/penjaga playground)

- kalau gak ketemu bantuan, boleh membalas secukupnya. Tidak berlebihan juga, misal dipukul sekali, ya balas sekali. Bukan berkali-kali.

Anak perlu diajari menunjukkan bahwa dia juga berani dan kuat. Agar pelaku tidak seenaknya terus menyakiti secara fisik. Karena pelaku akan terus mengulangi jika merasa korbannya lemah dan tidak bisa melawan.

♧♧♧

Dari rumah, pelaku bullying dapat terbentuk. Karena anak adalah mesin fotocopy tercanggih di dunia, kita memang harus mampu mengelola emosi. Jangan sampai anak meniru perilaku agresif orang tuanya.

Namun sebaliknya, ketika kita sudah penuh kelembutan dalam memperlakukan anak, anak perlu juga diajari ketegasan sikap untuk menghadapi situasi bullying di luar rumah.

Karena kita gak bisa selalu melindungi anak setiap saat. Bekali dia dengan kemampuan menghadapi bullying sendiri. Akan lebih baik jika ikut semacam kursus bela diri.

Mari kita siapkan anak menghadapi kerasnya dunia
Dengan tetap memiliki kelembutan dalam hatinya
Agar jangan sampai ia jadi pelaku
Namun juga tidak menjadi korban..[]

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments